Frekuensi Perangkap Tikus, album musik yang mendendangkan lagu antikorupsi

Indie Art Wedding—sebuah band beranggotakan pasangan suami istri Cholil Mahmud dan Irma Hidayana.
Keterangan gambar, Indie Art Wedding—sebuah band beranggotakan pasangan suami istri Cholil Mahmud dan Irma Hidayana.
    • Penulis, Jerome Wirawan
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

“Mengapa sukanya mengada-ada yang tidak ada. Jangan kaget jika suka menyontek, mengambil jalan pendek, nanti gelapkan aset.”

Demikian penggalan lirik lagu berjudul Bukan Andalan yang dibawakan Indie Art Wedding—sebuah band beranggotakan pasangan suami istri Cholil Mahmud dan Irma Hidayana.

Lagu tersebut merupakan satu dari sembilan lagu yang terdapat dalam album Frekuensi Perangkap Tikus Volume Dua.

Ketika album itu dirilis organisasi Indonesia Corruption Watch, medio Desember lalu, saya berkesempatan melihat penampilan mereka di panggung.

Dengan didukung dua penyanyi latar dan empat musisi, duo itu mendendangkan lagu ‘Bukan Andalan’ seraya membawa serta putra mereka yang baru berusia lima tahun.

Cholil mengaku lagu itu memang bertema keseharian dan cocok ditujukan untuk semua kalangan, termasuk anak-anak.

“Kami mengambil tema bahwa sebenarnya perilaku koruptif itu dimulai dari perilaku curang di kehidupan sehari-hari yang banyak banget, mulai dari kita tidak mau antre, tidak mau patuh pada peraturan lalu lintas, mencontek. Jadi jalan pintas juga kadang-kadang memacu kita untuk melakukan praktik-praktik curang yang ketika nanti kita mendapat kekuasaan, mungkin saja kita akan berlaku koruptif,” kata Cholil.

L'Alphalpha, grup musik yang kerap membawakan lagu ala negara Skandinavia, berkolaborasi denga Ebiet G Ade.
Keterangan gambar, L'Alphalpha, grup musik yang kerap membawakan lagu ala negara Skandinavia, berkolaborasi denga Ebiet G Ade.

Kolaborasi

Selain Indie Art Wedding, musisi lain yang diajak berkolaborasi dalam album itu amat beragam. Mulai dari band blues rock Experience Brothers hingga Ebiet G Ade yang berkolaborasi dengan L'Alphalpha, grup musik yang kerap membawakan lagu ala negara Skandinavia.

Dalam album Frekuensi Perangkap Tikus, Ebiet G Ade dan L'Alphalpha membawakan lagu berjudul Orator keluaran 1981 yang diaransemen ulang.

“Mengaransemennya memang agak rumit ya. Karena Ebiet G Ade adalah penyanyi jenis folk, blues dan country yang menyanyi dengan diiringi gitar akustik. Sedangkan kami biasa membawakan lagu dengan full band, jadinya bertolak belakang,” kata Harald Reynaldo, vokalis L’Alphalpha.

Aneka musisi dari berbagai genre yang berkarya dalam album musik ini diakui Tama Langkun dari Indonesia Corruption Watch sebagai strategi menyampaikan pesan antikorupsi kepada khalayak lintas generasi.

Pesan tersebut diakui beberapa pengunjung diterima dengan baik.

“Pesannya efektif banget. Apalagi kita sebagai generasi muda ya, yang harus tahu tentang bagaimana korupsi itu merusak Indonesia. Saya menjadi terpacu untuk memperbaiki perilaku supaya ke depannya Indonesia jauh dari korupsi,” kata Dini, salah seorang pengunjung.

Dalam album Frekuensi Perangkap Tikus Volume Dua, yang berjarak dua tahun setelah volume pertama dirilis, terdapat delapan band yang membawakan sembilan tembang.
Keterangan gambar, Dalam album Frekuensi Perangkap Tikus Volume Dua, yang berjarak dua tahun setelah volume pertama dirilis, terdapat delapan band yang membawakan sembilan tembang.

Pop Indonesia

Lepas dari pesannya, dari segi musik, album tersebut sarat dengan lagu-lagu pop, meski terdapat sebuah lagu blues-rock dan dangdut.

Harlan Boer, produser album Frekuensi Perangkap Tikus Volume Dua, mengatakan lagu-lagu yang dibawakan sembilan band dalam album tersebut menunjukkan kemajuan musik pop di Indonesia.

“Saat kita mendengarkan lagu-lagu di dalam album ini, ada pendekatan-pendekatan baru untuk musik pop Indonesia hari ini. Bukan hanya musik, melainkan juga liriknya yang memperlihatkan bagaimana cara bertutur mengenai korupsi dan tema yang diangkat,” kata Harlan.

Dalam album Frekuensi Perangkap Tikus Volume Dua, yang berjarak dua tahun setelah volume pertama dirilis, terdapat delapan band yang membawakan sembilan tembang.

Anda bisa mendengarkan versi audio artikel ini dalam program Seni dan Budaya yang disiarkan berbagai stasiun radio mitra BBC di Indonesia, pada Jumat (25/12).