Wakaliwood: Hollywood versi Uganda dengan film-film fantastis

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Sebuah perusahaan yang membuat film laga di daerah kumuh mendapatkan banyak penggemar - satu di antaranya sungguh fanatik hingga rela meninggalkan rumahnya di New York untuk menjadi bintang film laga di Kampala, Uganda.
Desember 2011 - hidup Alan Hofmanis terasa berantakan.
"Saya diputuskan pacar saya sehari sebelum membeli cincin tunangan," katanya. Kemudian seorang temannya mengajaknya ke sebuah bar di Manhattan dan menunjukkan sebuah video untuk menghiburnya.
Video itu cuplikan film 'Who Killed Captain Alex?' yang disebut sebagai film laga pertama di Uganda. Video yang berdurasi satu menit itu menampilkan pertempuran bersenjata, perkelahian kung-fu dan efek spesial komputer yang 'fantastis'.
Tapi jika dilihat lebih dekat, Anda bisa melihat senapan-senapan itu ternyata tiruan senapan M60 milik Rambo dan dibuat dari besi serta logam bekas. Peluru-pelurunya dibuat dari kayu. Adegan perkelahiannya kebanyakan bertempat di kubangan lumpur. Sebuah suara dalam video itu menyebut film dibuat oleh Ramon Productions dan menyebut nomor teleponnya.

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Video itu menghipnotis Hofmanis. "Setelah menonton 40 detik, saya memutuskan akan pergi ke Uganda," katanya. "Saya sadar apa yang saya tonton itu tidak masuk akal sama sekali - namun karya yang sangat jenius."
Sebagai direktur acara festival film Lake Placid, Hofmanis memiliki mata tajam untuk melihat bakat yang berkembang, namun dia mengatakan apa yang ditontonnya itu "luar biasa" ambisius.
"Di dunia barat, bila Anda tidak memiliki modal yang cukup, Anda membuat film berisi dua orang mengobrol... Bukan film perang."
Dua minggu kemudian Hofmanis berangkat ke Uganda. Dia tidak menelpon lebih dulu, tekadnya sudah bulat.
Pada hari pertamanya di Kampala, dia sedang di pasar yang ramai ketika melihat seorang pria dengan kaus bertuliskan Ramon Film Productions.
Bertemu sutradara
Pria itu langsung dikejarnya. "Saya langsung berlari dan mengejarnya, jadi dia berlari juga menjauhi saya. Saya akhirnya menyusulnya dan setelah kami berdua menenangkan diri, saya mengatakan padanya: 'Saya hanya seorang penggemar dari New York - bisakah kamu membawaku bertemu si pembuat film?'"
Dia menjawab,"Ya," jadi Hofmanis naik membonceng motornya dan 30 menit kemudian sampai di Wakaliga, permukiman kumuh di pinggiran kota Kampala.
"Terlihat kambing-kambing di sekeliling kita, beberapa ayam juga... Air limbah mengalir tepat di depan rumah warga - dan itu juga ditunjukkan di film-film mereka karena itulah fakta hidup disini - yaitu debu, anak-anak dan hewan-hewan berkeliaran... dan semuanya sangat bahagia," katanya.

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Isaac Nabwana, sutradara film dan si jenius dibalik Ramon Productions, tidak kaget dengan kedatangan tamu ini. "Saya menanyakannya, kenapa tidak menelpon dulu? Dia mengatakan: 'Saya ini temanmu, saya harus bertemu langsung denganmu.' Saat itu saya sadar dia benar-benar teman sejati," katanya.
Nabwana menawarkan teh pada tamunya dan mereka pun ngobrol selama lima jam.
"Saya kira akan bertemu seseorang yang mirip dengan saya - agak sinting, hanya bermodal kamera dan teman-temannya - dan saya langsung sadar ini sungguhan," kata Hofmanis.
Hofmanis tiba di "Wakaliwood", di mana selama sepuluh tahun terakhir pembuat film otodidak Nabwana telah membuat lebih dari 40 film laga dengan modal minimalis. Dia tidak tahu pastinya berapa biaya yang dimakan setiap film, namun kira-kira sebesar US$200 (Rp 2.600.000). "Semangat adalah modal utama untuk membuat film disini," kata Nabwana.
Manfaatkan yang ada
Kru dan pemain-pemain film seluruhnya relawan. Mereka mengumpulkan properti darimana saja. Layar hijau yang digunakan untuk latar belakang dibeli dari pasar dan digantungkan di tembok.
Derek kamera dibuat dari bekas traktor - Dauda Bissaso, salah satu bintang filmnya - adalah seorang mekanik dan dialah yang membuat semua peralatan berat dan persenjataan.
"Dia pintar mengelas, dia bisa membuat apa saja," kata Hofmanis. Seorang anggota penting kelompok itu adalah Bruce U, seorang penggemar Bruce Lee yang mengkoreografi semua adegan perkelahian dan menjalankan sekolah kung fu untuk anak-anak di Wakaliga."

