Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2023: Kandas di final ganda putri, Apri/Fadia raih medali perak

Apri/Fadia

Sumber gambar, Randy Wijaya/PBSI

Keterangan gambar, Apri/Fadia bertekad medali perak yang diraih di Kopenhagen akan segera dinaikkan menjadi emas.
    • Penulis, Mohamad Susilo
    • Peranan, BBC News Indonesia

Ganda putri Indonesia, Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti, harus puas dengan medali perak di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2023, setelah di babak final dikandaskan pasangan China, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan.

Bermain di Royal Arena, Kopenhagen, hari Minggu (27/8), Apri/Fadia tak bisa keluar dari tekanan, dan menyerah dua gim, 16-21 12-21.

Permainan Apri/Fadia berbeda dengan saat tampil di semifinal, ketika mereka bermain cemerlang dan lepas tanpa tekanan.

Di babak final, Apri/Fadia sering kali melakukan kesalahan sendiri, sementara di sisi lain Chen/Jia bermain efektif.

"Lawan sangat fokus, sangat kuat ... rata-rata mereka ambil poin tak lebih dari delapan pukulan. Kami sulit keluar dari tekanan mereka. Kami jadi kaget-kaget sendiri," kata Apri.

Bagi Apri, ini adalah peningkatan prestasi, setelah sebelumnya meraih perunggu bersama Greysia Polii di Kejuaraan Dunia 2018 dan 2019.

"Ini sebuah proses yang sangat luar biasa. Sebelum Kejuaraan Dunia, performa kami sangat turun. Kami harus berjuang secara luar bisa pada diri masing-masing. Kami mau bangkit step by step dan akhirnya mendapat hasil luar biasa di Kejuaraan Duni ini," kata Apri.

Baca juga:

Fadia menambahkan ada banyak pelajaran dari babak final Kejuaraan Dunia kali ini, misalnya dengan mengambil momen di awal-awal pertandingan.

Juara ganda putri

Sumber gambar, Randy Wijaya/PBSI

Keterangan gambar, Medali emas ganda putri diraih pasangan China, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan.

"Secara mental, mereka langsung unggul sejak awal. Itu pelajaran besar bagi saya," kata Fadia.

Apri/Fadia juga mengatakan perak yang diraih di Kopenhagen bisa "dinaikkan statusnya menjadi emas" di turnamen mendatang.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia, Rionny Mainaky, mengatakan sebenarnya persiapan Apri/Fadia untuk terjun di babak final sudah maksimal.

"Cuma karena lawan lebih siap dan bisa mengantisipasi [pola permaianan], Apri/Fadia menjadi tampil sedikit ragu-ragu. Saya melihat Apri/Fadia tak di bawah tekanan, lawan memang tampil lebih baik," kata Rionny.

Pelatih ganda putri, Eng Hian, mengatakan "penampilan Apri/Fadia di final bisa disebut antiklimaks".

"Mereka di bawah tekanan. Keduanya tak bisa lepas dari tekanan lawan. Tidak bisa mengembangkan pola permainan terbaik. Tampak dari pukulan pengembalian bola, beberapa kali banyak membuat kesalahan sendiri," kata Eng Hian.

"Lawan memang harus diakui sangat sarat pengalaman. Dari prestasi dan penampilan yang konsisten, mereka kini adalah ganda putri terbaik dunia. Harapan saya sebelum bertanding, Apri/Fadia bisa meredam kekuatan lawan. Tetapi tampil di final kejuaraan besar seperti Kejuaraan Dunia itu bebeda dan sangat berpengaruh terhadap penampilan Apri/Fadia," katanya.

Belum ada ganda putri yang sabet emas

Lolosnya Apri/Fadia tadinya diharapkan bisa menyumbang medali emas. Apalagi, sejak 1977, tak satu pun ganda putri Indonesia yang mempersembahkan emas.

Prestasi terbaik diraih Finarsih/Lili Tampi yang meraih perak di Kejuaraan Dunia 1995 di Lausanne, Swiss.

Turun di babak semifinal hari Sabtu (26/8), Apri/Fadia secara gemilang mengandaskan unggulan ketiga dari Korea Selatan, Kim So Yeong/Kong Hee Yong, dua gim langsung 21-9 22-20.

Bermain melawan pasangan yang lebih diunggulkan, Apri/Fadia bermain solid, dengan smash tajam dan penempatan bola yang sulit dijangkau lawan.

