Suntikan Rp50 triliun dari mahasiswa asing di London

Para mahasiswa asing yang bersekolah di London memberi sumbangan kepada perekonomian sebesar £2,3 miliar atau sekitar Rp51 tirliun.
Survei -yang dipesan oleh London First dan perusahaan akuntansi PwC- menyarankan agar sasaran migrasi dikelompokkan kembali sehingga mahasiswa bisa mendapat status 'penggunjung' dan bekerja setelah selesai kuliah.
Kementrian Dalam Negeri Inggris berpendapat semua pendatang berdampak pada masyarakat, perumahan, dan layanan umum sehingga harus masuk dalam sasaran pembatasan migrasi.
Namun laporan terbaru menyebutkan mahasiswa asing merasa tidak 'disambut baik'.
Para mahasiswa asing yang menjadi responden survei berasal dari 70 negara dan masuk dalam 10 dari 39 lembaga pendidikan tinggi di London.
Selain menyumbang kepada perekonomian, survei juga menyimpulkan mereka 'mendukung sekitar 70.000 pekerjaan' di London karena uang yang dibelanjakan.
Jo Valentine -pimpinan London First, sebuah lembaga yang mewakili kepentingan bisnis- mengatakan bahwa retorika antiimigrasi membuat mahasiswa asing merasa tidak disambut dengan baik.
"Pengeluaran mahasiswa di sini adalah eksport masa modern: mereka membayar uang sekolah dan menyumbang besar pada belanja konsumen."
Survei memperlihatkan mahasiswa asing bukan beban bagi layanan umum karena mereka menyuntik £2,8 juta lewat belanja namun hanya menggunakan layanan umum senilai £540 juta.









