Menceritakan pengalaman menjadi perempuan

Penulis Rain Chudori dengan buku kumpulan cerpennya "Monsoon Tiger and Other Stories" yang baru diterbitkan.
Keterangan gambar, Penulis Rain Chudori dengan buku kumpulan cerpennya "Monsoon Tiger and Other Stories" yang baru diterbitkan.
    • Penulis, Isyana Artharini
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Buku kumpulan cerpen ‘Monsoon Tiger and Other Stories’ karya penulis muda Rain Chudori yang baru diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia dianggap unik, karena sepenuhnya ditulis dalam bahasa Inggris. Langkah ini diklaim bisa mendukung sastra Indonesia untuk lebih dikenal dunia setelah Frankfurt Book Fair.

Aktris Dian Sastrowardoyo dan Tara Basro menjadi dua dari tujuh perempuan seniman, penulis, dan aktris yang tampil membacakan karya dari penulis muda Rain Chudori untuk memeriahkan peluncuran buku kumpulan cerpennya berjudul 'Monsoon Tiger and Other Stories', Sabtu (19/12) lalu.

Galeri Dia.Lo.Gue di Kemang yang menjadi tempat acara penuh dengan sekitar 200an orang dari berbagai kelompok usia.

Buku berisi delapan cerita pendek yang diluncurkan hari itu sepenuhnya ditulis menggunakan bahasa Inggris dan merupakan kumpulan karya Rain yang pernah terbit di koran nasional sejak dia berusia 14 sampai sekarang dia berusia 21 tahun.

Tema-tema yang diangkat dalam karya Rain cukup dewasa untuk usianya, seperti pernikahan yang hancur atau menantikan kehadiran ayah. Kesepian, kesendirian, dan keinginan bersama seseorang, baik itu orangtua, teman, atau kekasih, banyak muncul dalam karya cerita pendek Rain.

Jika banyak karya anak muda identik dengan pencarian cinta, maka Rain sudah di tahap sadar bahwa cinta kadang justru jadi faktor terakhir yang menyatukan dua individu.

Kekecewaan muncul secara konstan dalam pengalaman karakter-karakter di cerita pendeknya, terutama saat mereka menyadari hancurnya dunia, harapan, atau bahkan rumah tinggal mereka.

Buku berisi delapan cerita pendek ini pernah diterbitkan di koran nasional sejak Rain berusia 14 sampai 21 tahun.
Keterangan gambar, Buku berisi delapan cerita pendek ini pernah diterbitkan di koran nasional sejak Rain berusia 14 sampai 21 tahun.

Cerita-cerita ini, menurut Rain, dibangun dari pengalaman pribadinya.

“Banyak banget pengalaman pribadi yang jadi inspirasi aku. Itu aku kembangin lagi jadi fiksi, nama-namanya aku ganti. Karakternya campuran dari tiga, empat orang berbeda. Yang nyata itu emosinya, rasa cinta. Heartbreak bukan cuma sama kekasih, tapi ke orang tua, teman-teman, keluarga. Malah jauh lebih menyakitkan berantem sama temen, daripada sama pacar,” kata Rain.

Salah satu contohnya, cerita The Dollhouse, membalikkan peran ibu dan anak. Si anak perempuan dalam cerita tersebut justru harus sepenuhnya merawat dan memberi dukungan emosi buat ibunya saat sosok ayah atau suami tak hadir, dan bukan sebaliknya.

Cerita lain, The Sandcastle, yang sejak awal sampai tiga perempat bagiannya berkisah tentang hubungan si karakter perempuan muda yang terobsesi dengan seorang pelukis yang jauh lebih tua, namun di seperempat terakhir malah justru lebih tentang si istri pelukis.

Bahwa sepanjang cerita, pembaca seolah dikelabui tentang apa sebenarnya tema sentral dalam cerita pendek tersebut. Bukan perselingkuhan atau percintaan dengan si pelukis tua, namun ikatan kuat yang dijalin si perempuan muda narator dengan istri pelukis.

Pembacaan cerita pendek dari buku kumpulan cerpen "Monsoon Tiger and Other Stories".
Keterangan gambar, Pembacaan cerita pendek dari buku kumpulan cerpen "Monsoon Tiger and Other Stories".

Soal ini, editor dan penulis Maggie Tiojakin melihat ada kematangan pada karya Rain yang jauh melebihi usianya. “Keunikannya dia tak lepas dari usianya. Yang bikin karyanya dia luar biasa adalah dia bisa mewakili generasi yang jauh di atas dia. Dan itu sesuatu yang biasanya perlu dipelajari dulu, atau perlu observasi dulu yang lama untuk mengetahui rasanya kesepian, untuk mengetahui rasanya perpisahan. Hal-hal semacam itu 'kan perlu pembelajaran, lewat karya sastra atau lewat pengalaman pribadi. Tapi yang jelas butuh observasi dari orang yang biasanya jauh di atas dia (usianya),” kata Maggie. Kematangan ini, menurut Maggie, tak lepas dari peran ibu Rain, wartawan dan penulis Leila S Chudori yang sejak Rain kecil memperkenalkannya pada karya sastra yang baik. Dalam penilaian Maggie, faktor ini sangat mempengaruhi matangnya karya yang dihasilkan oleh Rain. “Support itu penting sekali. Orang selalu bilang menulis itu soal bakat, banyak membaca itu benar. Tapi siapa yang menyulut apinya? Kadang kita dapat dari teman, kadang motivasi sendiri, aku rasa kalau Rain ini dapat inspirasi dari ibunya, dari berbagi pendapat tentang karya dengan ibunya,” kata Maggie.

