Virus corona: Tim riset Unpad kembangkan CePAD - alat deteksi cepat Covid-19

cepad

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Alat deteksi antigen Covid 19, CePAD.

Tim riset Universitas Padjadjaran (Unpad) menciptakan alat deteksi cepat Covid-19 bernama CePAD, akronim dari kata cepat, praktis, dan andal. CePAD diklaim sama ringkasnya dengan rapid test, namun alat tersebut berbasis antigen, bukan antibodi.

Muhammad Yusuf, Koordinator Peneliti Diagnostik Covid-19 Unpad, mengatakan alat produksi timnya dapat mendeteksi antigen virus SAR-Cov2.

Hal ini, menurutnya, membuat CePAD menunjukkan hasil yang lebih akurat.

"Ketika ada orang yang sedang menunjukkan sakit, kalau diuji dengan antibodi itu kemungkinan hasilnya masih meragukan. Jadi kalau negatif, belum tentu tidak ada virusnya karena antibodi belum terbentuk. Sementara kalaupun reaktif, itu juga mungkin orang yang bersangkutan sudah sembuh. Jadi menunjukkan history atau sebelumnya pernah terinfeksi virus SAR-Cov2 ini.

"Sementara dari antigen itu, dari pertama kali virus masuk, sudah bisa terdeteksi dalam waktu hitungan hari, pada awal infeksi," paparnya.

Yusuf mengungkapkan, ada beberapa parameter untuk mengukur akurasi CePAD, berdasarkan hasil pengujian pada protein SAR-Cov2. Namun, pihaknya belum memperoleh angka dari pengujian sampel virus sebenarnya di lapangan.

"Untuk akurasi sebenarnya terhadap sampel di lapangan, kami sedang melakukan uji validasi. Jadi angkanya belum keluar. Tapi kami harapkan, tes deteksi CePAD berbasis imunoace ini di rentang 60-80%. Kalau di laboratorium sekarang, dengan formulasi yang ada, setiap kami teteskan sampel yang ada protein virusnya itu sudah terdeteksi dengan baik," kata Yusuf.

cepad

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Muhammad Yusuf, Koordinator Peneliti Diagnostik Covid-19 Unpad.

Sama-sama ada kelemahan

Namun, Adhi Sugianli, Pakar Patologis Klinis Unpad, menyebutkan, rapid tes baik berbasis antigen maupun antibodi sama-sama memiliki memiliki kelemahan. Tingkat akurasi keduanya masih lebih rendah dibanding tes PCR.

"Kalau saya mengacu pada dokumen yang sudah dikeluarkan oleh organisasi profesi patologis klinis sendiri, mereka sudah menyatakan rapid tes antigen antibodi itu jenjangnya sama, jadi tidak ada yang lebih superior di antara dua pemeriksaan tersebut,," kata Adhi.

Menurut Adhi, efektivitas masing-masing jenis rapid tes itu tergantung situasi populasi yang dihadapi dan waktu pengambilan sampel, serta bagaimana riwayat Covid 19 di wilayah tersebut. Dari tiga hal itu, baru bisa ditentukan rapid tes jenis apa yang bisa dipakai.

"(Rapid tes) antigen memiliki keunggulan karena diujikan terhadap partikel dari virus, sedangkan kalau antibodi mengambil kekebalan tubuh. Keduanya memilki fungsi atau tujuan yang berbeda. Menurut saya, keduanya efektif hanya kita mesti tahu waktu yang tepat untuk mengambil sampel dan mendeteksinya," tutur Adhi.

Rapid tes antigen, menurut Adhi, tepat digunakan pada fase-fase awal, yaitu ketika seseorang baru terinfeksi Covid 19 atau sekitar satu minggu awal orang tersebut mengalami gejala. Sedangkan rapid test antibodi, menurut Adhi akan lebih efektif mendeteksi orang yang telah terbentuk antibodi Covid 19 atau sekitar tujuh hingga 10 hari setelah terinfeksi.

cepad

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Suasana laboratorium pembuatan antibodi Covid 19 di laboratorium PT TMC.

Bagaimana cara kerja CePAD?

Cara kerja CePAD sederhana. Sampel swab diteteskan pada CePAD lalu mengalir menuju antibodi Covid 19 yang sudah terikat dengan nanopartikel emas dan telah tertanam pada perangkat CePAD.

