Universitas-universitas Inggris uji coba tautan kuliah jarak jauh untuk mahasiswa di China, tetapi diingatkan untuk tidak terapkan 'sensor sendiri'

    • Penulis, Sean Coughlan
    • Peranan, Wartawan BBC bidang pendidikan

Beberapa universitas di Inggris menguji coba tautan pembelajaran daring bagi mahasiswa di China, yang mengharuskan materi kuliah mematuhi pembatasan internet di negara itu.

Sistem itu memungkinkan mahasiswa di China tetap mengikuti kuliah di perguruan tinggi Inggris di masa pandemi, meskipun China membatasi akses internetnya.

Kendati demikian, mereka hanya dapat mengakses materi kuliah yang masuk dalam daftar "diperbolehkan".

Sejauh ini, beberapa perguruan tinggi mengaku "tidak mengetahui adanya kasus-kasus materi kuliah yang diubah".

Universities UK, persatuan yang menaungi lembaga perguruan tinggi di Inggris, menepis anggapan bahwa mereka menyetujui "penyensoran".

Seorang juru bicara mengatakan proyek percontohan ini akan memungkin mahasiswa di China mempunyai akses lebih baik ke materi kuliah di Inggris "sementara mematuhi regulasi setempat".

Tetapi dalam tulisan terpisah yang diterbitkan oleh Institut Kebijakan Pendidikan Tinggi, Profesor Kerry Brown dari King's College London mewanti-wanti tentang risiko pihak universitas menerapkan "sensor sendiri" ketika melibatkan China.

Para anggota parlemen yang duduk di komite urusan luar negeri sebelumnya memperingatkan agar perguruan tinggi tidak menghindari "topik-topik peka bagi China", seperti protes prodemokrasi atau perlakuan terhadap warga Muslim Uighur.

Sewa pesawat

Rombongan mahasiswa China menyumbang pemasukan besar bagi perguruan tinggi di Inggris mengingat jumlah mahasiswa asal China mencapai sepertiga dari total mahasiswa asing.

Mungkin karena itulah, Queen's University Belfast, Irlandia Utara sampai merasa perlu menyewa pesawat untuk mengangkut mahasiswa dari China pada permulaan tahun akademik mulai September mendatang.

Pada tahun ajaran 2014-2015, menurut data Badan Statistik Pendidikan Tinggi, terdapat 120.000 mahasiswa dari China yang belajar di Inggris, atau sekitar 34% dari total mahasiswa asing.

Proyek percobaan ini melibatkan empat perguruan tinggi yang masuk dalam kelompok Russell Group - King's College of London, Queen Mary University of London, Universitas York, dan Southampton.

Uji coba dioperasikan oleh JISC, lembaga yang menyediakan layanan digital kepada perguruan tinggi Inggris.

Dengan adanya penyensoran internet di China maka sebagian situs disaring atau diblokir -dan muncul kekhawatiran mahasiswa di China tidak dapat mengikuti kuliah secara daring, misalnya ketika membuka tautan dalam tulisan ilmiah.

Solusi teknis, yang disediakan secara cuma-uma oleh perusahaan internet China Alibaba Cloud itu, membuat koneksi virtual antara mahasiswa di China dengan jaringan daring universitas Inggris, tempat mata kuliah disampaikan.

Namun seorang juru bicara JISC mengatakan mahasiswa China tidak akan diberi akses internet secara gratis, tetapi akan bisa mengakses "materi-materi yang dikontrol dan ditetapkan" oleh perguruan tinggi di Inggris.

Semua informasi daring yang digunakan dalam materi kuliah perguruan tinggi Inggris harus masuk daftar "'dibolehkan' dari segi keamanan yang memuat seluruh tautan materi pendidikan yang ditawarkan ke dalam materi kuliah oleh pihak perguruan tinggi", kata JISC.

Ini menimbulkan pertanyaan tentang kebebasan akademik dan kebebasan berbicara, tetapi ketika ditanya apakah prinsip-prinsip tersebut bakal terancam, mereka sejauh ini meminta pertanyaan tersebut dilayangkan ke JISC.

JISC, yang merupakan penyedia layanan online, mengatakan permasalahan itu adalah wewenang perguruan tinggi. Ditekankan bahwa "semua materi kuliah sesuai dengan kaidah yang berlaku. Tak ada yang diubah atau diblokir".

Persatuan perguruan tinggi, Universities UK, yang mendukung proyek itu mengatakan: "Kami tidak mendukung penyensoran. Skema ini bertujuan untuk memastikan bahwa mahasiswa China yang mengikuti kuliah jarak jauh selama pandemi, dapat membuka bahan kuliah dan bisa melanjutkan studi mereka."

Ditambahkan skema serupa juga sudah dilakukan oleh perguruan tinggi Australia.

Selain mematuhi peraturan China, tautan daring itu juga bertujuan untuk membuat sambungan yang lebih bisa diandalkan sehingga mahasiswa dapat dengan mudah menyaksikan kuliah dan mengikuti mata kuliah.

JISC mengatakan mahasiswa di China mengalami hambatan khusus dengan adanya pembatasan yang "menyaring lalu lintas antara China dan dunia luar, menyaring konten dari luar negeri yang digunakan untuk pembelajaran dan pengajaran dan memblokir sebagian platform serta aplikasi".

Proyek percontohan ini akan selesai bulan Juli dan bisa digunakan secara luas mulai September.