Kalajengking yang dinamakan Awale, nama keluarga pegiat lingkungan Ahmed Ibrahim, pria Somalia yang 'bangga' spesies baru pakai namanya

Sumber gambar, Kovařík/Lowe/Elmi
- Penulis, Damian Zane
- Peranan, BBC News
Pegiat lingkungan Somalia Ahmed Ibrahim Awale mengatakan bangga namanya dipakai untuk temuan spesies baru kalajengking dan berharap langkah itu akan menginspirasi para peneliti Afrika.
Ilmuwan berusia 66 tahun dari Somaliland itu digunakan namanya atas usulan tiga peneliti yang menemukan serangga itu sebagai penghargaan atas upaya Awale selama puluhan tahun dalam bidang konservasi dan perlindungan lingkungan.
"Sebagian spesies yang ditemukan di Somalia dan Somaliland dinamakan dengan nama tempat, atau disesuaikan dengan tumbuhan atau binatang setempat atau disebut dengan nama orang dari Eropa atau Amerika," kata Awale kepada BBC dari kantornya di Hargeisa.
"Namun bagi banyak anak muda di sini, langkah itu membuat mereka tahu, bahwa spesies ini dinamakan Awale dan Awale adalah orang Somalia," katanya dengan bangga dengan nama kalajengking, Pandinurus awalei
'Besar tapi tidak begitu mematikan'
Sejak abad ke-19, para peneliti sebagian besar dari Eropa meneliti kawasan Somalia, dan Awale termasuk sejumlah orang Somalia yang ikut terlibat dalam bidang zoology dan botani.
Kalajengking sebesar 15cm itu ditemukan di kawasan tandus di dekat desa Agabara, sekitar 50km di utara Hargeisa, ibu kota republik Somaliland.
Namun Pandinurus awalei hanyalah satu dari 50 jenis kalajengking yang ditemukan di Somaliland, sebagian memang hanya ditemukan di kawasan Somalia.
Fakta ini menunjukkan kekayaan alam flora dan fauna. Setidaknya 3.000 spesies tumbuhan ditemukan dan lebih dari 700 di antaranya memang hanya ada di sana. Jumlah temuan itu masih terus meningkat.
"Setiap tahun, temuan baru selalu ada," kata Awale, yang menemukan jenis tanaman aloe baru, atau sejenis lidah buaya, pada 2014.
"Ini merupakan pesan bahwa semua yang datang dari Somaliland dan kawasan seputar tidak selalu buram. Kami selalu mendekat kabar negatif dan temuan ini menandai pergeseran baru bahwa ada yang berbeda selain berita soal pembajakan, ekstremisme, kelaparan dan ketidak stabilan."

Sumber gambar, Ahmed Awale
Awale - yang namanya berarti "yang beruntung" - menemukan spesies tanaman baru secara kebetulan.
Saat berkendara di daerah tak bertuan, ia melihat satu ladang tanaman aloe, atau sejenis lidah buaya berjumlah sekitar 1.000.
"Belum pernah saya lihat seumur hidup saya," katanya tentang temuan yang dilanjutkan dengan penelitian lebih lanjut.
Tanaman itu memiliki warna berbeda dan warga setempat menyebutnya sebagai dacar-cas (tanaman aloe merah), dan mereka juga tidak sadar bahwa tanaman itu berbeda dari jenis lidah buaya biasa.

Sumber gambar, Ahmed Awale
Sampel tanaman ini dibawa untuk proses verifikasi termasuk diteliti di Royal Botanic Garden, London dan Herbarium Afrika Timur di Nairobi.
Tanaman ini dipastikan tahun lalu sebagai spesies baru.
Awale dan timnya menamakannya Aloe sanguinalis, atau aloe merah.
'Ancaman musnah'
Awale bangga atas keanekaragaman hayati di Somaliland, namun ia juga khawatir atas masa depan kawasan itu.
Seperti di tempat lainnya, banyak spesies yang terancam dan sebagian nyaris punah.
Perubahan penggunaan lahan untuk pembangunan, pembukaan hutan untuk tambang serta ancaman perubahan iklim menyebabkan "sejumlah spesies terancam punah," kata Awale.
"Kami mempertahankan sumber alam untuk obat, untuk perlindungan. Semakin kaya hayati, semakin kaya kualitas hidup kita," tambahnya.
"Turunnya keanekaragaman yahati berarti, kita akan menjadi semakin miskin dan keberlangsungan kita akan sulit."
Dalam upayanya melindungi lingkungan di Somaliland, Awwale membentuk Candlelight, organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat pada 1995.
Ia juga menulis buku dan artikel dan tampil di radio dan televisi mengangkat pentingnya menjaga lingkungan.
Awale mengatakan ia melihat ada perubahan yang dilakukan pemerintah setempat, namun hal terpenting yang ia saksikan adalah semakin banyaknya anak muda yang terlibat.
Walaupun diakui dengan pemberian nama spesies kalajengking, pegiat lingkungan ini mengatakan ia sadar bahwa upaya ini bisa berhasil bila dilakukan bersama-sama.
"Ada pepatah Somalia yang bunyinya begini, satu jari tak bisa mencuci muka."
"Artinya, tak ada gunanya kalau terkenal sendiri, bila tidak ada yang mendukung."
Dengan temuan ini, kata Awale, ia yakin bahwa "akan semakin banyak spesies lain yang ditemukan."










