You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Telemedicine dalam pandemi Covid-19: Bagaimana teknologi membantu dokter perempuan kembali bekerja
- Penulis, Swaminathan Natarajan
- Peranan, BBC World Service
Selama bertahun-tahun, telemedicine (layanan kesehatan jarak jauh) telah digunakan untuk memberikan layanan kesehatan di seluruh dunia - tetapi pandemi Covid saat ini telah menciptakan lonjakan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di Pakistan, teknologi ini membantu dokter perempuan yang sebelumnya berhenti bekerja masuk kembali ke dunia kerja.
"Seorang dokter hamil, yang merawat pasien Covid, dilaporkan kembali bekerja 24 jam setelah melahirkan. Dia ingin membantu. Platform online memungkinkan itu," kata Dr Sara Saeed Khurram.
Dia adalah salah satu pendiri Sehat Kahani, layanan kesehatan digital yang menghubungkan pasien dengan dokter perempuan melalui video.
"Di sekolah kedokteran Pakistan, hampir 70% siswanya adalah perempuan. Namun perempuan hanya mengisi 23% dari semua dokter yang berpraktik", kata Dr Saeed.
Kondisi kerja yang tidak bersahabat dan hambatan sosial - yang datang dengan status perempuan sebagai istri dan ibu - sering dilihat sebagai penyebab utama di balik kesenjangan ini.
Telemedicine sekarang membantu mengatasinya karena memungkinkan dokter untuk bekerja dari rumah.
Oleh karena kebutuhan untuk mengakses layanan kesehatan jarak jauh melonjak selama pandemi, banyak perusahaan mulai merekrut perempuan yang telah meninggalkan profesinya atau tidak pernah memasuki dunia kerja setelah lulus dari sekolah kedokteran.
"Jumlah dokter (perempuan) di tempat kami telah meningkat dari 1.500 menjadi 5.000 dalam satu tahun," kata Dr Saeed.
Pilihan radikal
Dr Anum Ahmed adalah salah satu rekrutan baru tersebut.
Sejak lulus pada tahun 2016, dia telah bekerja dengan sif yang panjang di bangsal darurat rumah sakit dan Unit Perawatan Intensif.
Namun segalanya berubah bagi dokter kelahiran Karachi ini setelah putrinya lahir, pada Maret 2020.
"Saya mengganti popok, memeluk bayi yang menangis, memandikannya ... dan tidak banyak lagi yang saya lakukan," kata Anum, yang kemudian bicara tentang depresi pascapersalinannya dalam sebuah wawancara dengan BBC.
Anum tahu beberapa rekan perempuannya berhenti dari pekerjaan mereka di rumah sakit karena tekanan dari suami mereka.
Beberapa bahkan tidak diizinkan bekerja dari rumah, katanya.
Suaminya sendiri mendukung, tetapi Anum merasa tidak mungkin untuk menyeimbangkan tuntutan menjadi seorang ibu dan seorang dokter penuh waktu.
Beban kerja sangat berat dan terkadang dia harus melakukan sif selama 36 hingga 48 jam.
"Saya harus memilih di antara dua hal yang paling berharga. Jelas, bayi saya lebih penting daripada karier saya," katanya.
"Kami para dokter menyarankan para perempuan untuk menyusui bayi mereka setidaknya selama enam bulan, tetapi kemudian kami hanya mendapatkan cuti hamil selama tiga bulan."
Belajar melayani pasien secara online
Dia awalnya berencana untuk mengambil istirahat tiga tahun.
Tetapi ketika pandemi melanda, dia merasa tidak bisa begitu saja menjauh dari pekerjaan.
Dia tahu tentang pekerjaan jarak jauh dari saudara perempuannya, yang juga seorang dokter.
Setelah istirahat bersalin selama enam bulan, Dr Ahmed mulai merawat pasien dari rumahnya.
Telemedicine adalah hal baru baginya, seperti halnya pasiennya.
"Saya tidak bisa secara fisik menyentuh dan merasakan denyut nadi pasien," katanya.
"Beberapa pasien malu menampakkan diri di kamera! Mereka senang melakukan panggilan video dengan teman-teman mereka, tetapi mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka memilih untuk tidak menunjukkan wajah mereka selama konsultasi."
Dia kini banyak fokus pada perawatan pasien dengan Covid dan komorbid diabetes.
"Pada tahap awal tidak ada yang melakukan triase sehingga pasien kasus ringan mendapatkan tempat tidur rumah sakit, sementara pasien dengan kondisi serius sekarat tanpa bantuan medis," kata dokter.
"Ketika kami masuk dan mulai merawat pasien dengan gejala yang lebih ringan, beban rumah sakit mulai berkurang."
Dia baru-baru ini melihat seorang pasien yang kadar oksigennya turun, jadi dia meminta keluarganya untuk membawanya ke rumah sakit.
Mereka tidak mengikuti sarannya dan pria itu meninggal pada malam yang sama.
