Mitos merah jambu versus biru

Sumber gambar, Thinkstock
Mudah mengenali bagian perempuan di toko baju anak-anak, karena sebagian besarnya warnanya merah jambu
Saya kenal banyak orang tua yang bersikeras lebih suka anak perempuan mereka memakai baju warna lain, tapi merah jambu tampaknya amat menarik hati bagi mereka. Namun benarkah demikian? Apakah tak terhindarkan perempuan terlahir dengan kecenderungan memilih baju berwarna merah jambu?
Banyak studi yang melihat pilihan warna pada berbagai kelompok umur. Di Amerika, kebanyakan bayi dan anak-anak, laki-laki maupun perempuan, tertarik pada warna dasar seperti biru dan merah.
Merah jambu tidak tergolong pilihan yang tinggi, sekalipun lebih populer ketimbang cokelat dan abu-abu. Beberapa kajian untuk kelompok usia itu menemukan biru jadi favorit, kajian lain menyatakan merah, tapi umumnya pilihan itu tak tergantung jenis kelamin.
Pada tahun 2007, penelitian yang dilakukan di Universitas Newcastle di Inggris <link type="page"><caption> bertanya kepada orang dewasa warna favorit mereka</caption><url href="http://www.cell.com/current-biology/abstract/S0960-9822%2807%2901559-X" platform="highweb"/></link>. Apakah perempuan kebanyakan memilih merah jambu, atau malahan merah? Tidak. Warna yang jadi pilihan utama, bagi laki-laki maupun perempuan, adalah biru. Tapi perempuan, rata-rata, menilai warna kemerahan lebih tinggi ketimbang laki-laki.
Penulis laporan itu berspekulasi bahwa ini karena sebagai pengumpul-pemburu, perempuan secara tradisional memiliki tugas mengumpulkan buah-buahan. Maka mereka lebih tertarik pada kilasan warna merah yang berasal dari buah, seperi beri.
Tak terlalu jelas kenapa ini harus mempengaruhi suka dan tidak suka. Mungkin karena hal itu bisa meningkatkan kemampuan memilih antara berbagai kilasan warna merah, tapi ada yang terlongkap dalam logika ini. Beberapa buah beri merah memang enak, tapi beberapa jenis lagi beracun. Lantas kenapa merah jadi warna favorit?
Jika perempuan berkembang untuk memilih merah, hal ini seharusnya universal, tapi kajian yang dilakukan tahun lalu pada suku Himba di Namibia, <link type="page"><caption> tak ada kecenderungan untuk memilih warna kemerahan di antara kaum perempuan</caption><url href="http://psycnet.apa.org/psycinfo/2012-30151-001/" platform="highweb"/></link>.
Terikat pada warna tertentu?

Sumber gambar, Thinkstock
Norma budaya juga bisa membentuk pilihan terhadap warna. Dalam budaya dimana warna merah jambu dianggap tepat untuk bayi perempuan dan biru untuk bayi laki-laki, maka bayi-bayi akan terbiasa dari lahir untuk memakai dan dikelilingi warna tersebut. Ini mempersulit: apakah pilihan yang dilakukan sesudah mereka besar, sudah terikat sebelumnya?
Namun studi di tahun 2011 mencoba mengetahui lebih jauh apa yang sesungguhnya terjadi.
Ketika bayi perempuan dan laki-laki berumur satu tahun diperlihatkan sepasang benda yang sama seperti gelang, kotak pil dan pigura, namun warnanya berbeda, satu merah jambu dan satu warna lainnya, <link type="page"><caption> mereka tak lebih memilih warna merah jambu ketimbang warna lain</caption><url href="http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.2044-835X.2011.02027.x/abstract" platform="highweb"/></link>.
Namun sesudah usia dua tahun, bayi perempuan mulai menyukai merah jambu, dan pada usia empat tahun, laki-laki menolak warna merah jambu.
Ini merupakan waktu yang tepat ketika seorang anak mulai sadar akan jenis kelamin mereka, mulai membicarakannya dan bahkan mengamati sekitar mereka untuk menentukan apa yang "membuat mereka" menjadi laki-laki atau perempuan.
Tapi seperti halnya orang dewasa, anak-anak yang kecil sekalipun memperlihatkan bias ke arah kelompok jenis kelamin mereka.
Bias kelompok ini juga diamati oleh penelitian lain dimana anak berumur tiga hingga lima tahun <link type="page"><caption> diberi baju berwarna merah atau biru untuk dipakai di tempat perawatan</caption><url href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16942493" platform="highweb"/></link>. Bagi satu kelompok, baju merah dan biru secara konstan diacu oleh mereka, dan dalam tiga minggu, anak-anak itu menyukai warna mereka daripada warna lain. Itu hanya dalam tiga minggu.

