Serangan Paris: Kesaksian personil band Eagles

Sumber gambar, Getty
Vokalis kelompok band yang tampil di gedung pertunjukan Bataclan di Paris -yang diserang kelompok militan Islam- mengatakan sebagian besar korban meninggal dunia karena mereka tidak mau meninggalkan teman-temannya.
Jesse Hughes, vokalis grup band Eagles od Death Metal, untuk pertama kalinya berbicara di depan umum semenjak serangan di gedung konser Bataclan yang menewaskan 89 orang di dalamnya.
Menurut Hughes, sebagian besar penggemar grup bandnya -yang berada di dalam gedung konser itu- tewas karena mereka tidak mau meninggalkan teman-teman mereka, dan menempatkan diri di depannya.

Sumber gambar, AFP
"Mengapa begitu banyak yang meninggal, karena banyak yang tidak meninggalkan teman-teman mereka. Banyak sekali yang menempatkan dirinya di depan teman-temannya," ungkap Hughes.
Di hadapan wartawan, vokalis grup asal Amerika Serikat itu juga mengatakan, beberapa pengunjung yang bersembunyi di ruang ganti mereka ditembak mati oleh penyerangnya.
"Tapi ada seorang anak selamat karena bersembunyi di bawah jaket kulitnya," katanya.
Sembunyi di ruang bawah tanah
Korban yang tewas di gedung Bataclan diantaranya adalah Nick Alexander, manajer penjualan merchandise band serta tiga orang dari perusahaan rekaman yaitu Thomas Ayad, Marie Mosser, dan Manu Perez.

Sumber gambar, Seb Snow
Sebelumnya, pemilik gedung konser Bataclan di Paris juga mengaku bahwa dirinya "tidak memiliki kata-kata" untuk menggambarkan kesedihan mereka setelah serangan bersenjata di dalam gedung itu.
Saat terjadi serangan, para penonton konser terjebak di dalam ruangan sebelum polisi menyerbu gedung serta menembak mati seorang pria bersenjata.
Seorang saksi mata yang selamat juga mengatakan kepada BBC mereka selamat dengan berjalan dari tempat kejadian dan <link type="page"><caption> bersembunyi di ruang bawah tanah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151117_majalah_paris_bataclan" platform="highweb"/></link> selama tiga jam.









