Pemerintah menargetkan semua penduduk miliki akses toilet yang layak

Sumber gambar, BBC INDONESIA
- Penulis, Sri Lestari
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
- Waktu membaca: 3 menit
Pemerintah menargetkan pada 2019 seluruh penduduk Indonesia memiliki akses sanitasi dan air bersih. Akses sanitasi itu termasuk memiliki sarana untuk Mandi, Cuci, Kakus MCK yang memadai.
Saat ini masih ada lebih dari 51 juta orang yang buang air besar sembarangan BABS.
Kementerian kesehatan mengaku puluhan juta warga Indonesia masih tidak memiliki akses MCK, dan berperilaku buang air besar sembarangan.
“Kira-kira 51 juta yang sudah memang akses Buang Air Besar itu 67%, akses itu artinya pinjam ke tetangga jamban komunal atau menggunakan cubluk untuk sarana BABnya, sisanya masih buang air besar sembarangan di sungai, di kebun ada yang di empang,” jelas Eko Saputro, Kasubdit Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar Kementerian Kesehatan.
Berdasarkan laporan Tingkat dan Tren Kematian Anak-anak 2014 PBB, Indonesia menduduki peringkat kedua – setelah India - sebagai negara dengan tingkat BABS terbesar kedua di dunia, mencapai seperlima dari total populasi.
Menurut Eko perilaku BAB sembarangan tak hanya dilakukan oleh masyarakat desa tetapi juga kota-kota besar.
Di Jakarta, tercatat sekitar 40% warga masih BAB sembarangan, karena meski memiliki toilet yang bagus tetapi pembuangannya menggunakan pipa yang langsung ke sungai dan tidak menggunakan septic tank. Kondisi itu menyebabkan pencemaran air dan tanah.
“Kalau kita hitung manusia itu bisa mengeluarkan kira-kira tinja 0,4 kg per hari. Bayangkan berapa banyak tinja yang akan mengotori sungai atau tanah dan ketika hujan tanahnya mengalir mengotori sumur masyarakat,” kata Eko.
Tak punya toilet

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Kampung Luar Batang Jakarta Utara ini merupakan salah satu wilayah yang sebagian besar warganya tidak memiliki fasilitas toilet yang memadai.
Di sini saya bertemu dengan Sarki (28) yang tinggal di rumah papan yang dibangun di atas sungai di pinggir laut di Jakarta Utara.
Sarki mengaku dia tidak memiliki fasilitas toilet yang memadai di rumahnya.
“Fasilitas WC bikin sendiri asal aja, langsung ke kali, langsung ke laut. Di sini ada WC umum, tetapi sama aja buangnya di kali juga. Tinggal di siram aja. Alhamdulillah 'ga ada yang sakit. Paling-paling (badan) panas," jelas Sakri

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Tetangga Sakri, Yuni (23) juga tidak memiliki WC di rumah petak yang terbuat dari papan. Perempuan yang tengah hamil lima bulan ini baru setahun tinggal di kampung yang terletak di belakang kota tua Jakarta ini.
"Ga' punya! (Saya buang air besar) di tempat cucian piring, langsung ke kali. Saya dulu tinggal di kampung di Serang. Kalau di Serang (saya buang air besar) di kebon, ya namanya juga orang susah mba, buat makan aja susah apalagi buat benerin WC,” ungkap Yuni.
Dampak kesehatan

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Selain mencemari lingkungan , BAB sembarangan juga berdampak langsung kepada masyarakat terutama kesehatan anak-anak.
“Angka kematian Diare diantara balita itu masih menjadi proporsi yang besar, sekitar 23%. Itu karena diare, penyakit lain seperti pneumonia atau radang paru-paru juga karena air tercemar, tidak cuci tangan dengan bersih.
"Itu karena kuman, infeksi kecacingan, usus terpapar terus oleh bakteri kuman dan tidak masuknya zat gizi terhadap tubuh anak sehingga timbul stunting (pendek). Tubuh anak menjadi tidak proporsional,” jelas Dr Budi Setiawan, Spesial Kesehatan Badan PBB untuk urusan anak-anak UNICEF Indonesia.
Kementerian Kesehatan memperkirakan kerugian ekonomi akibat perilaku BAB sembarangan itu menumbulkan kerugian ekonomi sekitar buruk Rp56,8 trilliun per tahun, antara lain dari biaya pelayanan kesehatan yang dikeluarkan untuk mengatasi penyakit akibat sanitasi yang buruk, antara lain diare.
Juru bicara masalah pembangunan UNICEF Indonesia, Desiree Tilaar, menyatakan sejak tahun 2014 lalu, UNICEF meluncurkan program kampanye Tinju Tinja, yang tahun ini bertujuan untuk melibatkan masyarakat agar menghentikan perilaku BAB sembarangan.
"Bagaimana caranya? Caranya ada tiga, yaitu dengan memberikan komitmen untuk membantu kampanye ini, aksi yang bisa diberikan itu dengan cara menyebarkan fakta di social media atau gathering-gathering, atau memberikan materi kreatif, karena anak muda Indonesia 'kan sekarang kreatif, “ jelas Desiree.
Menurut Desiree, kampanye yang diluncurkan pada November lalu, mendapatkan respon yang positif dari masyarakat.
Untuk menghentikan kebiasaan BAB Sembarangan, pemerintah bekerja sama dengan berbagai lembaga internasional dan lokal, menjalankan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat STBM -yang bertujuan untuk mengubah perilaku agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.









