Bahasa etnik Burma diajarkan di sekolah

Tari Mon
Keterangan gambar, Bahasa daerah akan menggantikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.

Pemerintah Burma mengatakan mulai sekarang sekolah-sekolah di negara bagian yang mayoritas penduduknya berasal dari satu etnik boleh mengajarkan bahasa suku di sekolah-sekolah pemerintah.

Perubahan ini sejalan dengan reformasi yang ditempuh pemerintah pimpinan Presiden Thein Sein belakangan ini. Sebelumnya sekolah-sekolah negeri tidak diizinkan memberikan pelajaran bahasa enik.

Dengan pelonggaran tersebut maka anak-anak sekolah di negara bagian yang ditempati oleh kelompok-kelompok etnik boleh belajar bahasa masing-masing sebagai bahasa kedua.

Sebelumnya mereka memilih bahasa Inggris sebagai mata pelajaran bahasa kedua di sekolah-sekolah negeri.

Dampak bahasa Inggris

Bahasa pertama yang akan diajarkan di sekolah-sekolah pemerintah adalah Mon.

Naing Ngwe Thein, mantan Dirjen Pendidikan yang kini menjabat sebagai ketua Partai Demokratik Mon, mengatakan secara praktis siswa dari etnik Mon dapat mempelajari bahasa Mon karena, misalnya, mereka tertarik untuk mempelajarinya.

"Tetapi saya pikir siswa lain yang tidak berasal dari etnik Mon tidak akan mempelajarinya di sekolah yang sama," kata Naing Ngwe Thein kepada BBC Burma.

Namun hal yang dikhawatirkan, kata Naing Ngwe Thein, adalah kemampuan anak-anak etnik Mon dalam berbahasa Inggris. Mereka diperkirakan akan tertinggal bila tidak belajar sendiri di luar jam sekolah.

Burma memiliki lebih dari 100 kelompok etnik. Di antara kelompok terbesar adalah Shan, Kachin, Rakhine dan Kayin. Hanya puluhan etnik yang masih mempertahankan bahasa tulis mereka.