Sumber gambar, Thinkstock
Jenis kelamin menjadi topik penting dari awal kehamilan hingga seterusnya. Ketika kita mendengar tentang kelahiran seorang bayi, hanya satu hal yang ingin kita tahu: bayi itu laki-laki atau perempuan?
Anda bisa membantah bahwa itu tidak sungguh-sungguh penting, warna apa yang lebih sering diperlihatkan kepada bayi, tapi hal itu bisa mempengaruhi kita, orang dewasa, dalam memperlakukan mereka.
Ada satu studi terkenal memperlihatkan bahwa perempuan memperlakukan seorang bayi dengan cara berbeda, <link type="page"><caption> tergantung warna pakaiannya: merah jambu atau biru</caption><url href="http://www.jstor.org/stable/1128775?seq=1#page_scan_tab_contents" platform="highweb"/></link>. Jika bajunya biru, mereka beranggapan bayi itu laki-laki, bermain dengan permainan yang lebih mengandalkan fisik dengan mereka serta memberi palu mainan, sementara mereka menjadi lebih lebih lunak kepada bayi berbaju merah jambu dan memilih memberi boneka kepadanya.
Merah jambu untuk anak laki-laki?
Namun bagaimana dengan ide bahwa seabad lalu anak laki-laki dipakaikan baju warna merah jambu dan baru-baru ini saja warna itu diberikan kepada perempuan? Kemungkinan besar, hal itu merupakan mitos juga.
Penulis psikologi Christian Jarret menggambarkan dalam bukunya <italic>Great Myths of the Brain</italic> bagaimana psikolog Marco Del Giudice yang <link type="page"><caption> mencoba menemukan asal-usul ide ini</caption><url href="http://www.researchgate.net/publication/229437155_The_Twentieth_Century_Reversal_of_Pink-Blue_Gender_Coding_A_Scientific_Urban_Legend" platform="highweb"/></link>, menemukan hanya empat kutipan pendek dari majalah yang menggambarkan warna merah jambu untuk anak laki-laki. Dua di antaranya, ia percaya, biru dan merah jambu tertukar tak sengaja.

Sumber gambar, Thinkstock
Tampaknya kecil kemungkinannya bagi saya. Namun ketika ia mencari bank data lima juta buku yang diterbitkan dalam bahasa Inggris di Amerika dan Inggris dari tahun 1800-2000, hasilnya lebih meyakinkan.
Tak disebutkan "merah jambu untuk anak laki-laki", sekalipun sejak tahun 1890 dan seterusnya terjadi peningkatan dalam penyebutan "merah jambu untuk anak perempuan".
Bahkan pengaitan antara merah jambu dengan feminitas belakangan ini bisa berakibat sebaliknya jika tak digunakan dengan tepat.
Merah jambu kerap digunakan untuk kampanye penyadaran kanker payudara, tapi peneliti di Universitas Erasmus di Rotterdam menemukan bahwa ketika <link type="page"><caption> perempuan diperlihatkan iklan yang didominasi warna merah jambu</caption><url href="journals.ama.org/doi/abs/10.1509/jmkr.48.3.413" platform="highweb"/></link>, mereka tak terlalu berpikir tentang kanker payudara atau berpikir menyumbang uang untuk organisasi kanker payudara.
Penulis tak percaya ini disebabkan karena mereka membenci warna merah jambu, tapi karena mereka teringat jenis kelamin mereka secara berlebihan, iklan itu terasa menyerang mereka secara pribadi sehingga menimbulkan mekanisme penolakan.
Namun sedikitnya ada satu jalan dimana warna merah jambu bisa berguna bagi perempuan dan laki-laki. Di tahun 2002, peneliti di Swiss yang ingin <link type="page"><caption> meningkatkan tanggapan terhadap survei </caption><url href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12026752" platform="highweb"/></link>menemukan bahwa mencetak daftar pertanyaan di kertas berwarna tidak memberi dampak, kecuali jika dicetak di kertas berwarna merah jambu.
Terjadi peningkatan 12% orang yang mengisi kuesioner itu.
Warna, tampaknya, mempengaruhi perilaku kita lebih besar daripada yang kita sadari.
Pengumuman
Segala isi di kolom ini disediakan untuk informasi umum saja, dan tidak bisa diperlakukan sebagai pengganti bagi nasihat medis dari dokter atau perawat profesional. BBC tidak bertanggung jawab terhadap diagnosis yang dilakukan oleh pembaca berdasarkan isi yang ada di sini. BBC tidak bertanggung jawab terhadap isi dari situs web luar yang ada di sini, juga tidak menyarankan penggunaan produk komersial dan jasa yang disebutkan oleh situs-situs tersebut. Selalulah berkonsultasi dengan dokter Anda jika merasa khawatir akan kesehatan Anda.
<italic>Anda bisa baca artikel ini dalam bahasa Inggris <link type="page"><caption> The 'pink vs blue' gender myth</caption><url href="http://www.bbc.com/future/story/20141117-the-pink-vs-blue-gender-myth" platform="highweb"/></link> dan artikel sejenis di <link type="page"><caption> BBC Future</caption><url href="http://www.bbc.com/future" platform="highweb"/></link>.</italic>












