Percakapan seorang wartawan Muslim dengan anggota ISIS

Banyak orang sulit membayangkan apa yang terlintas di benak seorang anggota ISIS. Namun seorang wartawan Muslim bernama Nina Arif berkesempatan berbincang melalui media sosial dengan seorang relawan ISIS bernama Abu Taubah yang berusia 24 tahun asal Inggris.
Beberapa bulan sudah berlalu sejak saya mendengar kabar dari Muthenna Abu Taubah.
Dia adalah seorang Muslim Inggris yang, seperti saya, bersekolah di pusat London. Seperti saya, dia juga menyukai seni bela diri. Tapi tidak seperti saya, dia pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS.
Muthenna Abu Taubah adalah nama samaran pria yang nama aslinya tidak pernah saya ketahui, namun telah menjadi teman mengobrol saya selama beberapa bulan.
Dia berdarah setengah Irlandia dan setengah Nigeria dan berpindah agama menjadi Islam.
Ketika pekan lalu saya berbicara dengan seseorang yang mengenalnya di Suriah, saya mendapatkan kabar bahwa dia telah meninggal, terbunuh dalam kecelakaan di sebuah pabrik pembuatan bom di Raqqa, “ibukota” ISIS yang mengklaim dirinya sebagai Negara Islam.
Saya pertama mengkontak Taubah pada akhir 2014, setelah bertanya sana-sini dan menghabiskan waktu berjam-jam di jejaring sosial.
Percakapan enam bulan
Saya mendekatinya sebagai seorang wartawan Muslim yang ingin memberikan perspektif berbeda dari cerita kebanyakan tentang sepak-terjang ISIS.
Dia setuju menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dan kami akhirnya berkomunikasi – melalui aplikasi WhatsApp – selama hampir enam bulan.
Awalnya, Taubah berbicara dengan formal dan memposisikan dirinya sebagai pejuang jihadi.
![Di Suriah, dia memasak bersama teman-temannya, mengadopsi seekor kucing dan menyukai “berpesta dengan halal” pada saat Idul Fitri, yang artinya “makan dan bersenang-senang dengan para ikhwan [saudara-saudaranya]”.](https://ichef.bbci.co.uk/ace/ws/640/amz/worldservice/live/assets/images/2015/06/26/150626080024_abu_taubah_624x351_bbc_nocredit.jpg.webp)
Dia mengarahkan saya ke halaman Twitter-nya yang memiliki banyak pengikut. Di halaman Twitter miliknya, dia menuliskan pengalamannya di Suriah, mengunggah foto-foto dirinya berpose dengan senjata AK-47 serta memberi saran kepada calon-calon jihadi.
Taubah telah “menandatangani kontrak darah” untuk membantu warga Suriah. Penderitaan mereka dan umat Muslim lainnya, menurutnya, adalah alasan yang mendorongnya untuk bergabung dengan kelompok itu.
“Lihat saja di Cina – para pria tidak boleh memelihara janggut dan umat Muslim dilarang berpuasa. Di Prancis – para perempuan tidak boleh memakai niqab (cadar). Lihat di AS dan Inggris – Anda bahkan tidak boleh membicarakan jihad.”
Mengapa memilih jalan Jihad?
Saya tidak mengacuhkan tautan-tautan yang dia kirimkan, yang kebanyakan berisi cerita mengenai dunia yang baik dan buruk, tetapi saya berempati terkait penderitaan kaum Muslim yang kebebasannya dibatasi.
Saya juga setuju, bahwa banyak umat Muslim yang tidak bersalah harus menderita karena konflik di luar negeri.
Namun kenapa Taubah (yang dalam bahasa Arab artinya “bertobat”) memilih jalan jihad untuk menanggapi ketidakadilan?

Sumber gambar, bbc
Bukankah ISIS juga melakukan ketidakadilan? Dalam waktu dekat, saya akan menanyakan itu kepadanya. Namun sebelum itu, saya ingin mengetahui kehidupan masa lalunya.
Setengah bercanda, saya bertanya berdasarkan apa yang saya ketahui mengenai jihadi lainnya: “Coba saya tebak...dalam kehidupanmu sebelum menganut Islam, Anda anggota geng, mengkonsumsi narkoba dan pernah dipenjara?” Dia menjawab, “no comment”.
Mengadopsi kucing
Dia hanya mengatakan bahwa masa lalunya “buruk” dan bahwa dia sekarang hanya melihat ke depan.
Taubah mulai terbuka sedikit demi sedikit. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia berkuliah di Inggris, menggemari Muay Thai dan catur, dan pernah memelihara anjing.
Dia mengatakan keluarganya tidak mengerti dirinya, namun dia sayang dan merindukan mereka – pihak keluarganya dari Nigeria (dia tidak kenal dengan keluarganya dari Irlandia).

