'Sepucuk surat cinta membantu saya melarikan diri' dari Venezuela

Sumber gambar, Jose Gregorio Marquez
- Penulis, Natasha Lipman
- Peranan, BBC World Service
Sebagai wartawan asal Venezuela, José Gregorio Márquez menyembunyikan masa kecilnya yang suram. Namun sebuah surat cinta untuk kampungnya menjadi tiket untuk memulai hidup baru di luar negeri.
Masa kecil José Gregorio Márquez dihabiskan di Niño Jesús, sebuah kawasan kumuh di pinggiran ibu kota Venezuela, Caracas.
Geng menguasai jalan-jalan di sana. Karena itu, ibu José yang bekerja sebagai pembersih, tak membolehkan anaknya keluar rumah.
"Banyak ibu di kawasan itu berpikir, itulah caranya agar anak mereka tak terlibat kejahatan," kata José.
José berumur enam tahun ketika Hugo Chávez menjadi presiden dan menjanjikan revolusi sosialis. Bagi banyak keluarga miskin di Niño Jesús, ia bagaikan pahlawan.
Setiap pekan José melihat Presiden Chávez di TV, membawakan acara Aló Presidente. Pada kesempatan itu, Chavez menerima panggilan telepon dari warganya di seluruh negeri.
Dari menonton krisis politik di TV, José terinspirasi menjadi wartawan.

Sumber gambar, Jose Gregorio Marquez
Pada 11 April 2002, dua hari sesudah pemogokan massal, sebuah demonstrasi besar terjadi di depan istana kepresidenan. Orang bersenjata mulai menembaki kerumunan dan 19 orang meninggal, termasuk seorang wartawan foto.
José, ketika itu 13 tahun, menonton laporannya di TV. Lalu tiba-tiba gambar berubah: Chávez berpidato.
"Siaran TV terbagi dua, memperlihatkan pidato Chávez di satu sisi, dan gambar demonstrasi di sisi lain."

Sumber gambar, Alamy
Namun tak lama itu berubah.
"Di satu sisi layar gelap di sisi lain ada Chávez berpidato," kenang José.
"Ini mengejutkan karena kita tak tahu apa yang terjadi. Namun juga mengejutkan melihat wartawan berusaha mendapat informasi, sekalipun besar risikonya. Itulah awal obsesi saya dengan jurnalisme".
José lalu memilih jalan hidupnya. Tahun 2008, ketika menjadi mahasiswa, ia magang di koran Últimas Noticias hingga berhasil mencapai posisi penulis di rubrik Ciudad (Kota).
"Pekerjaannya melaporkan dari berbagai kawasan di Caracas serta tuntutan mereka terhadap pemerintah. Saya bisa memberi suara kepada banyak orang dengan menceritakan kisah mereka".

Sumber gambar, Getty Images
Namun José tetap menyembunyikan fakta bahwa ia berasal dari Niño Jesús.
"Saya malu terhadap kawasan itu, sekalipun saya melaporkan dari kawasan kumuh lain dan menceritakan tuntutan warga agar kehidupan mereka lebih baik".
Itu merupakan saat sulit di Venezuela karena Chavez mulai bersikap keras. Wartawan dihadapkan pada risiko dipenjara jika mengkritik pemerintah.
Koran tempat José bekerja akhirnya dinasionalisasi, sama halnya dengan banyak koran dan stasiun TV lain.
Yang berhasil menghindar, mulai lunak sikapnya kepada pemerintah.

Sumber gambar, Getty Images
Bertahun-tahun José menunggu untuk keluar dari Niño Jesús. Ia ingin kehidupan lebih baik, sebuah rumah yang membuatnya merasa aman dan punya akses air bersih tiap hari.
Di Niño Jesús, air bersih hanya ada seminggu sekali, bahkan terkadang baru muncul setelah 20 hari tanpa air sama sekali.
Bulan November 2012, José pindah ke apartemen di Altamira, Caracas, tinggal bersama seorang teman lain untuk berbagi biaya sewa.
Namun segera sesudah pindah, ia merasa hal aneh terjadi. Rasa malunya terhadap Niño Jesús menguap begitu saja, tergantikan oleh perasaan cinta yang membara.
"Anda tak menghargai sesuatu sampai Anda kehilangan," kata Jose.

Sumber gambar, Alamy
Ia sadar keterampilan dan pengalaman yang didapat dari tumbuh di Niño Jesús telah membentuknya secara positif.
Ternyata ia punya kesempatan untuk menyatakan hal itu.
Venezuela mengadakan acara tahunan populer kompetisi penulisan surat cinta.
"Ini merupakan cara untuk memberi warna bagi kehidupan warga di negara yang segala sesuatunya tidak beres," kata José.
Ratusan orang ikut serta, dan acara ini sukses.
Kebayakan surat ditulis untuk kekasih, keluarga atau hewan peliharaan. Tahun 2013, José ikut serta.
Ia menulis tentang Niño Jesús.

