Dua astronot kembali dari penerbangan terlama di angkasa luar

ISS
Keterangan gambar, Misi setahun di antariksa dimaksudkan untuk menyelidiki pengaruhnya pada tubuh.
Waktu membaca: 2 menit

Astronot Amerika Serikat Scott Kelly dan kosmonot Rusia Mikhail Kornienko kembali ke bumi setelah hampir setahun menghabiskan waktu di luar angkasa.

Mereka merupakan bagian dari upaya untuk mempelajari dampak masa tinggal yang lama di luar angkasa terhadap tubuh.

Lebih jauh lagi, para saintis akan membandingkan Scott Kelly dengan sauadara kembar identiknya, Mark, yang berada di bumi selama ini.

kelly_the_twin_astronaut

Sumber gambar, NASA

Keterangan gambar, Astronot Scott Kelly akan dibandingkan dengan Mark Kelly, saudara kembar identiknya.

Gagasan membandingan kakak beradik kembar itu adalah untuk mempelajari bagaimana individu yang identik secara genetik merespons keadaan yang berbeda selama setahun.

Lingkungan di pesawat ruang angkasa berdampak antara lain otot melemah, tulang mengeropos, daya lihat menurun, tidur bermasalah dan juga terpapar radiasi. Namun yang sangat berat dampaknya juga adalah pada benak dan daya pikir.

"Secara fisik saya merasa cukup bugar... tetapi yang paling berat adalah terisolasi secara fisik dari orang-orang yang berarti bagi kita, yang berada di bumi," kata Kelly.

Hingga pendaratan kembai ke bumi Rabu 2 Maret ini, Scott Kelly dan Kornienko menghabiskan waktu 340 hari di luar angkasa.

kelly kornienko

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Scott Kelly dan Mikhail Kornienko mencatat rekor masa tinggal terlama di antariksa.

Mereka meluncur dari Baikonur, Kazakhstan ke antariksa pada Sabtu, 28 Maret 2015.

Biji tumbuhan

Misi ini merupakan rekor di Stasiun Ruang Angkasa Internasional (International Space Station ISS), dan membuat Kelly memiliki catatan seluruhnya 520 hari berada di luar angkasa melalui empat kali penerbangan.

Kelly juga akan membawa biji-biji tumbuhan yang dibawa ke ruang angkasa oleh astronot Inggris Tim Peake, Desember lalu. Benih-benih itu akan dibagikan kepada para siswa sekolah untuk membandingkan pertumbuhannya dengan tumbuhan sejenis di bumi.

Mereka resmi meluncur dari Baikonur, Kazakhstan ke antariksa pada hari Sabtu (28/03).

Badan antariksa mengatakan data yang berhasil didapatkan akan sangat berharga untuk melancarkan misi ke Mars.

Pengetahuan tentang bagaimana mengurangi beberapa efek buruk dari tinggal di daerah dengan nol gravitasi berkembang seiring dengan waktu.

Selama di ruang angkasa, para astronot mendapat nutrisi dan olah raga teratur untuk mencegah keroposnya tulang sebagaimana yang dialami para astronot sebelumnya.