"Ketika dia mengalir, di garis uji itu sudah ada molekul antibodi yang bisa mengikat komplek (sampel) yang sudah berwarna tadi. Jadi, kalau dalam sampel ada virus, nanti akan terbentuk garis di garis uji," kata Yusuf, yang juga peneliti di Pusat Riset Bioteknologi Molekuler dan Bioinformatika Unpad.

Sisa sampel yang tidak berinteraksi akan mengalir ke garis kontrol, yang sudah tersimpan molekul khusus yang bisa mengikat antibodi plus nanopartikel emas, sehingga akan muncul garis merah di garis kontrol. Garis kontrol ini fungsinya sebagai penanda apakah reaksi ini sudah selesai atau belum.

Sampel dinyatakan positif Covid 19 bila muncul dua garis, sedangkan bila negatif hanya muncul satu garis.

Meski cara kerja CePAD terbilang sederhana, tapi proses pembuatan CePAD relatif rumit.

Tahapan pembuatan CePAD

Proses pembuatan CePAD melewati sejumlah tahapan.

Pertama, tim akan merancang antigen Covid 19. Kedua, memproduksi antigen yang diambil dari protein spike SAR-Cov2.

Antigen dihasilkan dengan melewati sejumlah proses, mulai dari konstruksi gen, ekspresi protein, dan karakterisasi protein. Tahap kedua ini, berakhir di pemurnian protein.

Seluruh proses tersebut dilakukan di laboratorium Pusat Riset Bioteknologi Molekuler dan Bioinformatika Unpad. Proses selanjutnya dilakukan di laboratorium PT Tekad Mandiri Citra (TMC), sebagai rekanan Unpad dalam produksi CePAD ini.

cepad

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Proses awal dilakukan di laboratorium Pusat Riset Bioteknologi Molekuler dan Bioinformatika Unpad. Proses selanjutnya dilakukan di laboratorium PT Tekad Mandiri Citra (TMC), sebagai rekanan Unpad dalam produksi CePAD.

Aktor utama CePAD, ayam.

Antigen yang telah dimurnikan dikirim ke laboratorium PT TMC untuk diolah menjadi vaksin Covid 19. Bukan untuk manusia, tapi ayam.

Beberapa ekor ayam akan disuntik vaksin yang berisi antigen SAR-Cov2. Ketika divaksin, tubuh ayam akan menghasilkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan Covid 19. Ayam-ayam inilah penghasil utama antibodi Covid 19, yang nantinya ditanam di CePAD, sebagai pendeteksi virus SAR-Cov2. Antibodi itu akan keluar melalui telur dari ayam yang divaksin. Teknologi ini disebut imunoglobin York (IgY).

"Antibodi yang terdapat dari telur ini, kita sebut Imunoglobin York atau sering dikenal dengan IgY. IgY ini diekstrak dari kuning telur kemudian dimurnikan dan dipreparasi sebagai bahan baku dalam diagnostic kit CePAD yang nantinya bisa digunakan untuk mendeteksi antigen dari spesimen pasien," kata Wyanda Atnafia, peneliti PT TMC.

Teknologi IgY ini, menurut Wyanda, sangat efektif dan memenuhi unsur kesejahteraan hewan.

"Biasanya pengambilan antibodi dari hewan coba dilakukan dengan mengambil darahnya. Kemudian diambil serumnya dan dimurnikan antibodi dari serum tersebut. Proses ini lebih invasif atau kita perlu menggunakan alat suntik kepada hewan coba dan mengambil darahnya. Sedangkan di lain sisi, secara normal ayam akan mengeluarkan telur ini secara periodik, sehingga kita tidak perlu menyakiti hewan coba untuk mengambil antibodinya," ujar Wyanda.

Setelah telur dipanen, tim laboratorium PT TMC mengambil dan melakukan pemurnian antibodi tingkat awal atau disebut presipitasi.

Antibodi hasil pemurnian awal akan dibawa kembali ke laboratorium Pusat Riset Bioteknologi Molekuler dan Bioinformatika Unpad untuk dilakukan pemurnian tingkat lanjut atau kromatografi.

