Mencari katak yang sudah punah

Upaya perburuan katak dari spesies yang dianggap punah akan segera dimulai di 14 negara selama dua bulan oleh Internasional Konservasi untuk Amfibi.
Amfibi merupakan binatang yang paling terancam, dengan sepertiga dari spesies ini beresiko untuk punah.
Banyak yang telah musnah akibat penyakit jamur yang berkembang di dalam air.
Ilmuwan yang memimpin proyek ini, Robin Moore meyakini perburuan ini akan mendapatkan sekitar 100 amfibi yang menjadi target pencarian.
"Beberapa tahun lalu ketika saya berada di Ekuador dengan sebuah tim ilmuwan lokal, kami berhasil mendapatkan sebuah spesies yang tidak pernah terlihat dalam 12 tahun terakhir,'' katanya kepada BBC.
"Awalnya kami tidak berharap akan menemukannya, tetapi setelah selama seharian penuh kami mencari akhirnya kami menemukan sebuah batu dan terdapat katak hijau yang kecil itu''.
"Sejumlah cerita yang sama juga muncul dari beberapa orang yang menemukan katak yang kami kira sudah hilang, jadi ini memberi harapan kalau ada banyak yang kami kira sudah hilang tetapi pada kenyataannya masih hidup''.
Sasaran utama
Permasalahan utama yang dihadapi oleh amfibi secara global adalah mereka kehilangan habitat aslinya, tempat hutan menipis dan kawasan lahan basah yang mengering.
Tapi survei ini akan menargetkan pada spesies yang menjadi sasaran ancaman baru atau yang lama seperti penyakit jamur chytridiomycosis.

Tidak ada jalan untuk mencegah infeksi ini di alam liar atau bahkan menghalanginya untuk menyebar ke penjuru dunia.
Meski beberapa spesies kebal, jamur chytrid menyapu yang lainnya dengan cepat.
Katak emas yang paling terkenal di Kosta Rika (Incilius periglenes) langsung cepat punah dari jumlah yang banyak dalam setahun akibat jamur ini.
Spesies ni menjadi sebuah plakat dalam krisis amfibi, dan menemukan beberapa contoh yang masih hidup, walau tim pesimis bisa menemukannya, bisa menjadi sebuah temuan besar.
Hal yang sama juga berlaku untuk katak peranakan lambung Australia, yang secara unik membesarkan berudu di dalam perut mereka.
Katak jenis ini dinyatakan hilang sejak 1985, mungkin mereka menjadi korban lain dari chytridiomycosis.
Ada harapan kalau masih ada sedikit dari katak jenis itu yang masih selamat, atau satu dari spesies lainnya yang disurvei, pertimbangan konservasi akan tetap dilaksanakan.
"Keterbatasan pengetahuan kami dari banyak spesies ini dan apakah mereka masih tetap ada, jika kami tidak tahu apakah sebuah spesies ada, kami tidak bisa menjaganya'', kata Dr Moore.
"Jadi ini adalah sebuah misi untuk meningkatkan pengetahuan kami tentang apa yang terjadi disana, apa yang masih hidup sehingga kami bisa menelusurinya dan berharap melakukan sejumlah pekerjaan konservasi dari spesies yang ditemukan''.
Sasaran utama pencarian tim ini diantaranya adalah :
- Katak berwarna Israel (Discoglossus nigriventer) terakhir terlihat tahun 1955, kemungkinan punah akibat pengeringan rawa sebagai bagian adari upaya memberantas malaria.
- Katak berwarna Afrika (Callixalus pictus), pertama kali ditemukan di Kongo dan Rwanda. terakhir terlihat tahun 1950, dan diperkirakan belum pernah di foto.
- Katak paruh (Rhinella rostrata) dengan kepala berbentuk piramida, terkahir terlihat tahun 1914.
Tim ini akan menghabiskan waktu sekitar seminggu hingga dua bulan di lapangan untuk mencari target spesies tersebut.
Hasil dari misi ini akan diumumkan sebelum pertemuan badan PBB yang mengurusi masalah keaneka ragaman hayati (CBD) di Jepang.









