Usai 'Black Monday', saham-saham Asia berjatuhan

Ketakutan yang berlanjut akan kondisi kesehatan ekonomi Cina menjadi penyebab kejatuhan

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Ketakutan yang berlanjut akan kondisi kesehatan ekonomi Cina menjadi penyebab kejatuhan

Saham-saham di Asia kembali berjatuhan saat pasar saham dibuka pada Selasa (25/08). Namun penurunan yang terjadi tak separah yang dikhawatirkan para analis setelah aksi jual besar-besaran pada Senin (24/08) atau yang dijuluki 'Black Monday'.

Bursa Nikkei 225 di Jepang mengalami kerugian terparah, turun 3% ke 17.970,32.

Penurunan ini terjadi setelah kerugian terbesar yang pernah tercatat di indeks Shanghai Composite, Cina, dan kejatuhan tajam di Eropa dan Amerika Serikat pada Senin (24/08)

Ketakutan yang berlanjut akan kondisi kesehatan ekonomi Cina menjadi penyebab kejatuhan ini.

Pada Selasa (25/8) pagi, indeks Kospi di Korea Selatan turun 0,5% ke 1.821,49 sementara di Australia, indeks S&P ASX/200 tergelincir 0,8%ke 5.001,90.

Para investor khawatir akan perusahaan dan negara-negara yang bergantung pada permintaan tinggi dari Cina--ekonomi terbesar kedua dunia dan importir terbesar kedua barang dan jasa--ikut terpengaruh.

Bank Sentral Cina melakukan devaluasi terhadap yuan dua minggu lalu sehingga memunculkan kekhawatiran baru akan perlambatan ekonomi di negara tersebut lebih buruk dari yang semula diperkirakan.

Dalam perdagangan yang bergejolak, <link type="page"><caption> Dow Jones di Wall Street jatuh</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150824_dunia_saham" platform="highweb"/></link> 6% dalam semalam, lalu hampir menutup kerugian sebelum penutupan pasar dalam penurunan 3,6%.

Sebelumnya, indeks FTSE 100 di London ditutup mengalami penurunan 4,6% pada 5.898,87, dan <link type="page"><caption> pasar-pasar utama di Prancis dan Jerman</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/08/150824_majalah_saham_anjlok" platform="highweb"/></link> masing-masing turun 5,5% dan 4,96%.

Investor kini berharap Beijing akan masuk dan mengambil langkah untuk menstabilkan pasar-pasar.

"Asia adalah pusat," dari penjualan-penjualan yang terjadi sekarang, kata kepala strategi pasar di firma penjualan saham IG, Chris Weston, lewat sebuah pernyataan.

"Cina harus meyakinkan pasar domestik dan dunia bahwa ekonominya mampu untuk mengatasi larinya dana-dana lebih lanjut dan bisa mengendalikan perlambatannya," ujar Weston.

Sejauh ini, cara penanganan terbaru yang diajukan Beijing akhir pekan lalu, memutuskan dana pensiun untuk berinvestasi di bursa saham, masih gagal meyakinkan para pialang.