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Untuk menunjukkan luka tembak, mereka menggunakan kondom gratis dari puskesmas setempat, kemudian diisi dengan darah palsu - mereka meletus dan 'darah' pun mengalir dengan realistis. Dulu mereka menggunakan darah hewan, namun ketika salah satu aktor terjangkit penyakit brucellosis, penyakit yang ditularkan oleh sapi, mereka kemudian berganti menggunakan pewarna makanan.

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Banyak sekali darah palsu yang digunakan karena film-film tersebut penuh kekerasan - namun dengan elemen humor, berbeda dengan kekerasan yang dilihat Nabwana ketika tumbuh besar semasa perang saudara di Uganda (1981-86).
"Saya tidak memasukkan itu di film-film saya, apa yang pernah saya alami," katanya. "Saya memasukkan humor - kekerasan yang saya lihat dulu tidak lucu sama sekali."
Idola perfilmannya adalah Chuck Norris, walaupun dia menggemari Rambo dan The Expendables juga. Namun Hofmanis membandingkannya dengan sutradara-sutradara seperti Guillermo del Toro, Robert Rodriguez dan Martin Scorsese - "dalam segi kreativitas dan kontribusinya kepada dunia perfilman".

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Kecintaan Nabwana bagi perfilman mulai jauh sebelum dia diperbolehkan menonton film - kakaknya Kizito selalu pulang dari bioskop dan menceritakan ulang apa yang ditontonnya. "Saya ingat gerakan-gerakan yang dibuatnya...menceritakan karakter yang meremukkan orang, saya sangat menikmati itu," kata Nabwana. "Sampai sekarang pun saya masih bisa membayangkannya."
Otodidak
Semasa SMA, Nabwana bertekad untuk membuat film laga pada suatu hari. "Saya memiliki jiwa seni dan ingin membuat film - saya harus memenuhi impian itu," katanya.
Namun dia bahkan tidak memiliki cukup uang untuk tamat sekolah. "Jadi saya mulai membuat batu bata dan menggali pasir untuk dijual pada orang-orang sekitar sini," lanjutnya.
Akhirnya, pada tahun 2006 saat usianya 32 tahun, Nabwana memiliki uang cukup untuk membayar kursus perawatan komputer selama sebulan.
"Itu cukup untuk mengajarkan saya merakit komputer," katanya. Dia lalu belajar sendiri cara menggunakan program untuk mengedit seperti Premiere Pro dan After Effects, lalu meminjam kamera dari seorang tetangga. "Saya mulai dengan itu....saya bahkan tidak tahu cara menulis naskah. Tapi kemudian saya berpikir tentang aktor-aktor drama itu, bagaimana cara mereka melakukannya? Lalu saya mulai mengerti."

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Jualan sendiri
Tebaatusasula adalah film sukses pertamanya - judul film itu kira-kira "Mereka tidak membayar kami".
Film itu menggabungkan humor, laga dan sihir - salah satu karakter mengutuk seorang pria yang merebut istrinya. "Di film Tebaatusasula barang-barang berterbangan keluar dari rumah...kursi, televisi dan lain-lain, dan semua orang menyukai itu," kata Nabwana.
Namun dia masih harus menghadapi tantangan besar.
Nabwana tidak berhasil mendapatkan distributor untuk filmnya, jadi dia memikirkan solusi kreatif: para aktor dan anggota kru tidak dibayar, namun mereka mendapatkan setengah dari hasil penjualan DVD yang mereka sendiri jajakan.
"Kami berjualan sendiri, menghampiri rumah semua orang untuk menawarkan DVD," katanya. DVD film dapat dijual seharga 3.000 shilling Uganda (US$1 atau Rp 13.000) namun mereka hanya memiliki waktu satu minggu sebelum filmnya dibajak. Mereka kadang-kadang berdandan dengan kostum lengkap untuk meningkatkan penjualan.

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Saat sedang berjualan itulah mereka bertemu dengan Hofmanis.
Setelah bertemu, Nabwana setuju menuliskan peran untuk Hofmanis, yang bersemangat seperti anak berusia 10 tahun. "Ketika saya masih kecil, saya suka membuka lemari ayah saya dan bermain-main dengan barang-barangnya. Dua sabuknya akan saya kaitkan dan pakai seperti Indiana Jones lalu saya berpura-pura melawan pohon yang berperan sebagai orang Nazi. Berperan dalam film Nabwane terasa seperti itu," katanya.
Berguling-guling di lumpur
Dua hari setelah tiba di Ugana, Hofmanis langsung ikut syuting adegan perkelahian. Awalnya tidak berjalan lancar.
"Saya mencengkram seseorang dan kita berdua jatuh ke air limbah dan bergulat disana."
Semua orang terpana melihat seorang Amerika berguling-guling di air kotor. "Itu seperti pembaptisan saya. Hanya mereka yang tinggal di daerah kumuh akan mau melakukan hal tersebut - karena mereka tumbuh melihat limbah jadi bagi mereka itu biasa saja." Mereka menganugrahinya dengan nama Uganda: Ssali.

