Dari rumah bola hingga berkelana

Susilo dan istrinya mengenakan kaus Spanyol dan Belanda di depan kediaman mereka yang dilapisi poster-poster sepak bola.
Keterangan gambar, Susilo dan istrinya mengenakan kaus Spanyol dan Belanda di depan kediaman mereka yang dilapisi poster-poster sepak bola.

Piala Dunia memang menyihir. Sihir turnamen empat tahunan ini tidak hanya berlaku untuk negara-negara yang mengirimkan timnya ke Afrika Selatan, namun juga menyihir Indonesia yang kesebelasannya selalu gagal bersinar di level internasional.

Bahkan, sihir si kulit bundar ini bisa membuat sebagian orang melakukan hal-hal yang bagi sebagian orang adalah perbuatan gila. Salah satu warga Indonesia gila bola itu adalah Susilo Adi, warga Sunter, Jakarta Utara.

Saat BBC Indonesia berkunjung ke kediamannya sudah terlihat kegilaan Susilo beserta keluarganya terhadap sepakbola.

Saat itu, Susilo mengenakan kaus tim Valencia Spanyol, sementara istrinya mengenakan kaus hijau putihnya Glasgow Celtic. Dan salah satu anaknya mengenakan kaus Real Madrid.

Dan yang paling unik adalah Susilo melapisi dinding rumahnya dengan berbagai poster bertema sepakbola, guntingan berita-berita sepakbola hingga jadwal pertandingan Piala Dunia.

"Saya menghiasi dinding rumah saya sejak awal Piala Dunia. Sebelumnya, hanya poster-poster pemain saja yang saya tempel. Sekarang pas Piala Dunia saya tambah dengan guntingan berita dari tabloid sepak bola," kata bapak dua anak itu.

"Awalnya banyak yang bilang saya norak atau gila. Tapi saya anggap ini bagian dari seni," tambah Susilo.

Dan, lanjut Susilo, usai Piala Dunia dia tidak akan melepas poster-poster sepakbola di dinding rumahnya. Bahkan dia sudah mempersiapkan untuk mengumpulkan berbagai berita dan poster sepakbola untuk menyambut Piala Eropa dua tahun mendatang.

Kaus dan televisi

Susilo menyediakan televisi untuk nonton bareng Piala Dunia
Keterangan gambar, Susilo menyediakan televisi untuk nonton bareng Piala Dunia

Kegilaan Susilo lainnya adalah soal kaus sepak bola. Susilo mengaku memiliki sekitar 90 kaus klub dan tim nasional sepak bola dari seluruh dunia. Bahkan sejak 10 tahun lalu, Susilo mengaku tidak pernah sehari pun tidak mengenakan kaus sepak bola.

"Belum pernah sehari pun saya tidak memakai kaus sepak bola. Bahkan ke undangan (perkawinan) saya mengenakan batik tapi kalau dibuka di dalamnya tetap kaus sepakbola," katanya sambil tertawa.

Susilo mengatakan sudah memiliki tempat berlangganan kaus sepak bola. Sang pemilik toko, lanjut dia, bahkan selalu menghubunginya jika memiliki kaus sepak bola baru yang belum dipunyai Susilo.

"Tapi saya belum punya kaus klub-klub yang tidak begitu besar seperti Galatasaray atau klub-klub Jepang dan Arab. Saya ingin sekali mendapatkan kaus klub-klub itu," katanya berharap.

Sejak sebulan lalu, Susilo bahkan membeli satu buah televisi baru yang kemudian diletakkan di teras rumahnya sebagai sarana nonton bareng bersama tetangga-tetangganya.

"Setiap malam paling tidak 20-30 orang yang menonton bersama," tambah Susilo yang juga menyediakan makanan kecil dan kopi panas untuk para tamu nonton barengnya.

Bola kelana

Bentuk gila bola lainnya ada pada diri Tjoek Widharyoko. Seperti halnya Susilo Adi, Tjoek juga gemar menggelar nonton bareng. Hanya, nonton bareng ala Tjoek sedikit berbeda.

Tjoek bersama dua orang temannya berkeliling ke 25 kota di Pulau Jawa dan Bali sambil membawa televisi. Mereka kemudian menggelar nonton bareng bersama orang-orang yang mereka temui di jalanan. Ide ini, kata Tjoek, muncul secara spontan.

"Ide awalnya adalah berkeliling ke 25 kota kemudian menuangkan suasana piala dunia dan nonton bareng dalam bentuk tulisan," kata seorang pendiri sebuah majalah gaya hidup di Kota Kembang itu.

"Tapi pada saat sedang ngobrol dengan teman-teman kuliah saya muncul ide iseng itu. Salah satu teman mengusulkan membawa televisi kan kami bisa mengajak orang yang nggak punya televisi nonton bersama," kenang Tjoek.

Akhirnya, ide unik ini dijalankan dan diberi nama bola kelana. Karena muncul secara spontan maka Tjoek dan kawan-kawannya harus membiayai ide ini dengan biaya pribadi.

"Tapi ada teman-teman yang membantu. Ada teman yang menjualkan kaus yang kami desain dan kemudian hasil penjualan kaus itu untuk ongkos kami," papar Tjoek.

Nonton bareng ala bola kelana ini menyasar para pekerja malam yang tidak bisa menonton siaran langsung sepak bola, misalnya para pengemudi ojek, penjaga warung dan sebagainya.

Setelah satu bulan berkeliling Jawa dan Bali pengalaman apa yang diperoleh Tjoek dan kawan-kawannya?

"Ternyata antusiasme Piala Dunia di tiap daerah berbeda. Di kota-kota yang memiliki klub sepak bola seperti Malang atau Surabaya antusiasmenya besar," kata Tjoek.

"Di Bali antusiasmenya tak terlalu besar. Padahal banyak rumah di Bali yang memasang bendera negara-negara peserta Piala Dunia. Mungkin ini karena Bali tidak punya klub sepakbola besar," tambah Tjoek.

Namun, secara umum Tjoek menilai proyek bola kelana ini mendulang cukup sukses. Sehingga dia berencana melakukan proyek serupa.

"Mungkin saya akan melakukan kelana-kelana lain, tak hanya bertema sepakbola tapi yang jelas tetap mengangkat keunikan Indonesia," kata dia.

"Selain itu, saya berencana membukukan pengalaman ini dan juga menawarkan rekaman video kami sebagai film dokumenter," pungkasnya.