Badminton: Apriyani/Fadia raih perak di Kejuaraan Dunia, isyarat kebangkitan sektor putri Indonesia atau kejutan semata?

Sumber gambar, Randy Wijaya/PBSI
- Penulis, Mohamad Susilo
- Peranan, BBC News Indonesia
Bukan ganda putra, bukan pula tunggal putra, melainkan ganda putri yang justru mewakili Indonesia ke babak final turnamen bergengsi Kejuaraan Dunia 2023 di Kopenhagen, Denmark.
Melalui Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti, Indonesia bisa berpeluang juara.
Sayang, setelah tampil cemerlang hingga babak semifinal, Apri/Fadia harus mengakui keunggulan ganda putri China, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, 16-21 12-21 di laga pamungkas.
Usai laga final, Apri/Fadia mengatakan lawan jauh lebih siap.
"Kami sulit keluar dari tekanan mereka. Kami jadi kaget-kaget sendiri," kata Apri, kepada wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo.
Fadia, yang baru sekitar satu tahun berpasangan dengan Apri, mengatakan ada banyak pelajaran dari Kejuaraan Dunia ini.
"Kami jadi tahu, rasanya seperti ini ketika berhadapan dengan pemain top dunia...," kata Fadia.
Dalam perjalanan menuju final, Apri/Fadia bermain impresif. Pasangan itu mengalahkan unggulan kedua di putaran ketiga, Baek Ha Na/Lee So Hee, 21-12 21-14.
Di perempat final, Apri/Fadia membabat unggulan kelima dari Jepang, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota, 21-7 21-15. Dan di semifinal, giliran unggulan ketiga, Kim So Yeong/Kong Hee Yong, yang menjadi korban kedahsyatan Apri/Fadia.
Kim/Kong harus menyerah 9-21 20-22.
Baca juga:
Apakah ini isyarat kebangkitan sektor putri Indonesia?
Jawaban sederhana: mungkin tidak.

Sumber gambar, Randy Wijaya/PBSI
Memang, Apri menyabet medali emas Olimpiade 2020 bersama Greysia Polii dan setelah Greysia gantung raket, bersama Fadia menjuarai turnamen di Malaysia dan Singapura pada 2022.
Namun, di luar itu, belum ada trofi kejuaraan besar yang dikoleksi.
Kepercayaan diri membuat kesalahan menjadi minim
"Apri dan Fadia sempat diganggu cedera dan di luar turnamen Malaysia dan Singapore Open pada 2022, keduanya belum bisa lagi keluar sebagai juara," kata wartawan olahraga dan pemerhati badminton, Ainur Rohman.
Pelatih ganda putri, Eng Hian, mengapresiasi penampilan Apri/Fadia yang bisa menyodok hingga ke final Kejuaraan Dunia. Namun di final, Apri/Fadia "antiklimaks", kata Eng Hian.
"Mereka under pressure. Keduanya tak bisa lepas dari tekanan lawan. Tidak bisa mengembangkan pola permainan terbaik. Tampak dari pukulan pengembalian bola, beberapa kali banyak membuat kesalahan sendiri," kata Eng Hian.
Kesalahan sendiri yang dilakukan baik oleh Apri maupun Fadia adalah buah dari kecerdikan pasangan China, Chen/Jia. Duo China bermain bersih dan efektif memotong bola-bola Apri/Fadia.
Unggul sejak awal dan tak memberi kesempatan Apri/Fadia mengembangkan permainan membuat Chen/Jia di atas angin dan selalu bisa unggul jauh.

Sumber gambar, PBSI
Kepercayaan diri membuat kesalahan menjadi minim.
Eng Hian mengakui, lawan begitu sarat pengalaman. "Dari prestasi dan penampilan yang konsisten, mereka kini adalah ganda putri terbaik dunia. Harapan saya sebelum bertanding, Apri/Fadia bisa meredam kekuatan lawan. Tetapi tampil di final turnamen besar seperti Kejuaraan Dunia itu bebeda dan [ini] sangat berpengaruh terhadap penampilan Apri/Fadia," ujar Eng Hian menganalisis.
"Saya harapkan dari pertandingan final ini, mereka bisa memetik banyak pelajaran. Juga harus mempersiapkan teknik, fisik, dan mental ketika akan bertanding di lapangan kembali, terutama menghadapi ajang-ajang besar Kejuaraan Dunia dan di event-event besar lainnya," kata Eng Hian.
Sistem untuk mencetak juara

Sumber gambar, PBSI
Di ganda putri, tumpuan harapan untuk unjuk gigi di turnamen-turnamen besar ditumpukan hanya ke Apri/Fadia, yang kini menempati peringkat 13 dunia. Ada beberapa ganda lain, seperti Febriana Dwipuji Kusuma/Amallia Cahaya Pratiwi, namun sejauh ini belum memperlihatkan prospek yang berarti.
Di sektor tunggal, harapan Indonesia ada di pundak peringkat delapan dunia, Gregoria Mariska Tunjung.
Penampilannya terus membaik seiring dengan rasa kepercayaan diri yang terus membesar. Dalam pandangan Ainur, Gregoria punya bakat besar dan teknik bermain yang bagus.
Tapi dua kelebihan ini tidak cukup untuk bisa bersaing secara konsisten di level elite dunia.
"Pukulan silang dan netting-nya termasuk salah satu yang terbaik ... tetapi bagaimana dengan faktor-faktor penunjang yang lain? Aspek mental dan aspek-aspek nonteknis apakah sudah maksimal? Apakah dia memiliki support system yang memadai untuk meningkatkan kans meraih juara?" kata Ainur.
Di Kejuaraan Dunia 2023, Gregoria maju hingga ke babak perempat final, yang merupakan capaian pribadi terbaik (personal best).
Sebelumnya di All England 2023 di Birmingham, Gregoria juga lolos ke delapan besar. Prestasi terbaik tahun ini adalah menjuarai Spain Masters, dengan mengalahkan andalan India, PV Sindhu.

