Depresi pasien kanker kerap diabaikan

Sumber gambar, Thinkstock
Ribuan pasien kanker yang mengalami depresi klinis tidak mendapat terapi psikologi yang diperlukan karena terlalu berfokus pada aspek fisik mereka, demikian diungkap hasil penelitian terkini.
Melalui serangkaian penelitian yang menganalisa data 21.000 pasien kanker di Skotlandia, para ilmuwan Universitas Edinburgh dan Universitas Oxford mendapati bahwa publik kerap berasumsi depresi adalah bagian alami dari gejala kanker.
Namun, menurut para ilmuwan tersebut, asumsi itu salah.
Dari 21.000 pasien, sebanyak 1.200 hingga 2.700 pasien menderita depresi klinis. Sebanyak 75% dari pasien-pasien kanker yang depresi itu tidak mendapat perawatan psikologi karena mereka menganggap hal tersebut tidak perlu karena asumsi yang keliru.
Alasan lain mengapa mereka tidak menjalani perawatan psikologi ialah karena tenaga medis berfokus pada aspek fisik, alih-alih kesehatan mental.
Terapi
”Dokter spesialis onkologi seperti saya melihat bagaimana depresi berimbas begitu dahsyat terhadap pasien kanker. Ini adalah area yang belum ditangani sepenuhnya,” kata Dr Stefan Symeonides dari Universitas Edinburgh.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan jurnal ilmiah The Lancet, depresi pada pasien kanker bisa dikurangi bertahap dengan mendorong pasien untuk lebih aktif, menjalankan terapi pemecahan masalah, dan penggunaan obat-obatan anti-depresi.
Dalam studi terhadap 500 pasien kanker, gabungan terapi tersebut dapat mengurangi depresi.
Pasien-pasien mengaku letih mereka berkurang, rasa nyeri dan sakit menurun, dan kecemasan berkurang.









