Ade Rostina Sitompul

Ade Rostina Sitompul, 71 tahun, yang dikenal sebagai aktivis kemanusiaan yang jauh dari publikasi, memperoleh penghargaan kenegaraan dari Pemerintah Timor Leste, September 2009.
Dia dianggap berjasa ikut memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di dalam perjalanan bangsa Timor Leste memperoleh kemerdekaan dari Indonesia.
"Bagi saya, kemanusiaan itu universal, bukan untuk berlaku di Indonesia. Nilai kemanusiaan itu lintas agama, lintas etnis, lintas negara, lintas bangsa," kata Ade Rostina, yang dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat, 12 Desember 1938, kepada BBC Indonesia.
Bersama beberapa warga negara Indonesia lainnya, dia diundang secara khusus ke Ibukota Timor Leste.
Presiden Ramos Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmao yang mengalungkan sendiri medali penghargaan itu.
Ade Rostina, yang kini tengah dirawat di sebuah rumah sakit, mengatakan apa yang dilakukannya terhadap sebagian warga Timor Leste selama bertahun-tahun didasari oleh nilai kemanusiaan semata.
Ibu Ade, begitu dia biasa disapa, menekankan hal ini, karena atas sikap penghormatan dirinya terhadap nilai kemanusiaan, dia dulu sering dicap sebagai "pengkhianat" dan "menjual bangsa".
"Sejak masuk Timor Timur tahun 1992, banyak suara-suara yang mengatakan, saya pengkhianat, penjual negara," katanya.
Dia lantas memberikan contoh, sikap seorang Jenderal dari Kopassus yang memberikan cap seperti pengkhianat.
Tetapi setelah dia menjelaskan apa dilakukannya, jenderal itu kemudian memahami sikapnya.
Ade Rostina bersentuhan dengan peristiwa kekerasan di Timor Timur, setelah peristiwa kekerasan di Kota Dili, 12 November 1991 -yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Santa Cruz.
Dia menyebut dirinya sebagai penghubung antara para tahanan politik pengukung kemerdekaan Timor Leste dan keluarganya.
Sejak saat itulah, melalui misi kemanusiaannya, Ibu Ade acap mendatangi salah-satu propinsi Indonesia itu , sebelum akhirnya merdeka melalui referendum 1999.
Itulah sebabnya, Ibu lima orang anak ini menolak istilah nasionalisme sempit, yang banyak diteriakkan orang menjelang dan sesudah referendum Timor Leste.

"Nasionalisme adalah (bagaimana) kita bisa menjaga imej, bukan diri kita saja, tapi bangsa kita, negara kita, rakyat kita. Bukan nasionalisme sempit, yang seolah-olah orang itu, atau orang itu, adalah musuh kita," papar Ade Rostina.
Tahanan Politik PKI
Tidak banyak orang mengetahui aktivitas kemanusiaan Ade Rostina sudah dimulai lebih dari 40 tahun silam.
Dia memilih melakukan pertolongan terhadap sesama atas dasar kemanusiaan, setelah peristiwa kekerasan pasca 1965 -sebuah peristiwa yang disebutnya "tidak bisa diterima hati nurani saya sampai sekarang."
Sejak 1967, Ade Sitompul menolong sebagian keluarga tahanan politik -yang suaminya dicap komunis dan dibuang ke Pulau Buru. Walau tidak gampang, sebagian keluarga orang-orang itu dia tampung di rumahnya. Dan menurutnya ini tidak gampang. "Sikap saya ini sempat diprotes keluarga," ungkapnya.
Belum lagi sikap represif aparat saat itu, yang menurutnya selalu menginterogasi sikap dan aksinya untuk menolong keluarga tapol.
Ditanya bagaimana dia dapat bersikap berani melawan sikap kebanyakan masyarakat Indonesia yang saat itu fobia terhadap PKI, Ade mengaku dia juga pernah mengalami rasa takut.
Tetapi, lanjutnya, perasaan itu dapat ditepisnya.
"Saya merasa (tindakan kemanusiaan) itu perintah dari agama yang saya yakini. Dalam alkitab, dalam salah-satu ayatnya berbunyi 'Aku memilih engkau sejak engkau dalam kandungan ibumu'. Itu yang banyak mempengaruhi saya. Walaupun takut, saya berusaha hilangkan rasa takut saya, dan nasihat Yap thiem Hien banyak mempengaruhi saya," jelas Ade Rostina.
Tahun 1995, Ade Rostina pernah meraih Yap Thiam Hien Award, sebuah penghargaan terhadap orang-orang yang dianggap berjasa dalam memperjuangkan hak asasi manusia.









