Upaya mencetak seniman muda di Jakarta

- Penulis, Isyana Artharini
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Belum cukup banyak ruang atau wadah yang tersedia di Jakarta buat para anak-anak muda untuk bertukar pikiran, mendapat bimbingan dan komentar kritis, sehingga mereka bisa merasa percaya diri menyebut diri mereka sebagai seniman.
Salah satu ruang untuk membentuk seniman muda adalah program Exi(s)t di Dia.lo.gue Artspace, Jakarta.
Program yang sudah berada di tahun keempatnya tersebut menyeleksi anak-anak muda Jakarta yang berniat menjadi seniman untuk mengikuti workshop dan proses bimbingan sehingga nantinya mendorong mereka menghasilkan karya untuk ditampilkan dalam pameran.
Pameran hasil workshop yang bertajuk The Food Files atau berlatar tema makanan tersebut, dibuka pada Jumat (13/11) lalu dan akan berlangsung sampai sebulan ke depan.
Ayu Larasati, desainer dan pembuat keramik, adalah salah satu dari sembilan seniman muda yang terpilih mengikuti program tersebut dari sekitar 150 pendaftar.
Produksi makanan
Selama ini, meski terbiasa dengan proses pembuatan karya dalam bentuk keramik, Ayu selalu menghasilkan produk yang fungsional untuk dijual. Ini adalah pameran pertamanya menampilkan seni kontemporer.
"Aku tertarik untuk menelusuri asal-usul makanan yang aku makan dari mana, saat berkunjung ke farm adikku di Yogya, aku melihat betapa beratnya kerja petani-petani. Dari situ aku ingin memaparkan proses perjalananku, pengetahuan yang aku dapat dari menelusuri itu," kata Ayu tentang bagaimana dia menerjemahkan tema makanan pada pameran tersebut ke karyanya.


Karya yang ditampilkan Ayu masih memasukkan unsur seni yang ia kuasai, yaitu keramik dari tanah liat, dalam bentuk piring, mangkuk, cangkir, dan ditata seperti di atas meja makan. Tetapi, ketika dilihat lebih dekat, berbagai peralatan makan tersebut ternyata 'rusak' sebagian -- ada yang pecah atau lumer. Di atas meja makan ini, ada enam selang infus yang tergantung dan meneteskan air.
Yang unik, di bagian dalam piring, pada tanah liat yang retak-retak, tumbuh bibit-bibit bayam hijau dan bayam merah yang sudah berusia tiga minggu. Dan sepanjang pameran nanti, bibit-bibit tanaman ini akan tumbuh di dalam galeri, sehingga karya Ayu menjadi tak statis, terus 'berubah'.
Bagaimana Ayu sampai pada hasil tersebut?
"Sebenarnya konsepku itu ditolak terus, (komentarnya) 'kurang cukup menggambarkan', 'terlalu absurd', kurator di sini kan memang sangat kritis. Aku punya konsep yang kuat tapi aku kesulitan menuangkan itu dalam visualku," kata Ayu.
Setelah mencoba beberapa sketsa, yang kemudian ditolak juga, Ayu kembali pada praktik dan latar pendidikannya sebagai desainer produk dan pembuat keramik.
"Tanah itu kan ada prosesnya, dari kering ke basah, keramik itu kan juga berproses, terus aku brainstorming soal origin (asal), akhirnya dapat seeds (bibit). Nyobain deh, aku bisa pakai tanah yang sehari-hari aku kerjain sebagai medium si seeds ini. Aku sebenarnya nggak tahu ini bisa tumbuh atau enggak, tapi oh ternyata kok bisa tumbuh ya. Dan malah berakar dan dalam," ujar Ayu lagi.

