‘Panggung perempuan’, Jalan Jonis Joplin, dan penyeberangan transgender: cara kota Wina mewujudkan kesetaraan gender

Sumber gambar, Sylvain Sonnet/Getty Images
- Penulis, Noele Illien
- Peranan, BBC Travel
Di ibu kota Austria, semua aspek kehidupan publik, termasuk transportasi dan bahasa, dibangun untuk mewujudkan visi menjadikan Wina sebagai destinasi yang inklusif dan netral gender.
Berjalan menyusuri Reumannplatz, salah satu alun-alun paling terkenal di ibu kota Austria, Wina, Anda akan melihat panggung pertunjukan di sana, dikenal dengan nama "Mädchenbühne" (panggung perempuan).
Panggung tersebut digunakan untuk ruang pertunjukan dan dibuat atas permintaan para siswi pelajar sekolah yang berada di sekitar alun-alun tersebut.
Panggung putri ini, bersama dengan gedung olah raga, taman bermain, dan lebih dari 50 pohon baru sebagai tambahan baru di alun-alun, dibuka kembali tahun lalu setelah desain ulang yang mempertimbangkan kesetaraan gender.
Namun di Wina, bukan hanya ruang kota yang dikembangkan dengan mempertimbangkan kesetaraan gender.
Semua aspek kehidupan publik, termasuk transportasi dan bahasa, dipengaruhi oleh visi menjadikan Wina sebagai destinasi yang inklusif dan netral gender.
Strategi yang digunakan Wina untuk mencapai tujuan ini disebut "gender mainstreaming" atau pengarusutamaan gender.
Kepala Departemen Pengarusutamaan Gender, Ursula Bauer, menggambarkannya sebagai alat untuk mencapai kesetaraan gender dalam masyarakat.

Sumber gambar, Christian Fürthner
Ia mengatakan bahwa kebijakan ini berbeda dari kebijakan untuk perempuan karena memastikan peraturan dan prosedur yang dibuat mempertimbangkan perbedaan struktural antara perempuan dan laki-laki.
"Kebijakan perempuan adalah pekerjaan perbaikan, sedangkan pengarusutamaan genderadalah suatu pencegahan," ujar Bauer.
Dia menjelaskan bahwa departemennya melihat data yang dibedakan berdasarkan gender dan memberikan pedoman serta pelatihan untuk memastikan layanan pemerintah peka gender dan dapat diakses.
Selama bertahun-tahun, jaringan pakar gender di bidang-bidang utama juga telah dibentuk.
Bauer memastikan semua bidang pemerintahan kota memperhitungkan kesetaraan gender.
"Tidak ada yang bisa melarikan diri," katanya berseloroh. "Kami seperti jaring laba-laba."
Dalam praktiknya, pengarusutamaan gender mengambil banyak bentuk, seperti memastikan badan pemerintah menggunakan bahasa yang peka gender.
Layanan transportasi umum juga menyertakan ilustrasi orang tua dengan anak-anak untuk memberi tanda kursi yang disediakan untuk para orang tua.
Pengunjung ibu kota mungkin juga memperhatikan trotoar lebar yang bisa digunakan untuk untuk ibu-ibu berjalan dengan kereta bayi atau anak-anak mereka.
Seluruh jaringan transportasi umum juga dapat diakses kursi roda.
Baca juga:
Bidang penting lainnya adalah perencanaan kota.
Pakar perencanaan gender, Eva Kail, sangat fokus untuk memastikan Wina menjadi salah satu kota pertama yang memperhatikan jenis kelamin untuk membentuk ruang-ruang publiknya.
Terinspirasi oleh literatur perencanaan feminis, Kail mulai mengeksplorasi topik ini 30 tahun silam dan menerima anggaran dan dukungan politik untuk menjadikannya prioritas.
"Sudah waktunya untuk melihat seluruh kota dari perspektif perempuan," katanya.
Kail mulai mengumpulkan data tentang bagaimana dan oleh siapa ruang publik Wina digunakan dan menemukan bahwa perspektif perempuan sering hilang.
Dia menjelaskan bahwa perencana kota yang didominasi laki-laki telah mendasarkan desain mereka pada minat laki-laki dan pengalaman hidup mereka sehari-hari, yang berarti mereka cenderung mengabaikan perspektif kelompok populasi lain.

