#TrenSosial: "Tidak layakkah aku dipanggil ibu?"

Sumber gambar, TWITTER
Sebuah unggahan Facebook yang merespons kicauan Felix Siauw menuai perdebatan online tentang definisi ibu yang ideal di dunia modern.
"Tak layakkah aku dipanggil ibu?" tanya pengguna Facebook Fitra Wilis, pada Senin (04/01) lalu.
Dalam unggahannya, Fitra menanggapi kutipan Twitter Felix Siauw yang diunggah Mei 2013 lalu, yang mengatakan, "bila wanita habiskan untuk anaknya tiga jam sedangkan kantor delapan jam, lebih layak disebut ibu ataukah karyawan? :D."
Kicauan Felix itu adalah satu dari <link type="page"><caption> serangkaian tweet</caption><url href="https://twitter.com/search?q=from%3Afelixsiauw%20since%3A2013-05-28%20until%3A2013-05-29&src=typd&lang=en" platform="highweb"/></link> yang isinya menganggap bahwa seorang perempuan bisa dikatakan sebagai ibu jika dia mendedikasikan lebih banyak waktu untuk anaknya. "Kita adalah apa yang kita lakukan paling banyak dalam keseharian kita," ujarnya dalam kicauan yang lain.

Sumber gambar, TWITTER
Fitra Wilis, perempuan bekerja yang memiliki empat anak, lantas mempertanyakan. "Bagaimana dengan mengandung mereka sembilan bulan, empat kali melahirkan menyabung jiwa dalam kesakitan tiada tara? Tak layakkah aku dipanggil ibu?"
Walau bekerja, Fitra mengatakan selalu memprioritaskan anak-anaknya di atas prioritas sendiri, dan di akhir <link type="page"><caption> unggahan yang kini telah dibagikan lebih dari 10.000 kali</caption><url href="https://www.facebook.com/photo.php?fbid=953099238059150&set=a.745662852136124.1073741827.100000772480078&type=3&theater" platform="highweb"/></link> itu, dia mengatakan, "jangan lukai keikhlasan hatiku untuk menjadi perempuan bekerja ini meski hanya dengan segaris kalimat candaan. Aku karyawan, tapi aku tetap layak disebut ibu."
Tidak dijelaskan mengapa kicauan Felix pada 2013 lalu ini ditanggapi kembali oleh Fitra pada 2016, namun persoalan terkait peran ganda perempuan memang terus menjadi bahan diskusi di berbagai forum, terlebih di tengah tuntutan ekonomi yang semakin tinggi di perkotaan.
'Baperan'
Unggahan viral Fitra mendapat reaksi yang beragam. Sebagian setuju dengan mengatakan bahwa kedekatan ibu dan anak tidak bisa diukur dengan durasi waktu, melainkan dari kualitas kebersamaan. Sebagian lagi lantas bertanya balik terkait peran ayah, "Jadi, Felix ini ayah atau karyawan?"
Beberapa situs online kemudian mengangkat isu ini dan menuai reaksi yang lebih luas, termasuk dari Felix Siauw sendiri.
"Zaman sekarang banyak yang<italic> baperan</italic> (akronim di kalangan anak muda untuk istilah bawa perasaan, sebutan untuk orang yang terlalu sensitif), mengungkit-ngungkit masa lalu dan nggak bisa <italic>move-on</italic>, karena itu biar kekinian saya juga ikut mengungkit masa lalu, ini rangkaian twit yang saya repost dua tahun lalu, semoga ada manfaatnya," tulis Felix <link type="page"><caption> dalam Facebook, Sabtu (09/01).</caption><url href="https://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw/posts/10153752063111351:0" platform="highweb"/></link>
Felix mengatakan secara prinsip, Islam tidak melarang ibu bekerja, namun "menjadi ibu dan pengelola rumah tangga adalah kewajiban."
"Sah-sah saja wanita memilih bekerja, namun beres juga kewajibannya, tentu bila dia lebih memilih yang wajib, itu yang utama, yang kita bahas di sini adalah, mereka yang memiliki pilihan, apakah ingin mengutamakan waktu terbanyaknya untuk keluarganya, ataukah yang lain selain itu."

Sumber gambar, thinkstock
Unggahan ini telah dibagikan lebih dari 9.000 kali dan sejumlah pengguna, kebanyakan perempuan, ikut mengkritisi. Seorang pengguna dengan nama Ima Ilmayatie meminta Felix tak hanya 'mengedukasi ibu-ibu, tetapi juga bapak-bapak'. "Bahwa seorang ibu akan dengan senang hati dan bahagia jika mendapat jaminan penuh dari suaminya untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik."
Lainnya mempertanyakan mengapa ibu rumah tangga sering menyudutkan ibu yang bekerja?
Seorang pengguna bernama Yunimar Irawan meminta perdebatan ini tidak perlu dilanjutkan karena bisa memancing kemarahan antar sesama perempuan. "Cobalah dipikir kan lagi akibat apa yang Anda tulis, saya ibu rumah tangga full time, saya tidak pernah merasa mulia dibandingkan ibu-ibu karir."










