Ras Muhamad siarkan pesan perdamaian Bob Marley

Sumber gambar, AFP
Meski telah tiada, sosok Bob Marley masih menginspirasi sejumlah musisi dunia, termasuk Indonesia. Salah satu musisi reggae di Indonesia, Ras Muhamad, mengaku merasakan pengaruh positif Bob Marley dalam karya-karyanya.
Ras, yang selama ini aktif berkiprah dalam kancah musik reggae di Indonesia, mengatakan pesan-pesan perdamaian Bob Marley tertuang dalam lagunya yang berjudul Salam.
”Salam bisa bermakna dua, bisa bermakna kata sapaan kepada orang lain, tapi juga berarti damai. Melalui lagu ini, saya ingin memperkenalkan Indonesia, baik kebudayaannya maupun filosofinya, kepada dunia,” kata Ras kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.
Perdamaian yang dimaksud Ras dapat disimak melalu salah satu penggalan lirik lagu Salam:
Anytime you meet and greet anyone
whether it Namaste, Assalamualaikum
know that Salam means 'Peace unto you'
Salam salam salam

Sumber gambar, Getty
Lebih jauh, lirik lagu tersebut berbunyi:
Apa kabar kawan ku ucap rahayu
marang konco kabeh cah bagus cah ayu
(Apa kabar kawanku, kuucapkan sejahtera. Kepada semua kawan, yang tampan dan yang cantik)
semoga kedamaian terus menyertaimu
bersyukur atas kehidupan yang benar
dunia tak terbatas oleh hitam dan putih
melihat keindahan maha besar Hyang Gusti
matahari bersinar
damailah negriku
Nuansa reggae yang pernah dibawakan Bob Marley diakui Ras Muhamad mempengaruhinya.
”Bob Marley saya lihat sebagai duta musik reggae pertama di dunia. Walau beliau bukan pencipta reggae, tapi dialah yang membuka jalan bagi saya dan ribuan musisi lainnya untuk berkarya dan menyuarakan suara hati. Mungkin banyak orang awam tahu Bob Markey sebatas musisi, tapi saya melihatnya sebagai seorang pejuang dan revolusioner pembawa pesan damai yang luar biasa,” ujar Ras.

Sumber gambar, Getty
Pemakaman Marley
Pendapat Ras Muhamad mengenai Bob Marley mencerminkan bagaimana musisi asal Jamaika itu masih terus memberikan inspirasi walau dia telah dimakamkan di Nine Mile, sebuah desa berjarak 96 kilometer arah utara Ibu Kota Jamaika, Kingston, pada 21 Mei 1981 silam.
Marley meninggal dunia sepekan sebelumnya karena kanker.
Salah seorang yang menjadi saksi mata proses pemakaman Marley ialah Michael Ibo Cooper. Dia merupakan sahabat sang legenda pelantun tembang No Woman No Cry.
Kepada BBC, Cooper menjelaskan bagaimana ribuan rakyat Jamaika berbondong-bondong datang melayat. Sebab, bagi rakyat Jamaika, Marley bukan hanya penyanyi. Dia dianggap sebagai pahlawan nasional, bahkan ada yang memandangnya sebagai nabi.

Sumber gambar, AFP
“Orang-orang datang dengan berpakaian merah, hijau, dan emas. Dari bermil-mil jauhnya, orang-orang bertepuk tangan dan bernyanyi. Di pinggir jalan, orang-orang berjajar, begitu banyak orang sampai kota berikutnya. Saya belum pernah melihat pelayat sedemikian banyak mendatangi pemakaman seorang Jamaika seperti yang terjadi dalam pemakaman Bob Marley.”
Suasana ketika pemakaman pun bercampur baur tak ubahnya gabungan antara upacara agama Rastafari dan konser musik pop. Kematian Marley pada 11 Mei 1981 karena kanker disambut dengan kesedihan sekaligus keriaan.
“Ada emosi yang Anda biasa lihat ketika orang-orang berkabung. Namun, ada pula semacam keriaan ketika mendengar lagu-lagu yang berkumandang serta melihat musisi dan anak-anak tampil bermain musik. Jadi seperti konser musik rock atau konser reggae di tengah acara pemakaman. Kami cenderung merayakan, kami cenderung menganggapnya sebagai sebuah pesta seakan-akan mendiang masih hidup dan berada di sana,” paparnya.









