RS korban sunat perempuan tidak beroperasi di Afrika

sunat perempuan

Sumber gambar, bbc

Keterangan gambar, Puluhan wanita korban mutilasi tidak mendapatkan perawatan karena RS tidak beroperasi

Korban mutilasi alat kelamin wanita di Burkina Faso Afrika kesulitan mendapatkan layanan operasi untuk mengurangi sakit dan meningkatkan kenikmatan seks.

Sebuah rumah sakit yang didirikan gerakan Raelian di Amerika Serikat untuk mengatasi hal ini tidak pernah beroperasi, seperti dilaporkan wartawan BBC Sue Llyods-Roberts.

Anggota dewan rumah sakit setempat, Banemanie Traore, mengatakan meskipun pemerintah mengizinkan pembangunan gedung rumah sakit, RS tersebut akhirnya tidak boleh dioperasikan.

Traore yakin campur tangan kementerian kesehatan menghentikan proyek tersebut karena alasan keagamaan.

Dia mengatakan kelompok Katolik yang berpengaruh di negara tersebut menekan pemerintah. "Mereka tidak ingin wanita menikmati seks."

Traore mengatakan 130 juta wanita <link type="page"><caption> Afrika</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/topik/afrika/" platform="highweb"/></link> mengalami mutilasi sehingga tidak bisa menikmati seks dan seharusnya izin rumah sakit diberikan jika memang ada pihak yang ingin mendirikannya.

pleasure hospital

Sumber gambar, bbc

Keterangan gambar, Pemerintah melarang operasi RS karena dianggap menyebarkan agama

Jangan menyebarkan agama

Menteri Kesehatan Burkino Faso, Lene Sebego, mengatakan kepada wartawan Reuters bahwa "organisasi kesehatan seharusnya memusatkan perhatian kepada penyelamatan kehidupan bukannya mempromosikan agama."

Kelompok Raelian yang berhasil menghimpun dana sebesar US$400.000 mempercayai UFO dan tujuan kehadiran kita di bumi adalah untuk mendapatkan kenikmatan.

Sementara itu sebuah tim dokter dari Amerika yang bekerja secara sukarela telah tiba di negara itu dan sekarang mereka tidak memiliki tempat untuk melakukan operasi.

"Saya datang karena saya meyakini mutilasi alat kelamin wanita adalah suatu kejahatan terhadap kemanusiaan," kata Dr Marci Bowers satu dari lima orang anggota tim medis dari AS tersebut.

Terlepas dari perdebatan yang berlangsung, yang jelas penduduk wanita Burkina Faso yang kehilangan kesempatan mendapatkan operasi untuk mengatasi akibat mutilasi.