Di Suriah, dia memasak bersama teman-temannya, mengadopsi seekor kucing dan menyukai “berpesta dengan halal” pada saat Idul Fitri, yang artinya “makan dan bersenang-senang dengan para ikhwan [saudara-saudaranya]”.
Taubah juga belajar bahasa Arab dengan bergaul dengan pejuang-pejuang lain. Dia mengatakan banyak pejuang asing hidup bersama keluarga mereka di Raqqa, di mana “lebih mudah untuk tidak melakukan dosa”.
Terlepas dari penampilannya dalam dunia maya, saya tidak yakin Taubah benar-benar terlibat dalam pertempuran.
Mengirim artikel Jihadi
Ketika saya bertanya apa yang dilakukannya untuk ISIS, dia mengatakan: “Kami bekerja untuk Allah pada pagi hari dan beristirahat pada malam hari.”
Dia mengatakan tidak bisa menceritakan detil karena alasan keamanan, dan dia juga tidak ingin membahayakan keluarganya. Namun saya sempat menduga dia tidak memberikan banyak informasi mungkin karena dia berencana pulang suatu saat.

Selain mengirimkan saya artikel-artikel jihadi, Taubah juga menanyakan saya pertanyaan seperti “berapa negara yang telah Anda kunjungi?” dan “apa hal terburuk yang pernah Anda lihat?”
Dia mengukur pengalaman dirinya dan membandingkannya dengan saya untuk membuktikan bahwa dia telah melalui banyak hal, walaupun berusia lebih muda.
Diwarnai perdebatan
Waktunya hampir jam 3 pagi dan saya sudah sangat mengantuk namun Taubah ingin mengetahui lebih banyak tentang saya. “Satu pertanyaan lagi…” katanya.
Dia ingin tahu apakah saya mempelajari Islam, ulama-ulama siapa saja yang saya ikuti, dan pendapat saya mengenai ISIS.
Saya membalas: “Saya tidak tahu, maka itu saya berbicara denganmu.”
Dia bertanya lagi: “Apa pendapatmu tentang saya?” Saya mencoba menjawab dengan netral, mengatakan saya pikir dia sangat bersemangat mengenai pekerjaannya.
“Itu saja? Bukan hal-hal buruk? Saya rasa Anda tidak jujur,” tuduhnya.

Dia benar. Karena itu saya mencoba lebih jujur: “Beberapa hal yang Anda katakan...itu bukanlah cara pandang yang seimbang. Saya khawatir Anda akan melakukan sesuatu yang nanti Anda sesalkan. Anda sangat muda dan akan melalui perubahan, cara berpikir Anda juga akan berubah. Al-Quran mengatakan Anda harus berpikir, merenungi, dan bertanya. Saya rasa Anda hanya melihat hitam dan putih.”
Ini pertama kalinya saya merasa Taubah kesal bahwa semua propaganda yang dia berikan kepada saya tampak tidak efektif.
Setelah mengatakan bahwa saya harus mempelajari agama saya, dia mulai mengeluh mengenai umat Muslim di Barat: “Mereka tidak menghargai para mujahidin. Malah mereka menghina mereka dan mengatakan mereka kasar. Namun mereka tidak mengatakan apa-apa mengenai para kuffar [kafir, non-Muslim]. Mereka sangat suka hidup dengan peraturan kafir...”
'Saya ingin meradikalisasi Anda'
Tidak lama setelah itu, saya menerima pesan pendek: “Saya harus mengatakan sesuatu. Sebaiknya kita tidak saling berbicara lagi.” Dan dengan permintaan maaf untuk hal-hal yang “tidak pantas”, Taubah mengakhiri perbincangan kami.

