Pound sterling melemah terkait referendum Uni Eropa

Sumber gambar, PA
Nilai mata uang Inggris, pound sterling, atas dolar AS mencapai yang terendah dalam waktu tujuh tahun belakangan terkait referendum tentang Uni Eropa.
Referendum untuk memastikan kelanjutan keanggotaan Inggris di Uni Eropa <link type="page"><caption> sudah ditetapkan pada tanggal 23 Juni mendatang. </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160221_dunia_inggris_referendum_ue" platform="highweb"/></link>
Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengatakan pekan lalu sudah dicapai kesepakatan dengan para pemimpin Uni Eropa tentang reformasi dalam keanggotaan Inggris di masa dean.
Kesepakatan itu, tambah Cameron, akan memperkuat kedaulatan Inggris, yang akan lebih 'aman dan kuat' jika tetap bergabung dengan Uni Eropa.
Bagaimanapun beberapa politisi Partai Konservatif pimpinannya -antara lain Menteri Kehakiman, Michael Gove, dan wali kota London, <link type="page"><caption> Boris Johnson- mengumumkan akan bergabung dengan kampanye yang memperjuangkan Inggris ke luar</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160221_dunia_unieropa_borisjohnson" platform="highweb"/></link> dari Uni Eropa.
Dalam perdagangan Senin 22 Februari, nilai pound sterling terhadap dolar AS turun 2,3% menjadi US$1.4067 untuk £1, yang merupakan penurunan terbesar dalam satu hari sejak Februari 2009 lalu.
"Implikasi terbesar dari dikukuhkannya keputusan Inggris akan menggelar referendum tentang keanggotaanya di Uni Eropa pada Juni jelas terasa dalam pasar uang hari ini, dengan pound sterling dijual lebih cukup rendah," jelas Matthew Beesley dari Henderson Global Investors kepada kantor berita Reuters.