Sumber gambar, Randy Wijaya/PBSI
Gregoria menyebut kenaikan performa ini antara lain disebabkan oleh faktor mentalitas. "Saya tak mau berpikir berlebihan sebelum pertandingan ... saya hanya mau fokus saja," kata Gregoria.
Tetapi di panggung tunggal putri dunia, Gregoria menghadapi persaingan yang sungguh ketat.
Ada pemain-pemain muda seperti An Se Young, 22 tahun, dari Korea Selatan, yang baru saja menyabet emas di Kejuaraan Dunia 2023. Masih ada pemain-pemain lama seperti Akane Yamaguchi, Ratchanok Intanon, Tai Tzu Ying, dan Carolina Marin yang terus saja bertahan.
Juga ada Chen Yu Fei dan He Bing Jiao.
An Se Young layak mendapatkan catatan khusus, karena selama 2023, ia sudah tujuh kali juara dan dua kali runner up, termasuk juara di All England.
Setelah berjaya di All England, An Se Young menyapu bersih turnamen di Thailand, Singapura, Korea dan Jepang.
Harus diakui, prestasi para pemain putri Indonesia memang belum bisa mengulang era emas Susy Susanti, yang pada masa jayanya meraih emas Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan menjuarai turnamen bergengsi All England.
"Susy punya determinasi tinggi, keunggulan fisik, dan cerdas membaca serta mengantisipasi game play lawan. Jika ingin juara, pemain tidak hanya unggul fisik dan mental, dia juga harus cerdas," kata Ainur.
Ia mengatakan Susy pintar menganalisis, termasuk menerapkan pola permainan baru ketika lawan mengubah strategi di lapangan.
Kualitas Susy ini belum dimiliki sepenuhnya oleh para pemain putri Indonesia, justru ada pada pemain muda Korea Selatan, An Se Young, kata Ainur.
Determinasi

Sumber gambar, Mohamad Susilo/BBC News Indonesia
Soal determinasi menjadi catatan khusus pelatih di klub PB Djarum Kudus, Jawa Tengah, Ellen Angelinawaty.
Juara Indonesia Open 2001 ini mengatakan mungkin salah satu penyebabnya adalah "tingkat daya juang anak-anak sekarang yang tak sebesar anak-anak di generasi Susy".
"Daya juang anak-anak sekarang belum terlihat maksimal ... setiap hari kami mengingatkan apa yang perlu dipegang dan dikuasai dari latihan. Itu harus setiap hari diingatkan. Kalau tidak, anak-anak sekarang [akan abai], ah bodo amat," kata Ellen.
"Yang menentukan [keberhasilan] itu kemauan si anak. Kalau tak punya kemauan yang tinggi, ya tak bisa [menjadi atlet yang andal]. Harus ada tekad yang benar-benar kuat," katanya.
Susy, setelah pensiun, pernah diminta menjadi pengurus PBSI membidangi pembinaan dan prestasi. Ia melihat determinasi para pemain Indonesia kalah kelas dibandingkan para pemain dari negara lain, terutama Jepang.
"Lihat itu Akane [Yamaguchi]. Dia tak pernah menyerah. Ia terus mengejar poin sampai pertandingan benar-benar selesai. Baginya, tidak ada kata menyerah. Para pemain harus mencontoh Akane," kata Susy suatu ketika.
Intinya, bagaimana menyuntikkan mentalitas "berjuang hingga titik darah penghabisan".

Sumber gambar, Mohamad Susilo/BBC News Indonesia
Direktur PB Djarum, Yoppy Rosimin, mengatakan sektor putri Indonesia menghadapi masalah serius karena stok bibit pemain diakui tidak sedemikian melimpah seperti bibit putra.
"Kami kesulitan melakukan kaderisasi untuk putri. Berbeda dengan putra. Banyak anak laki-laki yang suka [bulu tangkis]," kata Yoppy.
Melihat persoalan ini, Yoppy mengatasinya dengan menarik sebanyak mungkin murid perempuan untuk ikut kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
"Enggak apa-apa belum bisa main, yang penting suka dulu. Selain itu, kami menambah jumlah juara dalam suatu kegiatan. Selama ini kan juara biasanya satu, dua, tiga, dan empat. Nah kategori juara kami tambah. Intinya adalah menarik minat anak-anak perempuan," katanya.
"Keyakinan kami, jika persediaan calon pemain makin banyak, maka makin gampang untuk mencari bibit," kata Yoppy.
Dengan situasi seperti ini, kebangkitan sektor putri Indonesia di panggung bulutangkis dunia masih jauh.
Untungnya, di tengah masa paceklik, kadang muncul pemain seperti Apri/Greysia, yang tiba-tiba saja bikin kejutan dan merebut medali emas Olimpiade.
Namun, seberapa sering akan terus terjadi kejutan?