Di gim kedua, setelah sempat unggul lumayan jauh, Kim/Kong bisa mengejar di poin-poin kritis dan memaksakan deuce.

"Memang sempat nervous (gemetar) di gim kedua, tetapi kami bisa kembali fokus meraih poin demi poin," ungkap Fadia.

Apri mengatakan komunikasi yang rapi membuat gim kedua yang krusial berhasil diamankan.

"Fadia selalu mengingatkan agar kami bermain tenang dan alhamdulillah kami bisa menang," kata Apri.

"Saya turun bertanding dengan membawa aura positif seperti di Olimpiade Tokyo dengan mentalitas yang kuat. Tak terlalu berlebihan dan bisa mengontrol. Kami bisa menguasai dan kami akan saling mengingatkan. Ini yang jadi kunci kemenangan kami hari ini," kata Apri.

Pelatih ganda putri, Eng Hian, mengatakan kunci kemenangan kali ini adalah Apri/Fadia sangat disiplin menerapkan pola dan strategi yang dirancang sejak awal.

Apri/Fadia

Sumber gambar, Randy Wijaya/PBSI

Keterangan gambar, Prestasi terbaik Apri adalah meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia saat berpasangan dengan Greysia Polii.

"Tak perlu dijelaskan secara terperinci apa itu polanya, tetapi Apri/Fadia bermain bagus, tenang dan konsisten. Diharapkan, di babak final bisa menampilkan permainan terbaik," kata Eng Hian kepada wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo.

Ini adalah untuk pertama kalinya Apri/Fadia melangkah ke final Kejuaraan Dunia, prestasi yang digambarkan sebagai "mimpi yang menjadi kenyataan".

Eng Hian mengatakan Apri/Fadia harus bisa menikmati pertandingan, siapa pun lawan yang dihadapi.

"Jangan jadikan sebagai beban, sejauh ini Apri/Fadia saya lihat bisa enjoy di lapangan. Untuk final, nanti dibahas bersama-sama [strateginya], mudah-mudahan mereka sehat dan siap berjuang," kata Eng Hian.

"Harapannya mereka kembali bisa bermain lepas dan mengeluarkan kemampuan terbaik," katanya.

Apa yang ditorehkan oleh Apri/Fadia adalah kejutan. Tak banyak yang menyangka duo ini melenggang ke final.

Beberapa pemain lain, seperti ganda putra Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, serta tunggal putri Gregoria Mariska Tujung, berguguran pada babak perempat final, yang dihelat Jumat (25/08).

Saat terjun di semifinal, Apri/Fadia juga bermain cemerlang saat mengandaskan unggulan lima dari Jepang, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota, 21-18 13-21 21-10.

Apri/Fadia, yang menempati unggulan 11, mengatakan kunci kemenangan adalah selalu percaya satu sama lain dan berusaha tampil semaksimal mungkin.

"Mental dijaga agar bisa tampil konsisten. Semoga kami bisa terus melaju. Kami tampil enjoy untuk memberi aura positif. Saya bisa membawa diri dengan baik untuk membangun kerja sama dengan Fadia," ungkap Apri, yang bersama Greysia Polii menyabet medali emas Olimpiade 2020 di Tokyo.

"Kami mencoba mengatasi stres dengan tersenyum. Saya menikmati setiap proses. Kami hanya mempersiapkan diri dengan baik. Saling percaya diri masing-masing, saya dan Fadia. Kami selalu percaya diri dengan kekuatan kita," imbuh Apri.

Fadia mengatakan kemenangan atas pasangan Jepang dan lolos ke semifinal ini tentu membuat rasa percaya diri naik.

"Walaupun begitu, saya harus tetap fokus menghadapi pertandingan selanjutnya," kata Fadia.

Apri/Fadia

Sumber gambar, Randy Wijaya/PBSI

Keterangan gambar, Di semifinal, Apria/Fadia menantang unggulan tiga dari Korea Selatan, Kim So Yeong/Kong Hee Yong, yang menundukkan pasangan Thailand, Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai.

Pada babak empat besar, Sabtu (26/08), Apria/Fadia menantang unggulan tiga dari Korea Selatan, Kim So Yeong/Kong Hee Yong, yang menundukkan pasangan Thailand, Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai.

Kedua pasangan baru sekali bertemu dan laga tersebut dimenangkan oleh Apri/Fadia.

