Seorang anak perempuan yang menolak perkawinan

Balkissa Chaibou
Keterangan gambar, Balkissa Chaibou sempat diancam akan dibunuh karena menolak untuk kawin pada usia muda.
    • Penulis, Sarah Buckley
    • Peranan, BBC News

Balkissa Chaibou bermimpi menjadi seorang dokter, tetapi ketika berusia 12 tahun dia terkejut dia akan dinikahkan dengan sepupunya. Dia memutuskan untuk menuntut haknya meski itu artinya menggugat keluarganya sendiri ke pengadilan.

"Saya tiba dari sekolah sekitar 18.00, dan ibu memanggil saya," kata Balkissa Chaibou.

"Dia menunjuk ke sekelompok tamu dan mengatakan salah satu dari mereka, 'Dia akan yang akan menikah dengan kamu."

"Saya pikir dia tengah bercanda. Dan dia mengatakan kepada saya, 'Cepat lepaskan tali dan cuci rambut kamu.' Saat itu saya menyadari ibu berkata serius."

Tapi anak perempuan ini memiliki banyak ambisi.

"Ketika saya masih kecil, saya bermimpi untuk menjadi seorang dokter. Merawat orang, memakai jubah putih. Membantu orang," kata dia.

Menikah dengan sepupu yang datang dari Nigeria bersama ayahnya jelas akan menghambat cita-citanya.

"Mereka mengatakan jika kamu menikah dengan dia, kamu tidak dapat melanjutkan sekolah lagi. Padahal keinginan terbesar saya adalah sekolah. Saya sangat suka belajar. Kemudian saya menyadari bahwa hubungan saya dengan dia tidak akan berjalan dengan baik."

Risiko kehamilan di luar nikah

Tradisi perkawinan anak di Niger yang tertinggi di dunia dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kemiskinan.

Kemiskinan
Keterangan gambar, Kemiskinan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perkawinan anak.

"Biasanya seperti ini: Saya memiliki banyak anak, dan jika saya dapat menikahkan salah satu dari mereka maka anak yang saya harus beri makan akan berkurang," jelas Monique Clesca, perwakilan badan PBB untuk kependudukan di Niger.

Orangtua Balkissa Chaibou memiliki lima anak perempuan, jadi dari perspektif mereka menikahkan dia dengan sepupunya adalah masuk akal secara ekonomi.

Tetapi alasan lain dari tradisi perkawinan anak di Niger adalah kepercayaan untuk mengurangi risiko kehamilan di luar pernikahan.

"Saat ini anak-anak tidak pandai membawa diri," kata Hadiza Almahamoud, ibu Chaibou. "Jika mereka tidak menikah pada usia dini, mereka dapat membuat malu keluarga."

Keluarga tak berdaya

Chaibou bekerja keras untuk melanjutkan penddidikannya, bangun pada pukul 03:00 untuk belajar, tetapi rencana perkawinan dengan sepupunya menganggu kegiatan belajarnya.

Balkissa Chaibou
Keterangan gambar, Balkissa Chaibou menjadi pegiat menentang perkawinan anak di Niger.

Kemudian pada suatu hari ketika dia berusia 16 tahun, hadiah perkawinan, koper, dan sebuah gaun pengantin tiba.

"Di dalam hati saya merasa sakit, saya benar-benar kecewa," kata Chaibou. "Karena saya melihat bahwa saya berjuang untuk saya sendiri, dan orang-orang ini akan menjadi rintangan bagi perubahan saya."

Dia memberanikan diri untuk berupaya agar tidak menikah setelah lulus SMP. "Saya mengatakan kepada diri saya bahwa saya dapat berupaya untuk menarik diri saya, dan melihat bagaimana saya dapat keluar dari situasi ini."

Ibunya memahami keberatannya terhadap perkawinan ini tetapi, sebagai seorang perempuan, dia tidak memiliki kekuatan untuk membantunya.

Kemudian Chaibou mendekati ayahnya, mengusulkan bahwa dia dapat menikah tetapi hanya bertemu dengan suaminya pada saat liburan sampai dia lulus sekolah.

Namun dalam tradisi etnis Touareg seorang kakak laki-laki memiliki kekuatan yang lebih besar terhadap anak-anak adik laki-lakinya.

Karena paman Chaibou -ayah dari tunangannya- lebih tua, maka ayahnya tidak berani untuk menentang permintaannya dan persiapan perkawinan pun berlanjut.