Namun bukan berarti penulis muda lainnya tak bisa menghasilkan karya serupa. “Misalnya di keluarga saya, saya harus menyulutnya sendiri. Kalau lebih banyak keluarga kayak gitu, mungkin lebih banyak ya penulis Indonesia,” kata Maggie.

Rain tak ingin kemampuannya berkarya di usia muda membuat dia terkesan eksklusif. Justru dia ingin ada banyak penulis perempuan lain. “Aku pingin banget misalnya kalau ada anak perempuan muda yang lihat (buku) ini terus kayak...’aku bisa kayak gitu’. Kalau buku ini bisa inspire satu aja anak perempuan, aku akan senang,” katanya.

Menjadi perempuan

Selain tema besar tentang keinginan dan menginginkan, sosok perempuan juga menjadi elemen besar dalam karya-karya Rain.

Lewat karyanya, Rain mengidentifikasi diri sebagai seorang feminis dan menceritakan tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan muda yang hidup pada sebuah zaman yang berbeda dengan era Kartini, tapi tetap punya kesulitannya sendiri.

“Aku mulai sadar dengan kehidupan yang kok susah banget ya jadi perempuan, kok susah banget ya aku cuma mau jalan, nggak pingin ada mas-mas yang manggil ‘mbak, mbak, mbak’. Kenapa aku harus hidup dengan laki-laki yang ‘jangan gini, jangan ngengkang, jangan duduk kayak gini, kenapa pakai make up, kenapa nggak pakai make up’. Kok laki-laki nggak ditanyain kayak gini?”

Tapi Rain menolak jika karyanya dimasukkan dalam kotak ‘tipikal tulisan perempuan’.

“Ada banyak banget penulis laki-laki yang ngomongin cinta, tapi kita nggak pernah ‘Wah kamu pedulinya cuma cinta, kamu pedulinya cuma nyari pacar atau istri dan punya momong anak’. Kenapa kalau penulis perempuan yang menulis cinta jadi (dianggap) menye-menye?” kata Rain.

Pembacaan cerita pendek dari buku kumpulan cerpen "Monsoon Tiger and Other Stories".
Keterangan gambar, Pembacaan cerita pendek dari buku kumpulan cerpen "Monsoon Tiger and Other Stories".

Dia juga ingin menyoroti, yang ia sebut sebagai, “minimnya kesempatan buat penulis perempuan” untuk tampil. Selain menulis buku, Rain juga adalah satu dari dua pendiri jurnal sastra The Murmur House yang memberi ruang buat penulis muda, terutama perempuan, utnuk menerbitkan karya dalam bahasa Inggris.

Lalu kenapa buku ini diterbitkan dalam bahasa Inggris?

Christina Udiani dari Kepustakaan Populer Gramedia mengatakan bahwa mereka kini melihat ada pembaca karya sastra bahasa Inggris, dari kalangan anak muda, yang jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan 5-7 tahun lalu.

Selain itu, dengan Indonesia menjadi tamu khusus di Frankfurt Book Fair 2015, karya sastra dari penulis Indonesia yang berbahasa Inggris jadi bukan lagi terbatas orang Indonesia konsumennya, justru dunia.

Menurut Christina, salah satu kendala sastra Indonesia tidak dikenal dunia adalah karena bahasa. Dari pengalaman di Frankfurt Book Fair, ketika buku diterjemahkan ke bahasa Inggris, maka penerbit di luar negeri menjadi tertarik.

Sebagian dari pengunjung yang hadir dalam peluncuran buku kumpulan cerpen "Monsoon Tiger and Other Stories".
Keterangan gambar, Sebagian dari pengunjung yang hadir dalam peluncuran buku kumpulan cerpen "Monsoon Tiger and Other Stories".

“Ambil contoh satu, ada lho novel yang akan diterjemahkan dalam bahasa Ethiopia, Amharic, karena membaca versi bahasa Inggrisnya, yaitu ‘Saman’ karya Ayu Utami,” kata Christina.

Ternyata, agar sastra Indonesia mendunia, menulis karya dengan bahasa Inggris justru bisa menjadi keunggulan. Dan Christina mengakui, ada pertimbangan pasar yang diperhitungkan dalam menerbitkan karya ini.

“Karena dalam proses penerjemahan, selalu ada yang hilang. Kalau (ditulis dalam) bahasa Inggris, kita mampu menampilkan penulis seperti aslinya. Kita hanya berharap, ini hanya salah satu gerbong, sastra Indonesia menjadi mendunia,” ujar Christina.

Anda bisa mendengarkan versi audio artikel ini dalam program Seni dan Budaya yang disiarkan berbagai stasiun radio mitra BBC di Indonesia, pada Jumat (1/1).