Terbaru  23 Maret 2010 - 09:51 GMT

'Tak semua militan dukung teror'

ansyaad mbai

Ansyaad Mbai berpikir keras menjinakkan ideologi kekerasan yang terus tumbuh

Namanya selalu dilekatkan dengan upaya penumpasan terorisme. Pernyataannya juga acap dikutip media semenjak teror bom melanda Indonesia. Kini lelaki 62 tahun ini berpikir keras untuk menjinakkan ideologi kekerasan para militan.

Inspektur Jenderal Polisi (purnawirawan) Ansyaad Mbai adalah Ketua Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme di Kantor Kementerian Koodinator Politik Hukum dan Keamanan.

Sebuah jabatan yang diembannya sejak Desember 2002, setelah bom berkekuatan besar meledak di Bali. Menkopolkam saat itu Susilo Bambang Yudhoyono, kini presiden, memilih Mbai duduk di jabatan baru tersebut.

ansyaad

Deradikalisasi tidak gampang karena yang dihadapi militan

Kepada Yudhoyono, Ansyaad Mbai yang saat itu menjabat Kapolda Sumatera Utara kemudian bertanya kenapa dia yang dipilih.

"Karena secara akademis, saya tidak punya latar belakang akademis tentang terorisme, juga secara empirik saya tak punya pengalaman di dunia itu," ungkapnya kepada BBC Indonesia.

Lagipula menurutnya di Indonesia saat itu belum ada orang yang masuk kategori ahli soal terorisme.

Apa jawaban Yudhoyono? "Ya, kamu harus jadi ahli terorisme."

Kini, sekitar delapan tahun setelah percakapan itu, Ansyaad Mbai muncul sebagai figur yang disebut sebagai ahli masalah terorisme di Indonesia. Masyarakat internasional, utamanya media, juga sering mengutip pernyataannya.

"Saya melihat jabatan ini bukan saja tugas instansi. Ini betul-betul tugas kemanusiaan. Dan dunia internasional mengharap saya bisa bekerja terus," jelasnya.

Deradikalisasi tidak gagal

Tetapi sebagai koordinator pemberantasan terorisme, Ansyaad Mbai sekarang menghadapi tugas berat yang tidak gampang.

Irjenpol (Purn) Ansyaad Mbai

  • Nama : Drs Ansyaad Mbai
  • Tempat/tanggal lahir : Buton, 2 Juni 1948
  • Jabatan saat ini : Ketua Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme Kementerian Koordinator Polhukam
  • Jabatan sebelumnya : Wakil Gubernur PTIK (1999-2000), Dirpidum Koserse Bareskrim Polri (2000), Waka Korserese Bareskrim Polri (2000), Asintelpam Kapolri (2000-2001), Kapolda Sumatera Utara (2001-2002), Wakalakhar BNN (2002-2003).

Program deradikalisasi pemerintah terhadap sasaran kelompok militan atau bekas narapidana teroris, disorot tajam karena dianggap tidak berjalan sesuai target awal.

Indikasinya adalah terlibatnya mantan napi teroris dalam tindak kekerasan berikutnya. Pembinaan terhadap napi teroris di lembaga pemasyarakatan juga dianggap tidak berjalan optimal.

Namun Ansyaad Mbai menolak jika program ini disebut gagal sepenuhnya.

"Kalau dikatakan tidak berjalan, itu tidak benar. Tapi ya seperti saya katakan, harus diakui, tidak sepenuhnya berhasil. Ada resiko kegagalan di situ," paparnya.

Ini ditekankannya karena ini bukan persoalan gampang karena yang dihadapi adalah sikap militan dan ideologi radikal. "Itu nonsens kita mengharapkan sukses 100 persen," tegas Ansyad, yang mantan Kapolda Sumatera Utara periode 2001-2002 itu.

Libatkan militan

Diantara para militan tidak seluruh setuju teror bom. Kelompok inilah yang paling cocok jadi partner kita dalam program deradikalisasi

Ansyaad Mbai

Dalam wawancara dengan BBC, Ansyad kemudian menjelaskan program deradikalisasi yang ditempuh pemerintah. Menurutnya, cara yang ditempuh Indonesia "mempunyai kekhasan tersendiri" dan "tidak mesti sama dengan negara lain".

"Program deradikalisasi kita dan Saudi Arabia tentu berbeda. Walaupun filosofinya sama, yaitu meluruskan pemahaman yang ekstrim terhadap ideologi tertentu yang mengatas-namakan agama, tapi caranya berbeda," papar Ansyaad yang pernah menjabat salah satu direktur di Bareskrim Mabes Polri, tahun 2000 lalu.

