Warga aborijin lebih banyak dipenjara

warga Aborijin
Keterangan gambar, Jumlah warga Aborijin saat ini diduga kurang dari 500 ribu jiwa

Kelompok hak asasi mengecam pemerintah Australia karena tingginya proporsi jumlah warga aborijin yang dipenjara dibandingkan warga negara biasa.

Amnesty Internasional menyatakan "kemarahan" karena suku asli aborigin yang masuk penjara jauh lebih tinggi kemungkinannya dibandingkan warga lain.

Amnesty mengatakan tidak banyak yang dilakukan setelah dilakukannya penyelidikan historis soal kematian warga aborijin dalam tahanan pada tahun 1991.

Penyelidikan itu menelurkan lebih dari 300 rekomendasi, namun jumlah suku asli Australia yang dipenjara meningkat 50% dalam dua puluh tahun terakhir, kata Amnesty.

"Saya tidak tahu akan menyebut apa lagi selain memalukan bahwa setelah dua puluh tahun berlalu, warga aborijin masih ada yang sekarat di penjara," kata Rodney Dillion, pegiat hak suku asli Amnesty.

Sejak penyelidikan Komisi Kerayaan tahun 1991, 269 warga aborijin meninggal ditahanan dan juru bicara komunitas Aborijin, Bev Manton mengatakan mereka lebih mudah dipenjara.

Pengakuan pemerintah

Jaksa agung federal Australia Robert McClelland mengakui pemerintah harus berupaya lebih keras untuk mencegah warga aborigin masuk penjara.

"Kita telah melihat kemajuan pada banyak bidang, dan ada penurunan drastis dalam jumlah warga asli yang meninggal dalam tahanan," kata McClelland kepada kantor berita AFP.

Sementara itu, kepala dewan Aborijin New South Wales, Bev Manton mengatakan warganya lebih mudah dipenjara.

"Warga aborijin 14 kali lebih mudah dipenjara dan jumlah tahanan hampir 30 persen populasi penjara, walaupun kami hanya kurang dari tiga persen dari jumlah total penduduk," kata Manton.

Manton mengatakan hukuman yang lebih keras tidak berguna bagi warga suku asli itu dan ia menyerukan langkah pencegahan dan rehabilitasi.

"Setelah 20 tahun (keluarnya hasil penyelidikan), pendekatan baru bukan saja diperlukan namun sudah lama terlewati," katanya.

Warga aborigin diduga berjumlah satu juta jiwa saat mulai warga kulit putih mulai datang, namun kini diduga hanya 470.000.

Pemerintah partai Buruh menyampaikan permintaan maaf kepada suku Aborijin tahun 2008 namun masih belum berhasil meningkatkan faililitas kesehatan, meningkatkan harapan hidup, dan pendidikan. Kondisi ini menimbulkan kecaman masyarakat internasional.