PBB: 2,5 miliar orang tak punya kakus layak

Menurut PBB, sekitar 2,5 miliar orang di seluruh dunia tidak memiliki sanitasi yang layak termasuk toilet. Bagaimana pengalaman warga berbagai tempat dalam menggunakan kakus?

toliet di Afrika Selatan
Keterangan gambar, Menurut PBB, sekitar 2,5 miliar orang tidak memiliki akses sanitasi layak termasuk toilet. Untuk menandai Hari Toilet Dunia, fotografer dari Panos Pictures bekerja sama dengan Waniter & Sanitation for the Urban Poor (WSUP) untuk memproduksi pameran yang mendokumentasikan wanita dan anak-anak dengan toilet mereka dan dampaknya terhadap kehidupan mereka.
renee dari australia
Keterangan gambar, Renee adalah seniman. Ia meninggalkan kediamannya di daerah luar kota yang padat di Sydney, Australia dan pindah ke daerah yang lebih tenang, satu jam perjalanan dengan kendaraan dari kota. Ia membangun tempat tinggal kecil dengan kakus di luar. Ia tidak perlu khawatir tentang privasi karena tidak terlihat oleh para tetangganya.
sukurbanu
Keterangan gambar, Sukurbanu, 65, tinggal di daerah kumuh Rupnagar di Dhaka, Bangladesh, sejak kecil. Ia menggunakan kakus yang dibangun di atas kolam. Dan ia baru-baru ini terpeleset. Ia tinggal dengan tiga anak putrinya dan harus antre lama untuk menggunakan kakus sebelum berangkat kerja.
isabela dari Brasil
Keterangan gambar, Isabela, 33, tinggal sendiri di apartemen tingkat paling atas di Rio de Janeiro, Brasil. "Toilet saya merupakan kenyamanan bagi saya. Namun saya tahu apa yang ada di balik itu: air, saluran, polusi danau, laut. Fakta bahwa saya senang mandi dan itu berarti setiap 10 menit, air bersih terbuang. Saya punya pasokan air bersih, air panas dan juga toilet duduk," kata Isabela.
fabiola dari Ekuador
Keterangan gambar, Fabiola, 69, tinggal di Cumbaya, lembah di dekat Quito, Ekuador. Saat berumur antara 7 dan 21 tahun, ia harus berbagai toilet dengan 20 orang lain di apartemennya. Kini ia tinggal di apartemen dengan lima kamar mandi. Kamar mandinya adalah yang terbesar dan dia sangat bangga.
meseret dari Ethiopia
Keterangan gambar, Meseret, manajer restoran di Addis Ababa, Ethiopia, tinggal di rumah dengan satu kamar tidur yang disediakan pemerintah dengan dua anaknya, dua kakak dan ibu. Suaminya ditembak dalam pemilu tahun 2005. Kakus yang mereka gunakan bersama jauh letaknya, jadi untuk keamanan, keluarganya menggunakan pekarangan di dekat rumah sebagai kakus.
ima dari Ghana
Keterangan gambar, Ima, 47 tahun, adalah penjaga kakus di Kumasi, Ghana. Ia tinggal di kamar kontrakan dengan suami dan empat anak berusia 14-22. Ia tidak memiliki toilet di rumah dan menggunakan kakus umum saat ia kerja. Namun pada malam hari ia menggunakan kantung plastik karena tidak aman untuk keluar.
martine dari Haiti
Keterangan gambar, Martine berusia 27 tahun. Ia tinggal di dekat sungai di Cayimithe, Haiti. "Saya tidak punya kakus di dalam. Toilet saya adalah lubang di dekat rumah dan sekarang penuh dan sangat berbahaya. Saya menggunakan toilet umum yang terletak 15 menit dari rumah saya.
sangita dari India
Keterangan gambar, Sangita, 35, pindah ke Delhi 10 tahun lalu. Sebelum itu, ia tinggal di desa dan buang air di ladang. Ia mengatakan sangat malu kalau mengingat itu. Karena itu ia membuat toilet sendiri di Delhi.
Eiko dari Jepang
Keterangan gambar, Eiko, 61, tinggal di Tokyo. "Karena ada pertokoan di dekat rumah saya, saya sering belanja. Saat kecil, toilet umum itu tidak bersih dan bau. Namun saya selalu menggunakan kamar mandi di sana karena saya merasa nyaman. Toilet ini dilengkapi dengan musik dan toilet duduk yang bisa dihangatkan. Di salah satu ruangan, Eiko bisa nonton TV dan mengisi baterai telepon selulernya sambil kaki dipijat.
eunice dan seorang anak di Kenya
Keterangan gambar, Eunice adalah pendiri bersama Akademi Kasarani di Naivasha, Kenya. Sebelumnya, sekolah ini hanya memiliki dua kakus untuk 250 siswa. Masyarakat yang tinggal di sekitar dulu menggunakan toilet ini dan menjadi kotor. Akibatnya, para siswa sering buang air besar di tempat terbuka.
flora dari Mozambique
Keterangan gambar, Flora, 19, adalah siswa sekolah menengah atas. Ia tinggal di Chamculo C di Maputo, Mozambique, dengan ibu, kakak dan keponakan. Ia menggunakan kakus dengan beberapa keluarga lain yang tinggal dekat rumahnya. "Saya kesal kalau pakai kakus. Terkadang ada pria yang mengintip dari pagar. Tidak ada privasi," katanya.
Pana dari Romania
Keterangan gambar, Pana, 49, tinggal di Buzezcu. Seperti halnya setengah dari penduduk Romania, ia tinggal di luar kota tanpa saluran air atau pembuangan yang disediakan pemerintah. Pana punya kakus di dalam rumah namun hanya digunakan oleh keponakannya saat berkunjung. Ia menggunakan toilet di luar rumah, biarpun saat musim dingin.
nombini dari Afrika Selatan
Keterangan gambar, Nombini memiliki dua pispot yang digunakan oleh 12 orang yang tinggal di rumahnya di Afrika Selatan. Saat ia pertama pindah ke Khayelitsha pada 2005, ia tidak punya kakus jadi ia harus pergi ke semak-semak untuk buang air. "Mimpi saya adalah punya kakus yang bisa disiram," katanya.
mary dari New York
Keterangan gambar, Mary adalah penulis yang tinggal di kota New York. "Tinggal dengan dua rekan, penting bagi kami untuk membagi waktu menggunakan kamar mandi dan gantian membersihkan. Saya dulu tinggal di Beijing dan harus pakai kamar mandi umum. Pengalaman itu menjadikan saya sangat menghargai penggunaan privasi dan menggunakan toilet bersih di rumah."
Susan dari Zambia
Keterangan gambar, Susan, 46, adalah pendiri sekolah komunitas untuk anak-anak yang mengalami kekurangan secara mental dan fisik di Zambia. Memakai toilet merupakan masalah tersendiri, khususnya saat musim hujan karena harus merangkak dengan tangan, katanya.