Komputer Iamus menggubah musik klasik

Prof Francisco Vico
Keterangan gambar, Prof Francisco Vico menjelaskan prinsip Iamus dalam menggubah komposisi musik klasik.

Di dalam sebuah gedung di Taman Teknologi Malaga -yang sering disebut Lembah Sillicon-nya Spanyol- seorang pianis memperlihatkan kepada ahli perangkat lunak komputer tentang seberapa banyak nada yang bisa dimainkan oleh satu tangan.

Mereka sedang bekerja dalam proyek musik yang diberi nama Iamus, yang diambil dari tokoh mitologi Yunani yang bisa berbicara dengan burung.

Proyek itu pada prinsipnya mengajarkan komputer untuk menggubah komposisi musik, seperti dilaporkan wartawan BBC, Sylvia Smith.

"Kami baru memberi informasi kepada komputer bahwa tidak mungkin bagi seorang pianis untuk memainkan 10 nada dengan satu tangan. Kita hanya punya lima jari dalam satu tangan," tutur Gustavo Diaz-Jerez, seorang pianis dan sekaligus konsultan perangkat lunak.

Dengan informasi dasar itu, tambah Jerez, maka komputer akan mampu menyusun komposisi musik klasik hanya dengan menekan satu tombol.

Proses evolusi

Memerintahkan komputer untuk menggubah komposisi musik merupakan lompatan penting dalam hubungan teknologi dan musik.

The London Symphony Orchestra
Keterangan gambar, The London Symphony Orchestra sudah memainkan beberapa komposisi karya Iamus.

Profesor Fransisco Vico, seorang ahil AI atau Kecerdasan Buatan, menjelaskan Iamus menggunakan proses evolusi sebagai basis operasi.

"Setiap komposisi memiliki inti musiknya dan menjadi lebih rumit dan berevolusi secara otomatis."

Perangkat lunak Iamus jadi mampu untuk menyusun tatanan musik yang tidak terhitung tanpa bantuan manusia dengan pemetaan informasi yang diterimanya. Peran manusia baru diperlukan untuk memainkannya secara langsung.

"Bermula dengan struktur yang rumit di dalam komputer. Amat berbeda dengan musik lain yang juga dihasilkan komputer."

"Iamus melakukan hal yang berbeda karena memproyeksikan kompleksitas yang ditanamkan ke dalam komputer menjadi struktur musik."

Informasi yang diberikan kepada Iamus lebih bersifat khusus, seperti jenis instrumen yang harus digubah dan durasinya.

Kegiatannya dikendalikan dengan sistem algoritme yang dilandaskan dari proses evolusi tadi.

Musisi masih perlu

Komposisi produk Iamus sudah direkam oleh London Symphony Orchestra, yang merupakan pertama kali bagi orkestra itu untuk memainkan komposisi yang digubah komputer.

"Komposisinya bukan yang bisa Anda dengar dan kemudian Anda pergi sambil bersiul meniru nadanya," tutur pemain biola dan direktur LSO, Lennox McKenzie.

"Amat besar suaranya. Mengingatkan saya pada Varese atau Frank Zappa."

Dalam uji coba, seorang ahli musik Inggris, Peter Russel mengatakan komposisi itu "artistik dan menenangkan" dan baru tahu komposernya -yaitu komputer Iamus- setelah mendengarkannya.

Mungkin agak mengkhawatirkan jika kelak komputer menjadi komposer musik klasik yang bisa mengimbangi Mozart, Haydn, Brahms, dan <link type="page"> <caption> Beethoven</caption> <url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/10/121026_beethovenscetch.shtml" platform="highweb"/> </link>.

Bagaimanapun musisi -paling tidak sejauh ini- tetap diperlukan guna memberi sentuhan personal berdasarkan bakatnya untuk menafisrkan produk mesin dan mementaskannya secara langsung.