Tahan berikutnya adalah membuat formulasi CePAD dari antibodi Covid 19 ayam, sebelum kemudian dirakit di PT Pakar Biomedika Indonesia, sebagai pemilik izin produksi rapid tes.

Siap produksi 100.000 unit setiap bulan

Saat ini, CePAD sedang menunggu izin edar dari Kementerian Kesehatan. Izin edar ini akan terbit setelah proses validasi dan uji klinis selesai.

Namun, Yusuf menyebutkan, timnya telah menargetkan produksi CePAD secara bertahap hingga mencapai 100 ribu kit per bulan.

"Saat ini kapasitas produksi dari mitra kami itu (PT Pakar Biomedika Indonesia) adalah sekitar 50.000 per bulan, tapi tentunya itu tergantung permintaan karena penyakit ini merupakan wabah yang urgent, sehingga kami berencana meningkatkan produksinya sampai ke 100.000 piece per bulan," ujar Yusuf kepada wartawan di Bandung, Yuli Saputra, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

cepad

Sumber gambar, Yuli Saputra

Keterangan gambar, Saat ini, CePAD sedang menunggu izin edar dari Kementerian Kesehatan. Izin edar ini akan terbit setelah proses validasi dan uji klinis selesai.

Yusuf mengatakan pihaknya akan meningkatkan kandungan lokal CePAD dari 50% menjadi 90% agar harganya jauh lebih murah. Namun, Indonesia saat ini, menurut Yusuf, belum mampu memproduksi kertas Nitroselulosa, bahan utama CePAD.

"Harapannya dengan kita memproduksinya sendiri, harga pokok produksinya bisa ditekan. Contohnya saja, untuk nanopartikel sebagai pewarna, kalau kita beli impor itu harganya cukup mahal sekitar Rp77 juta untuk satu liter. Sementara, kalau kita bisa membuat sendiri dari emas satu gram bisa menghasilkan sekitar 50 liter. Jadi harganya bisa ditekan hingga di bawah Rp100.000 per piece," sebut Yusuf.

Target pengguna CePAD adalah rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Yusuf berharap, CePAD bisa memenuhi kebutuhan alat deteksi Covid 19 yang sedang dibutuhkan pemerintah saat ini. Dengan kemasan yang ringkas dan ringan, diharapkan CePAD mampu didistribusikan hingga ke pelosok atau daerah terpencil di seluruh Indonesia.

Dukungan Pemprov Jawa Barat

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendukung produksi CePAD yang disebut sebagai inovasi alat kesehatan Jawa Barat. Sebagai bentuk dukungan. Pemprov Jabar telah mengucurkan dana hingga Rp 5 miliar.

"Dengah adanya penemuan CePAD ini, tentunya Pemerintah Provinsi Jawa Barat sangat mendukung terhadap program CePAD sebagai sebuah inovasi yang berasal dari Jawa Barat. Dukungan kita, kita akan membiayai riset dari CePAD ini. Nantinya setelah CePAD ini terakreditasi, kita akan mendapatkan 300.000 test kit, ini akan sangat membantu membantu pengujian Covid 19," kata Daud Achmad, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid 19 Jawa Barat.

Menurut Daud, Pemprov Jabar sangat berharap CePAD bisa segera diproduksi massal.

"Harapan secepatnya (CePAD bisa terakreditasi) karena sekarang kendali untuk CePAD diproduksi massal dan bisa digunakan oleh masyarakat bukan di Pemprov Jabar. Kendalinya ada di Kementerian Kesehatan. Kita berharap kepada pihak yang berkepentingan dengan hal ini, bisa mempercepat supaya CePAD ini segera diproduksi massal, bisa segera beredar di masyarakat. Ini akan sangat membangu kami untuk bisa memetakan penyebaran Covid 19," ujarnya.

Hingga Selasa (11/8), Jawa Barat baru melakukan pengujian Covid 19 sebanyak 460.275 tes, terdiri dari rapid tes sebanyak 279.544 tes dan PCR 180.731 tes. Jumlah tersebut masih jauh di bawah DKI Jakarta dan belum memenuhi standar WHO, yakni 1 tes per 1000 orang per pekan. Sementara jumlah penduduk Jawa Barat hampir mencapai 50 juta orang.