#TrenSosial: Simbol cicak, buaya di tengah ketegangan KPK-Polri

Sumber gambar, BENG RAHADIAN
Kata kunci dan gambar-gambar Cicak vs Buaya kembali muncul di tengah ketegangan KPK-Polri menyusul penangkapan dan kemudian penagguhan penahanan wakil ketua KPK Bambang Widjojanto.
<link type="page"><caption> Tagar #SaveKPK</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150122_trensosial_savekpk" platform="highweb"/></link> menjadi yang paling banyak dipakai dengan lebih dari 260.000 kali sampai Senin (26/01) dengan gambar cicak dan buaya untuk menunjukkan kekisruhan.
Komikus Beng Rahadian di antaranya yang menambah gambar banteng dan tagar #SaveKPK dalam tweetnya menyusul <link type="page"><caption> penangkapan Bambang Jumat lalu.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150122_trensosial_livepage_bambang_widjojanto" platform="highweb"/></link>
Sementara animator Wahyu Aditya menulis, "Cara #BeraniMenggambar Cicak dari huruf "C".
Penggunaan cicak dan buaya awalnya dipakai oleh mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Susno Duadji dalam wawancara pada 2009, dengan mengumpakakan KPK seperti cicak yang berani-menyadap telepon polisi yang diistilahkan sebagai buaya.
Dari nyamuk sampai drakula
Selain cicak dan buaya, gambar tikus juga banyak digunakan di tengah polemik KPK-Polri ini, termasuk oleh Wahyu Adytia, yang menulis dalam akun Twitternya, "Cara #BeraniMenggambar Menangkap Tikus Koruptor dari huruf “KPK”!! #SaveKPK.

Sumber gambar, BBC World Service
BBC Indonesia menerima 115 komentar dalam laman Facebook terkait simbol korupsi.
Simbol yang paling populer masih tikus. "Soalnya tikus kan mencuri di saat orang lagi tidur atau lagi lengah," kata Wahid Doha.
Dari komentar tersebut, ada 48 simbol yang pengguna usulkan dari gurita, nyamuk, ikan piranha, hingga drakula.
Simbol lain yang mendapat dukungan adalah lintah, babi, bunglon, dan kodok. Rica Syafira menulis, 'Lintah cocok juga, suka menghisap darah sampe ke ubun ubun.'
Namun ada juga yang tak sependapat. "Kasihan ya, binatang yang tidak tahu apa-apa justru dikambinghitamkan. Padahal kalau memang ingin menunjuk siapa koruptor, tinggal pampang saja fotonya, biar semuanya tahu," kata Ardian Rakha.