"Saya akan pemulihan dulu. Makan enak, istirahat cukup. Pastinya juga mempersiapkan kondisi sebaik mungkin. Juga diskusi dengan pelatih dan nonton rekaman video lawan," kata Apri.

Langkah Apri/Fadia tak diikuti oleh pemain-pemain Indonesia lain yang maju ke perempat final.

Bagas/Fikri

Sumber gambar, Randy Wijaya/PBSI

Keterangan gambar, Bagas/Fikri yang sebelumnya menumbangkan ganda putra papan atas dunia, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, menyerah di tangan unggulan tiga Liang Wei Keng/Wang Chang.

Bagas/Fikri yang sebelumnya menumbangkan ganda putra papan atas dunia, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, kali ini menyerah di tangan unggulan tiga Liang Wei Keng/Wang Chang, 18-21 21-15 14-21.

"Rasanya sedih dan bangga campur aduk jadi satu. Bangga, kami bisa lolos sampai babak delapan besar. Sedih, [karena] kami kalah dan gagal ke semifinal," kata Bagas.

"Meskipun gagal ke semifinal, rasanya ada kemajuan. Dari segi permainan, performanya meningkat. Tadi kualitasnya tidak terlalu jauh. Tetap ada jual-beli pukulan. Meskipun begitu, tetap ada yang harus diperbaiki," tambah Bagas.

Fikri mengatakan senang bisa maju hingga perempat final.

"Meski begitu, kami harus bisa tampil lebih konsisten lagi untuk menghadapi kejuaraan berikutnya," kata Fikri.

Kejuaraan Dunia terakhir bagi Hendra/Ahsan

Hendra/Ahsan

Sumber gambar, Mohamad Susilo/BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Di usia senja, Hendra/Ahsan masih bisa bersaing dengan para pemain elite dunia.

The Daddies, julukan bagi Hendra/Ahsan, pasangan veteran di tim Indonesia, urung mengulang prestasi gemilang di Kejuaraan Dunia lalu. Mereka takluk dua gim langsung dari pasangan Korea, Kang Min Hyuk/Seo Seung Jae, 19-21 17-21.

"Gim pertama kami sudah unggul, tetapi setelah itu banyak buang angka. Harus diakui, permainan lawan memang lebih rapi dan tak banyak melakukan kesalahan," ungkap Hendra.

"Saya sendiri harus realitis ini jadi Kejuaraan Dunia terakhir bagi saya. Di Kejuaraan Dunia Tahun 2025 saya sudah berusia 41 tahun. Harusnya yang junior yang gantian maju menggantikan saya," kata Hendra.

Hendra adalah salah satu ganda putra paling sukses. Ia sudah beberapa kali raih emas di Kejuaraan Dunia. Juga berjaya di All England dan Olimpiade.

Ahsan mengatakan ini juga merupakan Kejuaraan Dunia yang terakhir.

"Banyak kenangan indah. Ada menang dan kalah. Bersyukur bisa melewati dan bisa selesai. Sebenarnya ada target tahun ini bisa bawa medali. Tetapi hari ini kami kalah. Ya harus diterima."

"Dulu saat kecil, cita-cita saya ingin jadi juara dunia. Alhamdulillah bisa tercapai. Tampil di Kejuaraan Dunia itu akan jadi kenangan indah bagi saya," kata Ahsan.

Gregoria

Sumber gambar, Randy Wijaya/PBSI

Keterangan gambar, Maju ke delapan besar adalah prestasi terbaik sejauh ini bagi Gregoria di Kejuaraan Dunia.

Yang juga urung melenggang ke babak empat besar adalah Gregoria, yang dikalahkan pemain bintang Jepang, Akane Yamaguchi, 16-21 18-21.

Ia mengatakan kekalahan ini bukan karena dirinya tegang di lapangan.

"Cuma karena kesalahan saya di beberapa poin itu yang membuat lawan malah jadi makin percaya diri. Harus diakui, lawan secara permainan lebih siap. Sementara saya banyak melakukan kesalahan sendiri. Tekanan ini tentu berpengaruh terhadap penampilan," kata Gregoria.

"Lawan dari awal sudah tahu cara bermain dan menerapkan pola untuk melawan saya. Sedangkan saya lambat menemukan cara main untuk mengalahkan lawan," katanya.

Dalam Kejuaraan Dunia 2022 di Tokyo, kontingen Indonesia gagal pulang membawa medali emas.

Emas terakhir diraih oleh Hendra/Ahsan dalam Kejuaraan Dunia 2019 di Basel, Swiss.