DJ Jerman berburu PH tua Afrika

Sumber gambar, bbc
Seorang DJ asal Jerman menjadi arkeolog musik funk dengan mengunjungi Afrika untuk menemukan piringan hitam tua, yang sudah tidak disukai orang dan sebagian sudah berjamur.
Frank Gossner kemudian memperbaiki PH tersebut dan memainkannya di berbagai tempat di dunia, lapor wartawan BBC Tanvi Misra.
Dia mulai tertarik dengan vinyl Afrika sepuluh tahun lalu di Amerika Serikat.
Saat memeriksa tumpukan 200-300 PH produksi Tabansi Nigeria di Philadelphia, dia menjadi tergila-gila <link type="page"><caption> Afrobeat karya pemusik</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/01/140126_hiburan_musik_youssou_ndour.shtml" platform="highweb"/></link> Ghana Pax Nicholas.
"Beberapa bulan kemudian saya memutuskan pindah ke Afrika Barat," katanya.
Maka Gossner pun memulai pencariannya di Conakry, ibukota Guinea di tahun 2005.
Piringan hitam sudah menjadi sejarah kuno di sana. Satu satunya toko PH yang ditemukannya adalah sebuah peti kemas berukuran lebih enam meter.
Tetapi kemudian Frank menemukan LP dalam jumlah besar yang sudah dilupakan orang di gedung pemerintah korban pemboman dan gudang yang sudah tidak dipakai.

Sumber gambar, ellon paz
Tumpukan setinggi dua meter
Salah satu temuannya yang paling mengejutkan adalah di Nigeria.
Di lantai bawah tanah sebuah bangunan, seseorang yang sebelumnya memiliki jaringan toko musik, menumpuk PH setinggi hampir dua meter dalam ruangan setinggi tiga meter.
"Sebagian besar jendela pecah sehingga serangga masuk dan bersarang diantara tumpukan vinyl. Nyaris seperti terjadi tsunami PH memenuhi seluruh ruangan," katanya.
Gossner kemudian memasarkan kembali sejumlah album Afrika.
Jika ada perusahaan yang bersedia membayar, dia akan memberikan pemasukan ke seniman aslinya.
Gossner sendiri melakukan ini karena kesenangan pribadi disamping juga untuk mempromosikan diri sebagai DJ.









