Dokter di Pakistan sediakan layanan gratis

Sistem kesehatan publik di Pakistan terhambat sejumlah masalah seperti korupsi, kesalahan manajemen dan kekurangan sumberdaya. Tetapi salah satu rumah sakit umum di Karachi menyediakan jaminan kesehatan gratis bagi jutaan orang, yang digagas oleh seorang pria yang terinspirasi dari jaminan kesehatan nasional di Inggris.
Dr Adib Rizvi memulai layanan kesehatan gratis ini pada tahun 1970an, karena pengalaman masa lalu yang tak dapat dilupakan seumur hidupnya, ketika menyaksikan orang miskin yang ditelantarkan katena tak mampu membayar biaya perawatan.
Adib Rizvi hampir berusia 17 tahun ketika kerusuhan antara komunitas Hindu- Muslim memaksa dia untuk berimigrasi dari India ke negara baru bernama Pakistan, seperti dilaporkan oleh wartawan BBC News Shahzeb Jillani.
Tanpa keluarga, dia menghabiskan waktu sebagai seorang mahasiswa kedokteran di Karachi pada 1950an dan tinggal di asrama.
"Saat itu saya memiliki banyak waktu untuk mengetahui apa yang terjadi di rumah sakit -rumah sakit kami," kenang dia.
Apa yang dia alami itu memberikan dampak yang mendalam seumur hidupnya.
"Saya melihat orang diperlakukan sewenang-wenang karena tidak mampu membayar perawatan. Saya melihat orang lanjut usia membawa anting-anting mereka dan mengadaikannya untuk membayar pengobatan.
"Orang akan memohon untuk pelayanan kesehatan, tetapi mereka akan direndahkan. Itu seperti orang diminta untuk mengadaikan kehormatan mereka untuk mendapatkan sebuah layanan yang menurut saya seharusnya menjadi hak mereka sebagai warga negara."
Setelah menyelesaikan lulus kuliah kedokteran di Karachi, Dr Rizvi melanjutkan studi ke Inggris melalui beasiswa. Dia menghabiskan waktu untuk bekerja di rumah sakit.
"Saya terinspirasi oleh Layanan Kesehatan Nasional NHS, yang menunjukkan kepada saya bahwa memberikan layanan kesehatan gratis dapat dilakukan.
Tak mudah
Tetapi ketika dia kembali ke Pakistan pada 1971 dan bergabung dengan Rumah Sakit di Karachi sebagai asisten profesor bidang urologi, banyak orang disekitarnya mengatakan bahwa dia membicarakan sesuatu yang tak mungkin terjadi.
"Mereka mengatakan hal itu tak dapat dilakukan disini." Saat itu dia tak punya pilihan.
Dia kemudian membangun rumah sakit swasta sendiri, sambil tetap bekerja untuk rumah sakit pemerintah.

Tetapi dia kemudian berkomitmen terhadap rumah sakit publik, karena menurut dia, Anda harus berkontribusi terhadap institusi sektor publik, kemudian membantu banyak orang. "Dan itu yang ingin saya lakukan."
Awalnya sulit karena terbatasnya dana, tempat tidur, obat-obatan, dan peralatan operasi. Dan juga tidak adanya antusiasme diantara pejabat kesehatan untuk mengubah atau meningkatkannya.
Lalu dia mendapatkan dukungan dari jaringan terdekat dan juga para penyumbang. Lalu sebuah tim dokter dan tenaga medis pun mulai bekerja sama. Mereka mengatur segalanya untuk meningkatkan layanan, termasuk menambah peralatan medis.
Rumah sakit itupun melakukan eksperimen medis dengan mentransplantasi organ tubuh. Dr Rizvi dan timnya sukses melalakukan transplantasi ginjal pertama di Pakistan pada Desember 1985.
Layanan dan fasilitas yang diberikan oleh Institut Urologi dan Transplantasi Sindh SIUT terus meningkat, dan saat ini telah memiliki 800 kamar.