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Air limbah kotor berperan penting dalam semua film Nabwana. Dia sengaja menampilkannya karena itu penting untuk menunjukkan kondisi sekitar - film-filmnya dibuat di daerah kumuh, oleh orang-orang yang bermukim di daerah kumuh. Itu bagian dari daya tariknya. "Yang saya sadari...orang-orang ingin melihat kondisi dan situasi mereka dalam film. Mereka senang melihatnya dalam DVD," katanya.
Dia mengaku bahwa itu membuat distributor mundur, yang dituduhnya hanya ingin "mengikuti tren dunia Barat dan menjiplak Bollywood dan Hollywood".
"Saya akan menunjukkan dunia kita kepada orang luar, tempat dimana kita tumbuh besar," kata Nabwana dalam sebuah interview untuk film dokumenter Wakaliwood (2012). "Hidup seperti ini dijuluki 'ghetto life' namun Anda tahu hidup disini enak...dan juga keras."
Menetap di Wakaliga
Setelah kunjungan pertamanya pada bulan Desember 2011, Hofmanis berkunjung lagi sebanyak enam kali. Lalu pada bulan Maret 2014, pria berusia 45 tahun itu menjual barang-barangnya dan pindah untuk tinggal di Wakaliga. "Saya menjual semua barang-barang saya di New York. Awalnya saya memindahkan semua ke gudang namun tidak mampu membayar sewa sebesar US$ 22 (Rp 287.000) per bulan," katanya. "Saya ingin terlibat penuh."

Sumber gambar, Getty
"Dia sekarang bagian dari keluarga saya," kata Nabwana yang berusia 42 tahun dan tinggal bersama istrinya, Harriet serta tiga anak mereka. Hofmanis tinggal di rumah sebelahnya.
Mereka memiliki rencana besar untuk studio film. Sebuah proyek penggalangan dana di situs Kickstarter melampaui ekspektasi mereka. "Kami hanya meminta US$160 (Rp 2.000.000) untuk membuat film, namun mendapatkan US$13.000 (Rp 169 juta)," kata Hofmanis.
Mereka langsung pergi berbelanja, membeli mobil-mobilan dan truk-truk plastik untuk kemudian diledakkan.

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Kru film menghabiskan banyak waktu merundingkan persenjataan. Nabwana berencana membangun sebuah helikopter berukuran besar dari logam bekas. Dia sangat menyukai helikopter, dan masih ingat ketika dia dikejar helikopter semasa perang saudara ketika dia berumur 12 tahun. Berandalkan pengetahuan kakaknya yang didapatkan dari menonton film, mereka berdua mencoba lari menghindari helikopter itu - namun masih saja diikuti. Dia tertawa mengingat kejadian tersebut.
Sisi kelam
Wakaliwood saat ini sedang memproduksi enam film, termasuk Bad Black, yang konsepnya seperti kebalikan film Karate Kid dan dibintangi anak-anak Wakaliga. Mereka juga mengundang penggemar dari seluruh dunia untuk berkontribusi adegan laga mereka untuk "film laga urun daya massal pertama di dunia" - berjudul "Tebaatusasula: EBOLA".

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Hofmanis menggambarkan kehidupan di Wakaliwood sebagai "sebuah hari yang bermalas-malasan diselingi kejadian yang tak terduga". Sebagai satu dari beberapa orang kulit putih di sana, tuntutannya sebagai bintang film sangat tinggi. Dia pernah memainkan peran Yesus dalam sebuah video musik yang sangat sukses. Untuk sebuah peran lain dia pernah berkostum bangkai kambing "jadi ketika para kanibal menikam saya mereka akan menarik usus kambing dan bukan usus saya."

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM
Namun pada blog pribadinya - Mud, Blood & Wooden Guns - dia menceritakan sisi kelamnya. Berat badan Hofmanis turun 25 kg sejak kedatangannya 15 bulan lalu. Pada bulan Oktober tahun lalu dia membandingkan situasinya dengan film tahun 70an, Sorcerer: "Saya berada di negara dunia ketiga tanpa jalur untuk pulang...situasi ini tampak buruk."
Dia menukar kehidupan nyamanya untuk hidup di daerah kumuh - tanpa air dan pemipaan, tanpa sistem pembuangan limbah dan pasokan listrik yang tidak pasti. "Orang-orang bingung karena mereka melihat kita memiliki akses internet - sebuah modem 3G yang saya bawa kesini - dan membuat film, jadi mereka tidak mengira ini daerah kumuh," kata Hofmanis.
"Tapi itu intinya. Wakaliwood sangat terbatas. Namun mereka masih bisa melakukan hal-hal hebat.
"Ini hanya permulaannya, atau Awal dari Awalnya."
Namun pada akhirnya, mungkin kisah Hofmanis lah yang menarik perhatian Hollywood.

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM

Sumber gambar, WAKALIWOOD.COM