Bantuan kepala sekolah

Dalam keputusasaan Chaibou meminta bantuan kepada kepada sekolahnya, Moumouni Harouna.

Dia mengarahkan Chaibou kepada organisasi nonpemerintah, Pusat Bantuan Hukum dan Aksi Sipil, yang kemudian mengambil langkah hukum melawan ayahnya dan pamannya yang memaksanya untuk menjalani perkawinan yang dia tidak inginkan.

Ketika di pengadilan, paman Chaibou membantah tuduhan dan mengatakan adanya kesalahpahaman, jadi kasus itupun dibatalkan.

Niger
Keterangan gambar, Kepala sekolah Balkissa Chaibou yang kemudian meminta bantuan sebuah LSM.

Tetapi ketika Chaibou pulang ke rumah, pamannya mengancam akan membunuh dia.

Dia mengatakan bahwa meskipun meskipun jika dia harus mengikat saya di dalam kantung jenazah, saya akan tetap pergi (ke Nigeria)," kata Chaibou.

Maka terpaksalah dia mengungsi ke tempat penampungan perempuan.

"Di malam pertama saya di sini, saya tidak dapat tidur," kata dia. "Saya terlalu memikirkan orangtua saya, mengenai situasi di sana, terutama menghadapi kemarahan paman saya. Saya yakin dia akan menghina dan mengancam mereka, jadi saya tidak berpikir jernih."

Tetapi pesta pernikahan pun dibatalkan dan mereka kembali ke Nigeria dan setelah satu minggu Chaibou akhira bisa pulang lagi ke rumah.

Memenangkan kebebasan

"Ketika saya memakai seragam... saya merasa ada yang baru dalam hidup saya. Seperti awal yang baru," tuturnya menggambarkan hari pertama kuliahnya.

Ibunya mengatakan pandangan dia dan suaminya mengenai perkawinan paksa telah berubah.

"Kami mengakhirinya di keluarga ini. Kami sangat takut. Jika anak-anak bertambah usia dia dapat memilih suami. Kami tidak dapat melakukannya."

Mariama Moussa -pemimpin tempat penampungan Chaibou mengungsi- mengatakan kekerasan domestik merupakan masalah yang serius di Niger dan perkawinan anak merupakan salah satu penyebabnya.

Balkissa Chaibou
Keterangan gambar, Cita-cita Balkissa Chaibou menjadi doket semakin dekat.

"Ketika Anda memaksa mereka, sebagai sebuah suksesi kekerasan yang dialami mereka di rumah."

"Terjadi kekerasan fisik, kekerasan psikologis... ketika suami tidak dapat mentoleransi dia lagi, maka dia dapat memukulnya, atau mengusirnya, meski dalam kondisi hamil," tambah Moussa

Chaibou paham bahwa dia telah memenangkan kebebasan yang penting bagi bagi kesuksesannya dalam menjalani studi dan membayar pengorbanan keluarganya.

"Saya mengetahui harapan keluarga saya ada di pundak saya. Setiap orang mengandalkan saya. Setiap orang melihat saya."

Kampanye mengatakan 'tidak'

Saat ini Chaibou berusia 19 tahun, dia berkampanye untuk anak-anak perempuan lain untuk mengikutinya dan mengatakan 'tidak' untuk perkawinan paksa. Dia mengunjungi sekolah-sekolah dan berbicara kepada kepala adat mengenai isu tersebut.

Dia juga telah berbicara dalam pertemuan PBB untuk mengurangi kematian pada saat melahirkan, sebuah fenomena yang berkaitan dengan perkawinan anak.

"Sebelum (usia) 15 tahun, tubuh tidak siap untuk memiliki anak. Sekitar 34% kematian anak remaja di Niger terjadi saat melahirkan."

"Dan betul kami telah melihat efek berlipat ganda. Seorang anak perempuan mengataka tidak dan yang lainnya berkumpul di sekelilingnya (mengatakan) 'Apa yang kamu lakukan? Maksud saya, mengapa kamu mengatakan tidak?"

Kini langkah Balkissa Chaibou untuk menjadi dokter semakin dekat karena sudah lulus sarjana muda dan saat ini kuliah di sekolah medis.

"Saya tidak mengatakan tidak menikah," kata dia kepada sekelompok anak-anak.

"Tetapi pilih saat yang tepat untuk melakukannya. Saya sarankan agar kamu berjuang, belajar sesuai kemampuan Anda. Saya mengetahui belajar tidak mudah tetapi kamu harus memaksa diri kamu sendiri karena belajar merupakan satu-satunya harapanmu."