100 Women 2015: Apakah riasan merupakan masalah feminisme?

Make over
Keterangan gambar, Industri kecantikan melanggengkan kesempurnaan yang mustahil - apakah ini kesalahan dari riasan itu sendiri atau masyarakat?

Saya melihat aspek merias wajah sebagai ekspresi diri, tetapi tidak semua orang setuju memakainya dengan ringan hati.

Saya lebih sering tanpa pulasan, tapi memang merasa lebih lengkap dan siap untuk menghadapi dunia ketika saya memakai riasan. Bagi saya, menggunakan riasan tidak ada bedanya dengan menyetrika kemeja atau menyisir rambut saya.

Namun, gelombang kedua feminisme pada era 1960 and 1980-an justru menyerukan untuk menyingkirkan segala bentuk riasan, karena meyakini para pria hanya akan meremehkan mereka.

Berikut laporan Harriet Hall dari Stylist Magazine.

100 Women 2015

Pada 1991, dalam buku The Beauty Myth, Naomi Wolf berpendapat pada saat wanita membebaskan diri dari belenggu urusan domestik dan meraih kemajuan dalam bidang politik dan sosial, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar kecantikan meningkat di luar kesadaran, karena iklan.

Tim 100 Wanita BBC menghabiskan malam dengan sekelompok wanita yang merias diri. Berikut pendapat mereka:

make up
Keterangan gambar, Beberapa wanita merasa bahwa riasan wajah adalah suatu "hal yang bisa menggali potensi"

Kerrie: "Anda harus terlihat menguasai diri."

Ia mengatakan: "Saya tidak akan pergi ke suatu pertemuan tanpa riasan. Jika Anda ingin menunjukkan Anda menguasai keadaan, Anda harus terlihat menguasai diri.

"Kalau Anda merasa lebih menarik, Anda merasa lebih percaya diri."

Kerrie
Keterangan gambar, "Anda merasa lebih menarikdan lebih percaya diri jika memakai riasan wajah,"kata Kerrie.

"Itu semacam ketagihan," kata Maria.

"Dulu saya tidak pernah benar-benar diizinkan untuk memakai riasan," tambahnya.

"Saya melakukannya dengan putri saya, yang saat ini berusia 13 tahun, mencoba untuk menjelaskan bahwa riasan itu tidak benar-benar mengubah siapa kita. Saya melihat beberapa orang dan tampak bagailukisan yang indah kita pun menjadi kecanduan."

Maria
Keterangan gambar, "Memakai riasan di wajah Anda tidak benar-benar mengubah siapa Anda," kata Maria.

Lou: "Versi terbaik diri Anda sendiri."

Ia mengatakan: "Saya pikir riasan merupakan hal yang memberdayakan. Saya memakai kacamata saya sebagai cara untuk memproyeksikan citra yang berbeda dan Anda dapat menggunakan riasan dengan cara seperti itu.

"Ini semua adalah bagian yang bisa digunakan untuk memberdayakan diri kita. Itu sekadar untuk menginginkan terlihat dalam versi diri yang terbaik."

Lou
Keterangan gambar, "Riasan wajah bisa digunakan untuk mengembangkan potesni Anda,'kata Lou

Perdebatan ini telah ada berabad-abad lamanya. Pada 1792, pendapat Mary Wollstonecraft dituangkan dalam A Vindication of the Rights of Woman, bahwa kecantikan disajikan sebagai "tongkat kekuasaan wanita" namun, dalam kenyataannya, hanya sekadar menyepuh kurungan keperempuanan"

Simone
Keterangan gambar, Simone de Beauvoir menulis buku pada tahun 1949 dan menceritakan bagaimana wanita gemar"menghias diri".

Simone de Beauvoir menulis dalam Le Deuxième Sexe (Jenis Seks Kedua) pada tahun 1949, "ketika (perempuan) menerima keadaan sebagai obyek seksual, ia akan gemar merias dirinya".

Anggapan semacam itu menempatkan penggunaan riasan ke dalam tekanan patriarki semata, tapi bukti arkeologi dari Mesir Kuno - 6.000 tahun yang lalu - menunjukkan baik pria maupun wanita menggunakan riasan garis mata.

Di masa Cina dan Jepang kuno, sekitar 3000 Sebelum Masehi, pria dan wanita mewarnai kuku mereka dan sampai Revolusi Perancis pada tahun 1789 sejumlah pria di Eropa secara rutin mengenakan wig, membedaki wajah mereka, dan pergi ke salon-salon kecantikan.

gelombang feminis
Keterangan gambar, Pada era 1980an kelompok feminis gelombang ketiga menolak pendapat bahwa riasan dikarenakan objektifikasi kaum pria.

Kekuatan perempuan

Riasan sering kali dikaitkan dengan kekuatan perempuan, bukan bentuk penindasan.

Pada 1920, kaum perempuan muda memberontak dan melawan gagasan tentang feminitas yang identik dengan sikap diam atau malu-malu kucing. Lalu mereka mempromosikan kebebasan yang baru mereka temukan itu, dan hasrat seksual mereka dengan memakai perona wajah dan lipstik secara berani di depan umum.

Ini adalah pekikan untuk kesetaraan, dan bukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap suatu penindasan.

Gelombang kedua feminisme memang menganggap riasan sebagai suatu obyektifikasi -untuk konsumsi tatapan laki-laki- namun gelombang ketiga kaum feminis yang disebut feminis-lipstik pada era 1980-andan 1990-an menyangkalnya.

Gerakan ini meyakini bahwa pemberdayaan sosial dan psikologi dapat diraih melalui melalui kosmetika - yang memungkinkan perempuan tampil berani menampilkan seksualitas mereka.

Industri kecantikan bisa saja dikritik karena melanggengkan kesempurnaan ideal yang mustahil, tapi ini sebetulnya sekadar gejala lebih luasnya bias masyarakat luas, dan bukan masalah yang melekat dengan tata rias itu sendiri.