Museum Louvre membuka sayap baru di Prancis

Pekan ini, salah satu museum paling terkenal di dunia melebarkan sayap di utara Prancis. Tapi apa saja yang menjadi koleksinya?
Satu dekade telah berlalu sejak Perdana Menteri Jean-Pierre Raffarin memutuskan bahwa harta karun Louvre seharusnya tidak hanya dipamerkan untuk warga Paris dan wisatawan saja: Koleksi luar biasa museum itu harus bisa dinikmati di seluruh penjuru Prancis.
Lokasi yang dipilih untuk adik Louvre, mengalahkan persaingan dari Boulogne dan Amiens, adalah Lens.
Presiden Louvre adalah Henri Loyrette. Ia mengakui bahwa bahkan di Prancis sekali pun banyak orang yang tidak mengetahui dimana lokasi Lens. “Tapi saya yakin Lens adalah tempat yang tepat untuk kita datangi.
“Louvre adalah untuk seluruh bangsa, tetapi itu yang kita lupakan di abad ke-19 dan 20.”
Dua tahun yang lalu, Pompidou Centre di Paris membuka cabang besar di Metz di Prancis timur.
Louvre kini mengikutinya tapi Loyrette mengatakan Lens adalah pilihan yang jauh lebih ambisius.
“Kota ini dua kali dihancurkan, pada Perang Dunia Pertama dan ketika pertambangan batu bara berakhir pada 1960an.”
“Jika kami memilih tempat seperti Aix-en-Provence, yang memiliki daya tarik wisata, hal itu akan sia-sia. Ini adalah hal yang besar bagi kami.”
Pameran gratis
Lens tidak memiliki banyak daya tarik wisata. Bahkan akomodasi hotel pun jarang. Namun lokasinya, yang menjadikan kota itu sasaran di masa perang, kini dapat menjadi aset.

Lens terletak 75 menit dari Paris dengan TGV dan 50 km dari perbatasan Belgia. Rencana museum berasumsi bahwa ribuan pengunjung akan datang dari Belgia dan Belanda, demikian juga dari Jerman dan Inggris.
Gedung berwarna abu-abu keperakan itu akan mengejutkan beberapa orang dengan kesederhanaannya. Gedung itu tidak akan tampak aneh jika ditempatkan di kampus universitas modern dan sangat tidak mirip dengan Louvre yang asli di Paris.
Biaya yang dibutuhkan sekitar £125 juta dan sebagian besar dana dihabiskan untuk membuat taman besar yang mengelilingi gedung dan menghubungkannya dengan pusat kota.
Kini karya seni utama di Louvre-Lens adalah ‘Liberty Leading the People,’ sebuah lukisan karya Delacroix dari tahun 1830. Di sampingnya adalah potret Ingres dari Louis-Francois Bertin.
Di Lens, Louvre mengambil pendekatan baru terhadap display mereka yang disebut oleh Loyrette sebagai “transversal.”
“Tidak seperti Paris, dimana sebagian besar koleksi disusun berdasarkan kronologi atau geografi. Di galeri utama, kami menyatukan lukisan dan patung dari dunia kuno hingga abad ke-19.
Selain koleksi permanent, akan ada pameran temporer, yang pertama berfokus pada Renaissance dan diikuti oleh Rubens. Idenya adalah menarik pengunjung museum baru dan pengunjung yang sudah akrab dengan Louvre di Paris untuk melihat obyek-obyek familiar.
Pada saatnya, hamper semua yang ada di Louvre dapat dipamerkan di Lens selama berbulan-bulan bahkan tahunan. Pengecualian berlaku hanya untuk Mona Lisa karya Leonardo da Vinci yang karena kerapuhannya tampaknya tidak akan pernah meninggalkan Paris.
Meski resmi dibuka pekan ini, masyarakat umum baru dapat memasuki museum pada 12 Desember.
Louvre-Lens diharapkan akan menarik 500.000 pengunjung dalam satu tahun dibandingkan dengan kakaknya di Paris yang menarik 9 juta orang setiap tahunnya di Paris.









