Ketika ketakutan berpisah dengan ponsel jadi fenomena dunia

Sumber gambar, Getty
Seorang pria tiba-tiba melompat ke panggung pertunjukan Broadway 10 menit sebelum pentas dimulai. Di tangannya sudah tersedia telepon seluler dan kabel pengecas untuk dicolokkan ke soket listrik.
Para penonton terperangah dan awak panggung terkejut. Mereka menghentikan musik pra-acara, mencabut ponsel sang pria, dan mengumumkan imbauan agar penonton mematikan ponsel masing-masing.
Seluruh adegan itu terekam jelas di ingatan Chris York, salah seorang penonton drama teater berjudul Hand To God di Broadway, New York, Amerika Serikat.
“Saya melihat sesuatu malam ini, hal yang tidak pernah saya bayangkan di pertunjukan Broadway. Saya melihat seorang penonton menaiki panggung tepat sebelum pementasan dimulai untuk mencolokkan ponselnya. Padahal, soket itu palsu dan merupakan properti panggung. Apakah etika atau pikiran sehat menurun begitu drastis??” tulis York dalam akun Facebook-nya.
Kasus tersebut ialah contoh bagaimana khalayak dunia semakin tergantung dengan ponsel. Hampir setiap hari kita pasti pernah melirik ponsel, risau karena daya baterainya segera habis.
Tak heran apabila nomofobia, alias kecemasan berpisah dari ponsel pintar, menjadi fenomena yang menguat di seantero jagat.
Penelitian dari Universitas Missouri menunjukkan nomofobia bisa memicu stres dan menyebabkan bahaya psikologis. Ketika dipisahkan dari ponsel pintar, “kita mengalami krisis jati diri dan kondisi psikis yang negatif”, menurut hasil penelitian.

Sumber gambar, AFP GETTY IMAGES
Tahan lama
Dulu situasinya tidak begini. Ketika ponsel hanya digunakan untuk menelpon, memastikan tingkat baterai yang cukup sangat mudah. Perangkat Anda memang tampak dan terasa seperti sebongkah batu bata, namun daya baterainya bisa tahan setidaknya tiga hari.
Jaman sekarang memastikan daya baterai ponsel dalam “terisi aman” bisa mendorong orang melakukan hal-hal yang tak terbayangkan, seperti berjinjit untuk mencapai soket listrik yang tinggi di bandara dan berjongkok di lantai restoran untuk mencapai soket listrik yang rendah.
Semakin cepatnya daya baterai ponsel terkuras disebabkan ponsel pintar kita dipenuhi aplikasi yang menghabiskan daya baterai.
“Baterai adalah elemen yang bekerja keras dan jarang diapresiasi dalam dunia peranti. Penyebabnya, teknologi baterai tidak semaju perangkat-perangkat lain di ponsel Anda,” kata koresponden BBC di Silicon Valley, Dave Lee.
Para perancang teknologi kini sedang bekerja mencari cara-cara terbaru untuk mengisi baterai. Salah satu model baterai ponsel terbaru dari Samsung hanya perlu waktu 10 menit untuk terisi penuh, kata Lee.

Sumber gambar, David Ramos Getty Images
Namun kemajuan dalam baterai mungkin sia-sia karena begitu banyaknya aplikasi yang menggunakan baterai pada saat ponsel dinyalakan.
“Pembuat perangkat juga mencari cara bagaimana agar perangkat lunak mereka bisa menghemat baterai dengan efektif,” kata Lee.
Mode daya-rendah akan tersedia pada versi iOS terbaru Apple yang bisa memperpanjang daya tahan baterai namun berdampak pada fungsi ponsel.
Selain perubahan pada ponsel itu sendiri, sekarang terdapat bisnis baru yang berfokus pada peranti mengecas yang bisa dibawa-bawa, itu pun jika Anda ingat untuk mengecas perangkat tersebut.
Greenlight Planet, yang merancang dan menjual lampu panel surya, menambahkan titik mengecas ponsel pada produknya, Sun King Pro, setelah banyak mendapat permintaan pelanggan. Padahal, masih banyak rumah di kawasan Afrika Timur yang memerlukan pencahayaan listrik.
“Begitu banyak rumah-rumah di pinggiran Afrika Timur mengatakan perlunya memiliki lampu, namun pada jaman sekarang ponsel adalah sebuah kebutuhan,” kata Radhika Thakkar, wakil presiden pengembangan bisnis perusahaan tersebut.









