#TrenSosial: Michael Theodric, fotografer 'cilik' dengan karya yang mendunia

Michael Theodric yang dipotret oleh ayahnya, Eko Wibowo.

Sumber gambar, Eko Wibowo

Keterangan gambar, Michael Theodric yang dipotret oleh ayahnya, Eko Wibowo.
    • Penulis, Christine Franciska l @cfranciska
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Umurnya baru 14 tahun, tetapi Michael Theodric sudah punya karya-karya foto yang meraih pengakuan dunia.

Dia adalah pemenang ketiga kontes fotografi The Children Eyes on Earth di Azerbaijan pada 2012 dan pernah juga meraih penghargaan untuk kategori lingkungan dalam Sony World Photography Award pada 2014.

Foto Michael yang berjudul <italic>"Enjoy"</italic> menjadi pemenang dalam kategori pemandangan kota dalam <link type="page"><caption> kompetisi <italic>Atkins CIWEM Environmental Photographer of the Year 2015. </italic></caption><url href="http://www.bbc.com/earth/story/20150625-environmental-photo-winners" platform="highweb"/></link>

Janet Miller, salah satu direktur Atkins mengatakan, "foto Michael menangkap pemandangan kritis tentang Jakarta, satu dari beberapa kota terpadat di Bumi, dan menjadi pengingat pentingnya merancang ruang kota dengan konsep keberlanjutan untuk generasi kini dan nanti."

"Enjoy" karya Michael Theodric.

Sumber gambar, Michael Theodoric

Keterangan gambar, "Enjoy" karya Michael Theodric.

Michael yang ditemui BBC Indonesia Juli lalu di Tangerang, bercerita lebih banyak tentang foto itu:

"Saya ambil foto itu di apartemen tante. Waktu itu ingin main-main di sana karena ada kolam renangnya, sekalian bawa kamera. (Kebetulan) di seberang apartmen ada hotel, ada orang-orang tiduran atau duduk-duduk lihat pemandangan di balkon."

"Waktu itu foto saja, enggak kepikiran untuk buat lomba foto. Kemudian baru ada lomba, dan lihat foto ini, cocok juga."

Michael memandang Jakarta sebagai kota yang padat dan ramai. "Tidak ada tempat untuk tanaman dan pohon-pohon, karena lebih banyak dibangun untuk mal," katanya.

Foto yang bercerita

Perkenalannya dengan fotografi dimulai pada usia delapan, ketika dia menggunakan kamera saku di rumah untuk memotret mainan mobil-mobilannya.

Eko Wibowo, ayah Michael, cukup terkejut ketika anaknya minta dibelikan kamera DSLR sebagai hadiah ulang tahun.

"Anak umur segini kok mintanya itu dan harga kamera kan tidak murah," cerita Eko.

Lebih besar kamera dari pada kepala, kata Eko mengomentari hobi fotografi anaknya. "Saya kenalin kamera dengan lensa tele waktu itu."

Sumber gambar, Eko Wibowo

Keterangan gambar, Lebih besar kamera dari pada kepala, kata Eko mengomentari hobi fotografi anaknya. "Saya kenalin kamera dengan lensa tele waktu itu."

Untungnya keraguan itu ditepis oleh kedua orang tuanya, dan Michael mulai rajin menggunakan kamera Canon 500D miliknya untuk memotret apa saja.

Apa obyek favoritnya? Jensen! Adik Michael yang kini berusia sembilan tahun.

Eko yang juga hobi fotografi mulai ikut mengenalkan Michael pada Komunitas Fotografer Tangerang, wadah di mana dia bisa bertanya dan belajar lebih dalam tentang seluk beluk kamera.

Mereka juga sering pergi hunting foto bersama komunitas, salah satunya di Situ Gunung yang terletak di kaki Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat.

Foto "Morning at Situ Gunung", yang menggambarkan seorang pemancing melempar jala ke danau, menang dalam kompetisi The Children Eyes on Earth.

"Morning at Situ Gunung" yang diabadikan Michael Theodric.

Sumber gambar, Michael Theodoric

Keterangan gambar, "Morning at Situ Gunung" yang diabadikan Michael Theodric.

"Itu kompetisi yang paling berkesan karena saya diterbangkan ke Azerbaijan dan bertemu dengan fotografer National Geographic."

"Dia mengajarkan banyak hal tentang foto, termasuk apa arti foto yang bagus, yaitu foto yang indah dan memiliki cerita."

Michael mengaku tertarik pada fotografi karena melalui gambar, "kita bisa menceritakan satu hal pada orang lain" dan dia bermimpi untuk menjadi fotografer profesional jika sudah besar nanti.

Michael awalnya banyak belajar teknik fotografi dasar dari ayahnya, Eko Wibowo, yang juga hobi memotret.
Keterangan gambar, Michael awalnya banyak belajar teknik fotografi dasar dari ayahnya, Eko Wibowo, yang juga hobi memotret.