"Kemudian ibu terkena Covid, jadi anak itu menelepon saya dan berkata, 'Dokter, saya akan melakukan apa pun yang Anda katakan'".
Intervensi medisnya, kata dokter, membantu menstabilkan pasien dan akhirnya menyelamatkan hidupnya.
Saat ini sebagian besar pasien online-nya adalah perempuan, seringkali mereka sangat ingin berbagi apa yang terjadi dalam hidup mereka, alih-alih hanya mendiskusikan penyakit mereka.
Anum mengatakan telemedicine tidak hanya memberinya pekerjaan dan penghasilan: itu juga menyelamatkannya dari depresi pascapersalinan.
"Saya merasa berguna, saya punya banyak pasien sekarang".
Setelah memberikan persentase penghasilannya ke platform online, dia menghasilkan sekitar $200 sebulan (Rp2,8 juta)- itu 30% dari gajinya sebelum cuti hamil dan hanya cukup untuk menyewa apartemen studio di Islamabad, tempat dia tinggal.
Bisnis yang sedang berkembang
Untuk memenuhi tuntuan pasar, penyedia konsultasi online telah mulai beroperasi di Pakistan, seperti DocHers, Ehad, Dawai, Marham , Shifa4U, Doctor-On-Line, Ring a Doctor dan Sehat Yab.
Beberapa beroperasi di bawah model komersial, sementara yang lain didanai oleh donor.
Satu platform, edoctor, yang hanya mempekerjakan dokter perempuan, telah merekrut perempuan asal Pakistan yang tinggal di luar negeri.
"Sebagai perkiraan kasar, ada lebih dari 35.000 dokter perempuan Pakistan yang tinggal di Pakistan dan di seluruh dunia yang tidak bekerja," kata pendiri Abdullah Butt.
Dr Rehana Din Mohammed adalah salah satunya.
Setelah bekerja sebagai dokter umum di Pakistan, ia pindah ke Timur Tengah dan bekerja di Arab Saudi dan Bahrain.
Kariernya selama 13 tahun dan tiga negara terhenti setelah dia menikah dengan seorang insinyur minyak Oman.
"Saya punya tiga anak. Suami saya bekerja setiap dua minggu. Saya tidak dapat menemukan pengasuh yang dapat dipercaya, jadi saya memutuskan untuk mundur."
Tapi kemudian dia menemukan peluang dengan telemedicine. Dia melakukan kursus penyegaran online dari universitas Pakistan dan bergabung dengan edoctors.
Selama lonjakan kasus Covid di negara itu, Rehana ditugaskan untuk memantau pasien yang dirawat di rumah di provinsi selatan Sindh.
Menjangkau pasien di zona perang
Layanan kesehatan ini sekarang juga menjangkau pasien yang tinggal di luar Pakistan.
"Kami mencoba memotivasi para dokter dengan menawarkan mereka bekerja di daerah zona perang yang mungkin memberikan kepuasan emosional bagi sebagian dari mereka," kata Abdullah Butt, yang telah mempekerjakan 1.000 ahli medis di 25 lokasi berbeda.
Rehana, yang fasih berbahasa Arab, baru-baru ini mulai merawat perempuan dan anak-anak di Yaman yang dilanda perang.
Pasien pergi ke klinik komunitas yang dijalankan oleh perawat dan memiliki peralatan medis dasar. Dari sana, mereka terhubung ke dokter dari jarak jauh - dan mendapat pelayanan gratis.
"Kami punya stetoskop digital, saya bisa melihat bacaannya. Dan otoskop untuk memeriksa telinga."
"Sebagian besar pasien buta huruf dan miskin. Banyak perempuan mengalami masalah kulit akibat pencemaran air. Anak-anak sangat lemah karena kekurangan gizi," tambahnya.
Mereka memiliki teleklinik di tiga lokasi di seluruh Yaman dan berencana untuk mendirikan tiga lagi.
Ada juga yang berencana melakukan ekspansi ke Gaza dalam waktu dekat.
"Saya berharap untuk kembali bekerja di rumah sakit setelah anak-anak saya tumbuh dewasa. Tetapi meskipun demikian, saya tetap ingin membantu mereka yang berada di zona perang," kata dokter, yang tidak memungut biaya untuk waktunya bekerja dengan pasien Yaman.
Konsultasi online menghemat waktu dan uang pasien.
Kurang dari setengah dari 200 juta penduduk Pakistan memiliki akses ke dokter yang berkualitas. Sekarang orang yang tinggal di daerah terpencil bisa berkonsultasi dengan spesialis top - yang mereka butuhkan hanyalah telepon genggam.
Dr Saeed mengatakan telemedicine menjadi semakin dipercaya oleh pasien.
"Telemedicine memungkinkan dokter perempuan yang sangat terampil untuk bekerja dalam batasan budaya dan sosial. Itu membuat para dokter merasa dihargai dan dihormati," kata Dr Saeed.