One Direction berjaya di American Music Awards

Grup musik pria asal Inggris, One Direction, meraih tiga penghargaan termasuk ‘Artis Tahun Ini’ dalam acara American Music Awards di Los Angeles, Minggu (23/11) malam waktu setempat.
Kelompok beranggotakan lima orang tersebut juga mendapat predikat band, duo, atau kelompok terfavorit serta album pop/rock terfavorit untuk album mereka yang berjudul Midnight Memories.
“Luar biasa karena kami bekerja begitu keras untuk dua album terakhir,” ujar Liam Payne, salah seorang personel <link type="page"><caption> One Direction</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/11/141110_hiburan_one_direction" platform="highweb"/></link>.
Musisi yang juga menyabet tiga penghargaan ialah Katy Perry. Penyanyi yang sedang menjalani tur musik di Australia itu mendapat predikat ‘lagu tunggal tahun ini’ untuk tembang Dark Horse, artis perempuan terfavorit, serta artis pop/rock terfavorit.
Kritik
Dalam acara tersebut, penyanyi Taylor Swift mendapat Penghargaan Dick Clark guna mengenang pendiri American Music Awards yang meninggal pada 2012 lalu.
Saat menyampaikan pidatonya, Swift mengemukakan pesan yang sarat dengan pesan mengenai hak cipta.
“Ketika Anda ke luar dan berinvestasi pada musik dan album, Anda sebenarnya mengatakan bahwa Anda meyakini yang saya yakini—bahwa musik berharga dan musik seharusnya dikonsumsi dalam bentuk album, serta album seharusnya dikonsumsi sebagai seni dan diapresiasi,” kata Swift.
Album terkini Swift yang berjudul <link type="page"><caption> 1989</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/08/140820_musik_taylor_swift_album" platform="highweb"/></link> mencapai angka penjualan tertinggi di AS selama 12 tahun terakhir, sebanyak dua juta kopi.
Namun, sesaat setelah album itu dirilis, Swift mencabut semua katalognya dari jasa layanan <link type="page"><caption> Spotify</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/07/130715_musik_radiohead_spotify" platform="highweb"/></link>. Swift menuding Spotify tidak menghargai seniman dengan membayar terlalu sedikit.
Sebaliknya, pendiri Spotify, Daniel Ek, mengatakan perusahaanya telah membayar US$2 miliar kepada musisi dan penulis lagu sejak diluncurkan pada 2008.









