Situs barter Brasil pakai waktu sebagai mata uang

Sumber gambar, Reproduo
Maritza Reboucas bekerja lembur di apartemennya yang terletak di Sao Paulo, Brasil.
Dia mengajarkan teknik bernapas lewat Skype kepada seseorang yang baru ditemuinya dalam dunia maya beberapa menit lalu.
Bekerja sebagai pegawai bagian penjualan sehari-harinya, Maritza menyambi sebagai pelatih pernapasan demi membantu mereka yang memiliki keluhan kesehatan seperti kegelisahan dan stres.
Dia pernah menerima pelatihan yoga secara profesional dan bisa saja mematok harga Rp630.000 per sesi. Tidak sulit baginya untuk mencari pelanggan.
Namun dia tidak menerima mata uang Brasil reais, dolar Amerika Serikat, atau pound Inggris. Dia dibayar dengan mata uang maya bernama Time Money.

Sumber gambar, BBC World Service
Maritza adalah satu dari hampir 100.000 pengguna Bliive – situs Brasil yang memasarkan diri sebagai platform pertukaran waktu terbesar di dunia.
Bliive tampak dan terasa seperti sebuah situs jejaring sosial. Penggunanya saling bertukar jasa, termasuk les gitar, reparasi AC dan pembacaan kartu tarot, tanpa transaksi uang tunai atau kartu kredit.
Bagi setiap jam layanan yang diberikan, pengguna itu menerima Time Money, yang bisa mereka gunakan untuk membeli layanan lain.
Maritza menghasilkan hampir 40 jam layanan Bliive. Dengan Time Money senilai itu, dia bisa membuat situs teknik pernapasannya sendiri, termasuk dengan merek pribadi.
“Saya diberi tahu membayar seseorang untuk membuat situs itu tidak murah,” katanya.
“Namun saya bisa melakukannya dengan mencari seseorang untuk membantu di Bliive.”
Setiap orang menawarkan bantuan mereka dalam pecahan satu jam, dan mereka yang telah “menukar” Time Money bisa memberi skor dan ulasan kualitas layanan yang diberikan.
Bliive didirikan satu setengah tahun lalu oleh Lorrana Scarpioni, seorang mahasiswi humas.
Dia sekarang memiliki tim dengan selusin pegawai di Sao Paulo.

Sumber gambar, BBC World Service
Dia menemukan ide itu setelah menyaksikan film-film dokumentar mengenai ekonomi berbagai dan mata uang alternatif.
Menurutnya, bila orang-orang bersedia berbagi kursi sofa a la Couchsurfing – membiarkan orang tak dikenal masuk ke rumah mereka – tentunya terdapat potensi menukarkan hal sekecil satu jam bantuan.
“Bliive adalah jaringan kolaboratif penukaran waktu,” tambah Lorrana.
“Kami melihat ini sebagai gerakan yang menunjukkan orang nilai asli pertukaran dan cara mereka bisa mengembangkan diri dengan cara ini.”
Bliive mengambil konsep ekonomi berbagi – dipopulerkan oleh platform seperti Uber dan Airbnb – selangkah lebih maju.
Mereka membuat jalur baru antara pasokan dan tuntutan jasa, dan meninggalkan konsep uang tradisional.
Lebih dari 90.000 layanan ditawarkan di situs itu, membuatnya lebih besar dari situs barter lainnya, termasuk Swapaskill.com, BabySitter Exchange dan ChoreSwap.
Susah memperkirakan nilai Time Money, karena layanan Bliive pun semua berbeda-beda dalam sifat dan nilai.
Semua itu dilakukan dengan cara bebas pajak, karena pihak berwenang tidak bisa memberi pajak pada aktivitas barter.
Pengguna seperti Maritza bisa menghasilkan Time Money dengan sendirinya. Namun menghasilkan uang bagi pengguna Bliive lainnya sedikit lebih sulit.
Tidak semua perusahaan ekonomi berbagai terbukti sukses seperti Uber dan Airbnb – yang bernilai jutaan hari ini.
Bliive tidak menjual iklan, dan layanan itu gratis bagi penggunanya. Kebanyakan dana perusahaan kecil itu datang dari para investor yang tertarik melihat potensinya.
“Bila saya seorang investor perusahaan itu, saya tidak akan terlalu memedulikan kurangnya model keuangan yang jelas,” kata Lisa Gansky, penulis buku The Mesh: Why the Future of Business is Sharing.

Sumber gambar,
“Pada saat ini, pertukaran terus terjadi dan inventori pun bertumbuh, dan kami telah melihat pada platform digital lainnya bahwa setelah sudah ada komunitas atau aset yang lumayan banyak, terdapat banyak cara untuk menarik keuntungan.
“LinkedIn adalah contoh yang baik, mereka memberikan layanan gratis kepada perorangan dan meminta bayaran dari profesional.
“Saya tidak terlalu memikirkan menarik nilai, tapi untuk membuatnya dan memperluasnya.”
Namun Lorrana sedang mencoba menghasilkan uang dengan meluncurkan layanan berbayar bagi klien perusahaan.
Perusahaan-perusaahan itu bisa membayar Rp62.500 per bulan bagi setiap pegawai, yang bisa digunakan untuk layanan seperti pelatihan – lewat Bliive.
Salah satu perusahaan pertama mereka adalah sebuah pusat panggilan atau call center dengan 35.000 pegawai.
“Kadang perusahaan membawa orang lain dari luar untuk mengajarkan hal-hal seperti berbicara di depan umum. Namun Anda bisa saja memiliki pegawai dengan keahlian itu tanpa Anda sadari,” jelasnya.
“Kami menghubungkan perusahaan itu dengan bakat yang mereka miliki.”
Bisnis itu baru-baru ini membuka kantor di London, dengan bantuan dari program Sirius Inggris yang mencari ide-ide inovatif dari seluruh dunia.
Lorrana melihat potensi di pasar Eropa, dimana terdapat lebih banyak orang yang terbiasa dengan ekonomi berbagi – sebuah survey mengatakan lebih dari 30% orang di Inggris pernah menggunakan layanan seperti itu.
Dia juga melihat kesempatan di pasar termasuk Yunani dan Spanyol, dimana tingkat pengangguran masih tinggi dan orang-orang tidak memiliki uang untuk membayar jasa dan layanan.
“Transfer tanpa uang ini bisa menjadi alternatif baik agar orang-orang terus bertumbuh. Kami melihat banyak yang telah lulus dengan ijazah bonafide, namun tidak memiliki pekerjaan,” katanya.
Sementara Bliive bertujuan mencari keuntungan, Lorrana masih ingin memegang prinsip-prinsip utamanya.
“Kami menggunakan bakat dan nilai ini untuk membangun dunia yang lebih kolaboratif dan tidak kompetitif – berfokus pada nilai sang individu, dan bukan hanya nilai uang,” katanya.










