You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Piala Dunia 2022: Brasil tersingkir secara menyakitkan, Livakovic kembali jadi pahlawan Kroasia
- Penulis, Shamoon Hafez
- Peranan, BBC Sport di Stadion Education City, Al Rayyan
Seharusnya nasib Brasil tidak berakhir seperti ini.
Neymar dan rekan-rekannya telah melibas lawan-lawannya sambil berjoget menuju perempat final Piala Dunia 2022. Namun impian mereka untuk menampilkan tarian di final berakhir dengan air mata di Stadion Education City.
Kroasia memberi pelajaran kepada para pemain bintang Brasil melalui adu penalti sekaligus mengakhiri harapan untuk meraih gelar juara keenam Piala Dunia. Pada babak semifinal, Kroasia akan menghadapi Argentina yang menang adu penalti melawan Belanda.
Baca juga:
Sepertinya Neymar akan menjadi pahlawan ketika dia membuka skor pada babak perpanjangan waktu dan menyamai rekor gol Pele untuk tim nasional. Namun - sebagai penendang penalti kelima yang tidak digunakan - dia meninggalkan lapangan sambil menangis mengingat ajang ini bisa jadi adalah Piala Dunia terakhirnya.
Setelah pertandingan, dipastikan bahwa bos timnas Tite akan meninggalkan pekerjaannya. Pria berusia 61 tahun itu tidak dapat mengulangi prestasi di Copa America pada 2019, sementara Neymar mengisyaratkan untuk pensiun sebagai pemain timnas.
"Memang sangat sulit," kata Tite usai kekalahan tersebut. "Tapi ini adalah akhir dari siklus saya dengan skuat Brasil. Saya mengatakannya satu setengah tahun yang lalu."
Pakar sepak bola Amerika Selatan, Tim Vickery, mengatakan di BBC Radio 5 Live: "Rasanya seperti ada anggota keluarga yang meninggal dunia.
"Seperti itulah rasanya dalam beberapa jam ke depan untuk penggemar Brasil. Kroasia telah membuat negara yang jauh lebih besar berduka. Ini akan sangat menyakitkan untuk waktu yang lama.
"Saya harap masyarakat tidak menolak mereka. Pendukung Brasil bisa menjadi ganas. Saya harap tidak ada reaksi negatif karena tim ini tidak pantas mendapatkannya."
Apakah seharusnya Neymar mengambil penalti pertama?
Selama pertandingan berjalan 90 menit, kedua tim tidak dapat mencetak gol sehingga laga berlanjut ke perpanjangan waktu.
Neymar mengira telah meloloskan negaranya ke semi final ketika dia berhasil melepaskan tembakan ke bagian atas gawang pada menit ke-106. Itu adalah gol internasionalnya yang ke-77, membuatnya sejajar dengan Pele, menurut catatan FIFA.
Tapi gol penyama kedudukan Bruno Petkovic empat menit sebelum pertandingan berakhir - yang merupakan satu-satunya tembakan tepat sasaran dari Kroasia - menyelamatkan harapan untuk maju ke semi final.
Pemenang laga harus ditentukan melalui tendangan penalti.
Kiper Dominik Livakovic, yang mementahkan tiga tendangan pemain timnas Jepang saat adu penalti, kembali berperan penting untuk Kroasia.
Livakovic mampu menghalau Rodrygo, penendang pertama. Kemenangan Kroasia dipastikan setelah bola sepakan Marquinhos membentur tiang gawang.
Kroasia yang berjoget kali ini saat Neymar yang putus asa terduduk di rumput, air mata mengalir di pipinya.
Dia adalah penendang penalti kelima tetapi tidak mendapatkan kesempatan itu.
Baca juga:
Ini adalah akhir menyedihkan bagi Neymar, seperti yang terjadi pada dua Piala Dunia sebelumnya.
Di Piala Dunia 2014, partisipasi Neymar diakhiri dengan cedera punggung. Kemudian empat tahun lalu mereka dikalahkan di tahap yang sama oleh Belgia.
Di sini dia adalah salah satu pemain terakhir yang berjalan dengan susah payah keluar lapangan.
Para pendukung Brasil duduk di tribun dengan tatapan tak percaya, harapan mereka di Qatar padam.
"Neymar yang kelima karena itulah yang menentukan," kata Tite. "Ada lebih banyak tekanan dan para pemain yang lebih siap secara mental harus yang mengambil tendangan penalti terakhir ini."
Tapi mantan striker Jerman Jurgen Klinsmann tidak setuju. Dalam komentarnya untuk BBC One , dia mengatakan: "Bagi saya, dia akan menjadi penendang penalti nomor satu. Dia diperlukan untuk mengatur irama."
'Akhir dari mimpi'
Tekad Brasil untuk meraih Piala Dunia diakhiri oleh negara Eropa untuk keenam kalinya secara berturut-turut. Terakhir kali mereka mengalahkan tim dari benua itu adalah pada final Piala Dunia 2002 melawan Jerman.
Piala Dunia 2002 juga yang terakhir dari lima kemenangan Piala Dunia mereka, dan 20 tahun sudah berlalu sejak terakhir kali tim non-Eropa mengangkat trofi.
Statistik membuat nasib Brasil kian suram.
Selecao—julukan timnas Brasil—gagal mencetak gol di babak pertama selama enam pertandingan dari tujuh laga terakhir mereka di Piala Dunia.
Seandainya Vinicius Junior atau Neymar menyelesaikan peluang pada awal laga, mungkin hasilnya berbeda.
Tim asuhan Tite juga menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang tersingkir dari pertandingan sistem gugur padahal mencetak gol pembuka saat perpanjangan waktu.
Terakhir kali negara peringkat satu dunia mencapai semifinal adalah ketika Brasil melakukannya pada tahun 1998.
"Bukan hanya saya sendiri yang kalah, seluruh tim kalah," kata Tite. "Kami mencoba untuk fokus pada peluang dan penyelesaian. Strategi kami adalah meningkatkan volume - kami memiliki 19 peluang dan 11 tembakan ke gawang. Mereka tidak dapat melakukan satu tembakan tepat sasaran.
"Saya mengerti saya yang paling bertanggung jawab, tapi kita semua bertanggung jawab atas kekalahan ini. Itulah sepak bola. Terkadang Anda menang, terkadang Anda kalah."
Presiden terpilih Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, berkomentar di Twitter: "Brasil bekerja keras. Neymar mencetak gol indah dan tim pantas mendapatkan yang lebih baik. Rasa hormat saya kepada para pemain dan manajer.
"Mari kita terus bergerak maju karena dalam hidup kita tidak pernah menyerah."
Situs web Brasil, Globo Esporte, menampilkan tulisan 'akhir dari mimpi' di berandanya.
Tulisan itu ditujukan kepada Tite, para pemainnya, dan semua pendukung Brasil.