Di Indonesia, menurut Ansyaad, ada kecenderungan orang-orang militan tersangka atau napi teroris tidak percaya kepada tokoh agama atau kyai. Alasannya, para tokoh agama itu dianggap "gagal mendirikan negara Islam atau gagal menerapkan Syariat Islam di Indonesia."

Mereka lebih berpaling kepada orang-orang yang disebut lebih layak dipercaya, karena telah memperjuangkan dua hal itu.

"Alasan yang sering mereka katakan 'kenapa saya harus mendengar kyai di Indonesia, sementara saya sudah mendengar langsung dari "sumber api" di Afghanistan atau Pakistan'... Mereka juga bercerita sudah bertemu Osama bin Laden, dan bahkan ada yang bangga dapat makan bersama dengan bin Laden waktu perang di Afghanistan," ungkap Ansyaad.

ansyaad

Indonesia libatkan kaum militan untuk jinakkan teroris

Dari kenyataan ini menurutnya, upaya menjinakkan ideologi kekerasan kelompok militan di Indonesia ini tidak menggunakan cara-cara yang dilakukan di negara lain. "Belum tentu kita tampilkan seorang ulama terkenal itu akan efektif," tandasnya.

Jalan keluar yang kemudian ditempuh selama ini adalah mencari orang yang dapat diterima kelompok tersebut. Menurutnya orang itu adalah mantan pelatih mereka saat berada di Afganistan atau Moro, atau orang yang dulu mengirimnya ke negara tersebut. "Atau orang-orang yang mendanai mereka," kata Ansyaad.

"Jadi kita harus pandai-pandai memilih orang yang dipercaya di mata mereka. Nah, di antara para militan, ternyata tidak seluruh mereka setuju dengan teror bom. Banyak diantara mereka tidak setuju, dan ingin menghentikan itu. Nah, kelompok inilah yang paling cocok untuk jadi partner kita untuk program deradikalisasi, selain tokoh agama," ungkapnya.

Dia kemudian menyebutkan sejumlah nama. "Selama ini polisi banyak berkolaborasi dengan orang-orang seperti Nasir Abas, Ali Imron, Ali fauzi, dan ada beberapa tokoh mantan petinggi mereka yang cukup dipercaya di mata mereka," katanya.

Dikritik negara Barat

Namun pendekatan seperti ini diakui Ansyaad telah dikritik oleh sejumlah negara barat.

Perdana Menteri Australia saat itu John Howard pernah menyebut Indonesia "berkolaborasi dengan teroris", ketika menanggapi sebuah foto di media yang memperlihatkan seorang pejabat polisi duduk di restoran dengan seorang tersangka kasus bom Bali.

ansyaad

Indonesia dituduh "berkolaborasi dengan teroris" karena sebuah foto

Ansyaad masih ingat Howard ketika itu menganggap Indonesia "tidak sensitif dan absurd". "Tapi saya katakan itu cara Indonesia, dan saya katakan pula bahwa Indonesia justru sangat sensitif," katanya seraya mengumbar senyum.

Dan menurut Ansyaad, cara-cara seperti efektif untuk mencegah praktek terorisme. Dia mengatakan, keberhasilan pasukan anti teror kepolisian Densus 88 mengungkap jaringan teroris Aceh dan Pamulang belakangan, juga berkat metode seperti itu.

"Kalau dulu kebanyakan (terungkap) setelah aksi teror, kalau sekarang sebelum mereka action, sudah kita ungkap. Contoh di Aceh itu baru percobaan latihan. Tanpa disadari, itu sebetulnya berkat program deradikalisasi, walaupun dengan cara-cara yang spesifik," katanya.

Dalam bagian lain wawancara dengan BBC, Ansyaad juga menjelaskan secara panjang latar belakang terungkapnya kelompok teroris di Aceh dan Pamulang. Dia juga memaparkan bagaimana jaringan teroris sekarang setelah sebagian besar para pemimpinnya tertangkap atau tewas.

Hubungi kami

* Kolom harus diisi

(Maksimal 500 karakter)

Menurutnya, sel-sel kelompok ini kini tercerai-berai, dan membutuhkan waktu cukup lama untuk berkonsolidasi kembali. "Tetapi, potensi untuk muncul pemimpin baru lagi masih cukup tinggi, bahkan kualitasnya bisa lebih tinggi dari Dulmatin," katanya, menutup perbincangan.


BBC © 2014BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.