José terpilih jadi finalis dan diminta membacakan suratnya di sebuah teater di Caracas.
"Niño Jesús tersayang, aku masih ingat bentukmu yang abstrak dan bayanganmu yang cacat," tulisnya dalam kalimat awal.
Sekalipun ketika aku berada di jalan-jalanmu dan berjalan di tanggamu, aku memilih untuk melihat langit karena itu satu-satunya yang kusuka di sekelilingku. Bodohnya aku...
Kau tak salah, tapi aku ingin menjauh darimu.
Aku benci harus bangun pukul empat pagi lalu berebut kursi di bus untuk berangkat kerja.
Aku benci naik turun di setiap anak tanggamu. Aku benci atap seng yang tak bisa menghalangi batu, tetesan hujan atau peluru. Aku benci lembara selimut di atas jenazah yang tak bisa lagi merasakan dinginnya aspal. Aku benci kamu.
Tapi kini aku merindukanmu.
Aku rindu layang-layang membanjiri langit seperti sperma yang berkelana. Aku rindu hijaunya daunmu, jingga bata, dan tanki air warna biru. Aku rindu lancangnya ayam jantan berkokok dini hari dan ributnya kucing-kucing saat fajar. Aku rindu kamu.
Namun kumengerti betapa pentingnya kamu dalam membangun hidupku, aku selalu malu terhadapmu. Kusangkal bahwa aku mengenalmu.
Maafkan aku.
Aku tak pernah merasakan memilikimu seperti sekarang ini, ketika aku hidup tanpamu dan kau tanpa aku. Aku tak pernah sadar sebelumnya aku jatuh cinta pada sesuatu yang sudah hilang dariku.
Aku tak pernah meminta sebelumnya, tapi kali ini aku mohon kamu untuk memaafkanku...
Aku berasal darimu dan aku akan terus menjadi milikmu.
José
Sesudah penampilannya yang mengharukan, José memenangkan kompetisi.

Sumber gambar, YouTube
Ia mendapat hadiah arloji seharga US$5.000 atau sekitar Rp72 juta. Ia tahu barang itu adalah jaminan baginya untuk mendapat uang seandainya ia sangat butuh. Ia pun menyimpannya di laci, membungkusnya dengan pakaian dalam.
Sebulan kemudian, apartemennya digarong, dan banyak barangnya, termasuk laptop, dicuri.
Namun arlojinya masih aman tersembunyi di balik kaus kaki dan celana dalam.

Pada tahun yang sama Presiden Chávez meninggal dunia dan digantikan oleh Wakil Presiden Nicolás Maduro.
Secara bersamaan harga minyak bumi jatuh dan inflasi melonjak. Ekonomi Venezuela terjun bebas.
"Tak ada makanan," kata José. "Warga bisa membeli makanan seminggu sekali berdasar KTP mereka. Saya dapat hari Jumat, tapi makanan biasanya diantar hari Senin dan hari Jumat makanan sudah habis. Benar-benar bikin putus asa".
Tahun 2015 sulit mengandalkan pemasukan sebagai wartawan sehingga José berpikir meninggalkan Venezuela.
José tahu untuk bisa pergi ia perlu dolar Amerika. Nilai mata uang Venezuela bolívar, begitu rendah.
Ia pun meminta tolong kepada temannya yang pergi ke Amerika untuk membawa arloji miliknya dan menjualkannya di sana.
Temannya setuju, tapi arloji hanya laku seharga US$1.500, di bawah harga aslinya, US$5.000.
Namun itu cukup. José lalu pindah ke Buenos Aires bersama teman yang meminjamkan uang untuk membeli tiket sekali jalan. Uang penjualan arloji dipakai untuk bertahan hidup di sana.

Sumber gambar, Jose Gregorio Marquez
José berharap bisa segera memulai hidup baru. Ia sudah sukses sebagai wartawan di penerbitan terkemuka Venezuela, dan menduga akan mudah baginya bekerja sebagai wartawan di Argentina.
Namun tak semudah itu. Bulan pertama ia sakit, tak tahan cuaca musim dingin Argentina, dan tak ada tawaran kerja. Ia memutuskan bekerja di kafe, yang membantunya tumbuh sebagai manusia dan belajar bekerja dalam tim.
"Saya paham, tak bisa menganggap segala sesuatu akan lancar-lancar saja. Harus siap mulai dari bawah, tanpa ego".
Enam bulan kemudian, ia dapat pekerjaan di sebuah biro iklan.

Sumber gambar, Jose Gregorio Marquez
Empat tahun setelah meninggalkan Venezuela, dia belum kembali lagi karena ia melihat tak banyak perubahan di sana, karena warisan ideologi dari Chávez.
Ia rindu pada pantai dan cuaca Venezuela tapi itu bukan alasan meninggalkan Argentina.
"Selain krisis ekonomi, Venezuela tak ramah terhadap LGBT, sedangkan saya gay," kata José.
Bulan Februari 2020, dengan uang tabungannya selama di Argentina, José memboyong ibunya yang berumur 70 tahun ke Argentina.
Ia ingin ibunya hidup nyaman di masa tua, sesuatu yang tak mungkin didapat di Venezuela.
Kata José, surat cintanya kepada Niño Jesús mengubah hidupnya.
"Hadiah itu penting dalam hidup saya. Saya jadi bisa pindah, kabur dari krisis dan membawa saya dekat dengan banyak orang hebat dari seluruh dunia".










