Pengalaman mahasiswi Indonesia jadi relawan di kamp pengungsi Calais

Tenda-tenda pengungsi di Calais.

Sumber gambar, Shafirra Gayatri

Keterangan gambar, Tenda-tenda pengungsi di Calais.

Seorang mahasiswi Indonesia yang sempat menjadi sukarelawan selama tiga bulan di kamp pengungsi Calais, Prancis, menyatakan kondisi di tempat pengungsian sangat kotor dengan sampah bertebaran, dingin, dan tidak aman untuk anak-anak dan lansia.

Kamp migran yang disebut The Jungle dihuni oleh sekitar 2.000 pengungsi, tetapi hanya terdapat 50 kamar mandi umum yang dibersihkan tiga kali seminggu.

"Setiap orang hanya bisa menggunakan toilet enam menit per hari dengan air dingin," jelas Shaffira Gayatri, mahasiswi Indonesia yang baru menyelesaikan studinya di Universitas Warwick, Inggris.

<link type="page"><caption> Shaffirra tergerak menjadi sukarelawan</caption><url href="https://www.facebook.com/bbc.indonesia/posts/10156266150375434" platform="highweb"/></link> setelah melihat foto dan berita Alan Kurdi, <link type="page"><caption> balita asal Suriah yang tenggelam</caption><url href="calais, dentalaid" platform="highweb"/></link> dalam perjalanan mengungsi ke Eropa. Shaffira pun sempat bolak balik dari kampusnya di Warwick ke Calais, Prancis dari September hingga November 2015.

Ia bergabung menjadi sukarelawan melalui L'Auberge des Migrants, lembaga yang memfokuskan diri untuk membantu para migran yang ingin menyebrang dari Calais ke Inggris - negara yang dianggap lebih baik dalam memberikan kesejahteraan.

'Menyedihkan'

Sebagai relawan, Shaffira ditugaskan menyortir dan mendistribusikan barang donasi yang datang dari Inggris. "Seluruh donasi harus dalam keadaan layak dan khususnya untuk pakaian dan sepatu harus disortir berdasarkan ukuran, gender, dan jenis," jelasnya.

Shafirra Gayatri bersama relawan lain di kamp.

Sumber gambar, Shafirra Gayatri

Keterangan gambar, Shafirra Gayatri bersama relawan lain di kamp.

Shaffira yang baru saja kembali ke Indonesia mengatakan masih memikirkan para migran di kamp ini karena saat ini telah masuk musim dingin.

Tenda The Jungle hanya terbuat dari kayu atau terpal dan banyak migran yang frustasi sering mabuk-mabukan dan berkelahi, tambahnya. Dia ingat pengalamannya di sana, ketika sering ditanya oleh para migran wanita tentang Indonesia dan sering diajak minum teh bersama.

Menurut keterangan dalam situs L'Auberge des Migrants, migran The Jungle berasal dari Afghanistan, Irak, Kurdistan, Iran, Palestina, Eritrea, Somalia, Ethiopia, Sudan, dan Suriah.

"Dingin, basah, dan menyedihkan."

Sumber gambar, Dentalaid

Keterangan gambar, "Dingin, basah, dan menyedihkan."

Relawan lain, seorang dokter gigi dari Inggris, mengatakan kondisi di Calais "sangat mengerikan. Dingin, basah, dan menyedihkan."

Jonathan Gollings yang mengunjungi kamp itu bersama lembaga amal Dentaid mengatakan banyak pengungsi yang sakit dan luka. "Mereka adalah orang-orang biasa yang lari dari konflik di berbagai belahan dunia," katanya.