Saya menghormati keinginannya untuk tidak berkomunikasi, namun hanya untuk empat hari. Perasaan saya mengatakan dia ingin berbicara, namun dilarang. Saya membuka percakapan dengan bertanya kepada Taubah mengapa dia berubah pikiran, dan untuk pertama kalinya, merasakan bahwa dia ragu. “Saya tidak sempurna, saya bukan orang terbaik untuk mewakili ISIS,” katanya.
Namun meskipun itu, dia masih mengirimkan tautan ke sejumlah situs jihadi. “Propaganda lagi untukmu. Saya ingin meradikalisasi Anda kalau Anda belum sadar...saya tahu Anda pikir saya seorang teroris.”
Kali ini, saya memutuskan untuk mengirimkannya artikel-artikel oleh pemuka agama dan ulama yang menentang ISIS. “Saya juga ingin menderadikalisasikan Anda”.
Ditulis oleh "kafir"
Namun Taubah menepis semua itu, mengatakan semua pembahasan itu ditulis oleh “kafir” dan mulai lelah melihat saya tidak setuju dengan pandangan hidupnya. “Tidak ada manfaat berbicara denganmu. Saya membenci perbincangan ini...saya mengasihani pria yang harus hidup denganmu.”
Dia sering menghina saya namun masih berkomunikasi.
Taubah mengirim foto yang menunjukkan ketua kelompok Boko Haram asal Nigeria yang bersumpah setia dengan ISIS.
“Apakah kamu setuju dengan tindakan mereka?”, tanya saya mengacu pada aksi Boko Haram yang menculik siswi-siswi sekolah.

“Boleh menculik perempuan kafir selama kita tidak memiliki perjanjian dengan mereka.”
“Islam membolehkan penculikan dan penjualan gadis-gadis muda tak bersalah? Serius? Itu bisa saja adikmu,” saya bertanya.
“Jangan biarkan naff-mu [perasaan pribadi] merusak pandangan Anda.”
Saya bertanya lagi, "Anda memiliki anggota keluarga non-Muslim...Jadi, jujurlah kepada saya, bila ISIS ingin menculik dan menjual keluargamu yang non-Muslim ke dunia prostitusi, Anda tidak keberatan?”
Taubah marah ketika saya menanyakan ayat Quran yang membolehkan perdagangan manusia, dia mengatakan saya harus mencarinya sendiri dan mempelajari agama saya. “Saya lelah berdebat.”
'Apakah kamu intel?'
Pada saat itu akun Twitter Taubah ditutup dan dia tampak khawatir ketika saya mengatakan telah menemukan artikel tentang dia di internet. Saya tidak mengerti kenapa dia khawatir dan mengatakan bahwa seharusnya dia tidak perlu merasa heran, karena akun Twitter-nya dulu terbuka untuk umum dan tampak jelas dia sangat pro-ISIS.
Dia tidak setuju: “Tidak jelas bahwa saya anggota ISIS, bisa saja saya seorang pendukung.” Taubah mulai was-was. Dia curiga, “apakah kamu intel? Saya sudah tahu mengenai Anda…dan kesimpulannya tidak bagus”.
Perbincangan kami makin tidak jelas sejak Taubah menjadi enggan berdebat. Malah dia menyerah: “Kita melihat dunia dengan berbeda karena kita memiliki pengertian yang berbeda mengenai deen [agama].” Kemudian saya tidak mendengar lagi darinya.

Beberapa bulan berlalu dan saya sering memikirkan nasib Taubah. Saya akhirnya berhasil menghubungi seseorang yang mengenalnya dan saya menanyakan pertanyaan pertama yang terlintas di benak saya, “Apakah Abu Taubah masih hidup?”
Dia sudah meninggal. Dia terbunuh dengan sahabatnya di sebuah pabrik produksi bom di Raqqa. Saya diberitahu pria berusia 24 tahun itu sudah bertunangan dan berencana menikah sebelum kecelakaan itu terjadi. Namun dia pernah mengatakan: “Kematian Anda sudah tertulis. Ketika waktunya datang, Anda tidak bisa menghindarinya.”
Selain menerima tanggapan ala jihadi yang sudah diatur, perbincangan kami memberikan saya pemahaman mengenai seseorang yang mungkin tidak lagi memiliki keyakinan mutlak yang dibawanya pada awal percobaan.
Dia membuat saya berpikir, berapa banyak lagi anggota ISIS yang tampak kokoh namun juga mulai ragu-ragu.