Ayu menuturkan sebuah proses 'menjadi seniman', sesuatu yang sering tak terlihat oleh publik saat menikmati karya seni.
Proses revisi dan penajaman terhadap konsep sebuah karya tersebut mengubah pemahaman Ayu tentang profesi seniman.
"Dulu ke galeri, sering datang-datang ke exhibition, aku ngerasa, oh, seniman ini di atas audiens, 'ini karya gue, terserah lo mau ngerti apa nggak'. Tapi dalam proses ini, aku merasa ternyata seniman juga berusaha agar audiens mengerti apa yang mereka mau sampaikan, (seniman) berusaha supaya mereka (publik) mencapai pemikiran apa yang kita tuangkan dalam karyanya," ujar Ayu.
Ceria
Jika pemikiran di balik karya Ayu terkesan serius, seniman muda lain, Wangsit Firmantika, memilih pendekatan yang lebih ceria, baik dari sisi pemilihan warna maupun eksekusi.
Karya Wangsit yang berjudul Puberteen Magic Party adalah sebuah instalasi video yang menunjukkan sepasang remaja pria dan perempuan duduk berhadapan, masing-masing di ujung sebuah meja yang penuh dengan berbagai makanan.
Keduanya sama-sama mengenakan wig kribo, rambut si pria berwarna biru, rambut si perempuan berwarna pink seperti gulali.
Mereka memakan pisang, mencelup pisang dalam selai, mengeruk melon, memeras lemon, dan kemudian, cairan seperti susu warna merah muda mengalir di antara kaki si remaja perempuan. Sebuah alusi terhadap menstruasi dalam fase pubertas yang dihaluskan dengan warna pastel.
Semua makanan yang ada di meja tersebut dan aktivitas makan-makan yang terekam adalah sebuah cara untuk merayakan pubertas.


"Orang Indonesia, apa-apa dirayakan dengan perayaan yang sifatnya makan-makan. Ada yang menikah, makan, ada yang lahiran makan, bahkan ada yang meninggal pun, makan. Kita merayakan ulang tahun tiap tahun, tapi kita nggak pernah merayakan kedewasaan kita," kata Wangsit tentang karyanya.
Ini adalah kedua kalinya dia berpameran.
Meski, menurut Wangsit, hasilnya "cuma sebuah video" yang terkesan ceria, namun ada banyak kerumitan yang menantang kemampuannya untuk menghasilkan sebuah karya.
"Setiap elemen yang ada dalam video ini harus bisa dipertanggungjawabkan (ke kurator). Kenapa sosis? Kenapa lemon? Kenapa mejanya warna hijau? Kenapa ada daunnya? Kenapa rambutnya kribo? Jujur mempertanggungjawabkan elemen-elemen ini tidak mudah, karena begitu sampai galeri, orang akan berpersepsi sendiri-sendiri," kata Wangsit.
Tetapi sepertinya, pilihan-pilihan estetika Wangsit tersebut sampai di salah satu penonton.
Chen Rustiani, yang hadir dalam pameran memuji karya tersebut, mengatakan: "Keren banget, yang orang lain mikir mungkin, puberty gimana, tapi ini dikemas unik. Dari segi penampilan, nggak biasa untuk warnanya, makanan-makanannya semua ditata dengan cara yang simpel, tapi memberikan kesan."

Menurut Mytha Budiarto, salah seorang kurator pameran, dari sekitar 150 anak muda yang melamar dalam program ini, dia mendapat gambaran tentang motivasi mereka menjadi seniman.
"Mereka merasa butuh lingkungan untuk mendiskusikan kesenian secara intens, mereka butuh feedback, mereka butuh input yang kritis, dan ini yang tadinya nggak kita sadarin tentang anak muda Jakarta. Sangkainnya kan kesenian cuma hura-hura aja, ternyata mereka membutuhkan sesuatu yang lebih, mereka butuh lingkungan kritis tentang kesenian," ujarnya.
Mytha menyebut berbagai inisiatif lain di Jakarta yang tersedia buat seniman muda untuk mengembangkan diri -- seperti komunitas ruangrupa atau Kopi Keliling, sehingga program Exi(s)t ini bisa menambah opsi. Tetapi dia merasa semua inisiatif tersebut belum cukup.
Jakarta yang notabene memiliki semuanya ternyata, dalam pandangan Mytha, masih kurang soal menyediakan ruang berkarya buat seniman muda.
"Selalu kurang banyak. Jakarta akan selalu butuh lebih banyak lagi program-program kesenian buat seniman muda yang inisiatifnya tidak dari pasar," katanya.









