Obat AIDS di Afrika Selatan dikhawatirkan dicuri

Para pasien HIV di Durban, Afrika Selatan, kini menghadapi kekhawatiran pencurian obat antiretroviral, ARV, yang bisa memperpanjang hidup mereka.
Di kota itu sedang populer jenis narkoba yang mengandung ARV dan menjadi tantangan baru dalam perang melawan HIV/AIDS di Afrika Selatan.
Selama bertahun-tahun kebijakan HIV/AIDS di Afrika Selatan dianggap membingungkan dan tidak efisien namun setelah belakangan ini berhasil diubah, ARV tersedia secara meluas dan justru ini menjadi hambatan baru.
Obat antiretroviral itu, Stocrin, menjadi sasaran pencurian para penjahat yang mencampurnya dengan bubuk deterjen serta racun tikus untuk membuat whoonga, jenis narkoba yang tersedia di jalanan.
Para pemakainya berpendapat campuran ganja dan Stocrin bisa meningkatkan efek halusinasi, walaupun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan itu.
Mencuri kehidupan
Salah seorang pengidap HIV, Phumzile Sibiya yang berusia 49 tahun, sudah menggunakan ARV selama enam bulan dan dia termasuk salah seorang yang khawatir dengan pencurian ARV.
"Sekarang kami khawatir dengan penjahat yang ingin mencuri tablet kami. Tablet tersebut adalah kesempatan kami untuk hidup," kata Sibiya.
Untuk menjaga keamanan dari obat itu maka Sibiya kini datang ke klinik bersama dengan pasien-pasien lainnya.
"Saya benar-benar tidak merasa aman jika datang mengambil obat saya. Anda tidak tahu di mana mereka menunggu kami. Ini amat menyakitkan," katanya sambil antri di Klinik Ithembalabantu, Durban selatan.
Klinik itu merupakan distributor terbesar obat-obatan HIV/AIDS di Provinsi KwaZulu-Natal, yang memiliki jumlah penderita HIV/AIDS tertinggi di Afrika Selatan.
Bersaing dengan pengedar
Sekitar enam juta warga Afrika Selatan kini terinfeksi HIV dan diperkirakan 700.000 diantaranya menggantungkan hidup pada ARV.
Kepolisian Afrika Selatan menggambarkan whoonga sebagai keprihatinan nasional dan unit khusus Hawk kini sedang melakukan penyelidikan atas dampak whoonga dalam tingkat kejahatan.
Sementara itu bagi para dokter yang berjuang menghadapi HIV/AIDS, kepopuleran whoonga jelas merupakan kabar buruk.
"Penggunaan Stocrin di whoonga akan memperkecil sumber-sumber daya kami yang terbatas dalam pengobatan ARV di Afrika," kata Dr Bright Mhlongo.
"Obat itu merupakan tulang punggung bagi pengobatan ARV dan itulah yang kami gunakan untuk sebagian besar pasien kami."
Menurut Dr Mhlongo jika mereka menghadapi kesulitan mencari obat itu maka menggunakan obat lain akan lebih mahal dan tidak mudah tersedia.
Jadi Dr Mhlongo harus bersaing dengan para pengedar whoonga karena whoonga relatif murah dibanding dengan narkoba lain yang tersedia di jalanan.









