Lembaran baru untuk Mocca

Band Mocca terdiri dari (dari kiri ke kanan) Toma Pratama, Arina Ephipania, Indra Massad, dan Riko Prayitno.

Sumber gambar, MOCCA

Keterangan gambar, Band Mocca terdiri dari (dari kiri ke kanan) Toma Pratama, Arina Ephipania, Indra Massad, dan Riko Prayitno.
    • Penulis, Jerome Wirawan
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Lama tidak terdengar, band Mocca kembali meluncurkan album. Namun, jika dibandingkan dengan lagu-lagu pop manis bernada retro yang mereka mainkan pada 2002 lalu, lagu-lagu pada album kali ini terdengar berbeda.

Lupakanlah My Secret Admirer, tembang yang pernah hits saat Mocca merilis album My Diary 13 tahun lalu. Lagu bernuansa pop retro semacam itu tidak lagi muncul dalam album anyar Mocca bertajuk Home yang berisi 12 lagu.

Tema asmara saat kuliah pun berganti dengan lagu mengenai pasangan hidup dan rumah.

“Waktu pertama kita ngeluarin album kan memang kita masih baru lulus kuliah. Mungkin referensi kita tentang kehidupan juga masih sekitar pacar, teman. Kalau sekarang kita sudah rata-rata berkeluarga, jadi persepsi kita tentang kehidupan pun berbeda. Jadi mau tidak mau temanya agak lain dan penyajiannya matang dan kekinian. Lebih modern,” kata Arina Ephipania, vokalis Mocca, kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Soal warna musik yang modern, digarisbawahi oleh gitaris Mocca, Riko Prayitno. Menurutnya, mereka sengaja memasukkan bunyi-bunyian baru, seperti suara synthesizer pada lagu Building Memories.

Ketukan-ketukan lagu-lagu di album Home pun diubah dari ketukan khas waltz, bossanova, dan rock n roll yang lazim terdengar pada lagu-lagu ciptaan Mocca.

Template pada album-album sebelumnya kita ubah semua. Kita berusaha mencari sesuatu yang baru,” ujar Riko.

Proses pembuatan

Selain nuansa musik, proses pembuatan album kali ini pun berbeda. Kepindahan Arina ke Amerika Serikat setelah menikah pada 2011 menjadi kendala bagi para personel Mocca untuk berkarya.

Riko mengisahkan bagaimana dia dan dua personel Mocca yang lain, yakni Toma Pratama dan Indra Massad, kesulitan dalam mengomunikasikan ide-ide.

“Karena jarak, ada banyak hal yang tidak tersampaikan dengan baik. Misalnya, tempo. Kita bertiga menafsirkan segini, lalu Arina menafsirkan berbeda. Begitu Arina mengirimkan garapannya, kita berpikirm ‘Loh kok jadi begini?’ Sebaliknya juga demikian. Saat kita mengirimkan bentuk awal, Arina bilang, ‘Loh kok jadi begini’?”

Arina mengamini bahwa sejumlah kekacauan dalam proses pembuatan album sempat terjadi. Bahkan, kata Arina, ada sebuah lagu yang memang mengalami ‘kecelakaan’.

“Temponya dua kali lebih cepat. Saya nyanyinya jadi pusing kan. Akhirnya kami menguliknya ketika rekaman dan kemudian bisa diakali. Lucunya, itu menjadi lagu yang disukai banyak orang,” tutur Arina merujuk lagu You’re the Man.

Ketika ditanya apakah warna musik Mocca akan kembali bersalin rupa di masa mendatang, Arina menjawab tegas. "Kemungkinan besar, ya. Latar belakang pendidikan kami kan desain, jadi kami selalu dituntut untuk membuat yang baru. Jadi otomatis kami pasti akan mencari sesuatu yang baru lagi."

Anda bisa mendengarkan wawancara dan lagu-lagu dalam album baru Mocca di program Info Musika BBC yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Jumat 8 Mei 2015, mulai pukul 05.00 WIB.