Sumber gambar, Sylvain Sonnet/Getty Images
Kail memperhatikan bahwa perspektif perempuan muda secara khususnya hilang dari taman kota, dan, bersama dengan timnya, bekerja dengan mereka untuk memahami bagaimana membuat ruang kota ini lebih menarik.
Hasilnya adalah area yang lebih besar.
Lapangan, yang sebelumnya didedikasikan untuk sepak bola, dibagi menjadi ruang yang lebih kecil sehingga beberapa grup dapat bermain.
Ada juga hammock (tempat tidur gantung) untuk beristirahat.
"Ini mungkin terdengar sepele, tetapi memiliki toilet umum di taman juga penting bagi banyak pengguna taman," tambahnya.
Desain taman baru, yang sudah diuji dalam enam proyek percontohan pada 1999 dan 2000, juga menjawab ketakutan perempuan terkait keselamatannya.
"Kami memastikan jalur utama cukup terang dan cukup jauh dari semak-semak," katanya.
Proyek-proyek itu disebut Kail "sukses".
"Lebih banyak anak perempuan yang datang ke taman dan mereka mengambil lebih banyak ruang di dalamnya."
Sekarang pengunjung kota akan melihat bahwa setiap taman baru atau yang diperbarui di Wina mengikuti prinsip yang sama.
Baca juga:
Pelopor perencanaan mengatakan bahwa dia sering ditanya bagaimana menemukan desain perkotaan yang memperhatikan kesetaraan gender.
"Bila dilakukan dengan baik, itu tidak terlihat," katanya.
"Ruang publik yang berfungsi dengan baik, di mana tidak ada kelompok yang hilang atau berjuang untuk menggunakannya, tidak akan menonjol."
Namun terkadang ruang publik Wina sengaja digunakan untuk membuat perempuan lebih terlihat.
Misalnya, dalam proyek pembangunan kota Seestadt Aspern, sebagian besar jalan, alun-alun, dan taman dinamai menurut nama perempuan, seperti Janis Joplin, sebagai tandingan kecil dari penamaan laki-laki yang secara historis dominan.
Dan ada identifikasi simbolis podium di Reumannplatz sebagai girls' stage atau panggung perempuan.

Sumber gambar, 9th District Counci
Sementara pendekatan kesetaraan gender di Wina, membuatnya menempati posisi tinggi dalam peringkat kualitas hidup, profesor ilmu politik di Universitas Wina, Birgit Sauer, mengatakan bahwa Austria belum menerapkannya pada tingkat yang sama.
"Kami memiliki kesenjangan antara Wina dan daerah pedesaan dan kota-kota kecil di negara itu," katanya.
Sauer menjelaskan ada tradisi kesetaraan gender di Austria, termasuk proyek perumahan umum sejak tahun 1920-an.
Para perempuan di Wina memiliki lebih banyak akses ke dukungan, seperti penitipan anak gratis, yang cenderung mahal dan memiliki jam buka terbatas di tempat lain di Austria.
"Ini berarti ibu-ibu dapat bekerja jika mereka mau," katanya, tetapi menambahkan bahwa kesenjangan upah gender masih sering terjadi.
Banyak turis akan mengingat Wina, yang dikenal karena pesta dansa formalnya, sebagai masyarakat yang sangat tradisional, tetapi profesor tersebut mengatakan bahwa banyak faktor yang menyebabkan ibu kota itu berada di depan kurva kesetaraan gender di Eropa Tengah dan Barat.
Sauer menjelaskan bahwa di tahun 1970-an, kota ini adalah rumah bagi banyak kelompok perempuan aktif dan Wina memiliki sejarah pemerintahan Sosial Demokrat yang berinvestasi dalam menciptakan kesetaraan sosial.
Baca juga:
Dan ini tidak hanya berhenti pada gender. Menurut Sauer, banyak juga aktivisme dan dukungan politik untuk komunitas LGBTQ.
Berni Ledinski, koordinator Wina untuk QueerCityPass, sepakat.
Ledinski, yang juga berperan sebagai waria Candy Licious, mengatakan bahwa "Wina sebagai kota adalah tempat yang sangat aman bagi orang-orang queer."
Dia mengatakan bahwa kota itu tidak hanya menawarkan berbagai kafe, bar, toko, dan museum yang ramah queer, tetapi juga memiliki divisi di dalam administrasi kota yang berfokus pada memerangi diskriminasi LGBTQ.

Sumber gambar, Santiago Medina/Getty Images
Bagi Ledinski, momen sentral bagi komunitas queer ibu kota adalah ketika Thomas Neuwirth memenangkan kontes lagu Eurovision 2014, tampil sebagai sosok Conchita Wurst.
Acara tersebut juga menginspirasi Kota Wina untuk membuat komunitas queer lebih terlihat di ruang publik, misalnya dengan memasukkan ilustrasi pasangan sesama jenis di lampu lalu lintas.
Tapi sementara banyak kemajuan telah dibuat untuk komunitas queer, Ledinski mengatakan ada potensi untuk berbuat lebih banyak.
"Selalu ada ruang untuk perbaikan, terutama dalam hal pengakuan orang akan transgender," katanya.
Dan tampaknya langkah-langkah penting ke arah itu sedang berlangsung.
Wina baru-baru ini meluncurkan tempat penyeberangan transgender pertamanya, yang terletak dekat dengan Rumah Sakit Umum Wina, yang merupakan rumah bagi satu-satunya pusat kesehatan transgender di negara itu.
"Karena Covid-19, ada banyak masalah dengan layanan kesehatan trans, dan kami pikir itu akan menjadi tanda solidaritas yang bagus," kata Dominique Mras yang mencetuskan gagasan itu.
Baca juga:
Mras, yang merupakan anggota parlemen di distrik ke-9 Wina yang bertanggung jawab atas keragaman, mengatakan penting untuk dicatat bahwa penyeberangan merah muda, biru, dan putih itu mendapat dukungan dari semua partai politik, termasuk partai konservatif.
Dan sementara itu adalah satu-satunya penyeberangan yang direncanakan untuk saat ini, Mras percaya bahwa itu adalah simbol penting untuk membantu membuka percakapan seputar keragaman gender dan membuat orang trans lebih terlihat di Wina.
"Ini langkah pertama," katanya.

Sumber gambar, Luiza Puiu
Versi bahasa Inggris dari artikel ini, How Vienna built a gender equal city, bisa Anda baca di laman BBC Travel.











