You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Virus corona: Cara tukang cukur bertahan di masa pandemi Covid-19
Di masa pembatasan karena pandemi virus corona, para tukang cukur mencari cara untuk bertahan. Keharusan menjaga jarak telah menyulitkan usaha pangkas rambut, yang memerlukan kontak dekat dengan pelanggan.
Di Kabupaten Garut, Jawa Barat, seorang tukang cukur membuka layanan datang ke rumah pelanggan demi memberikan rasa nyaman dan aman dari paparan virus.
"Layanan cukur 'home service' ini tidak berbeda jauh, hanya saja saya datang ke rumah pelanggan," kata Fikri, tukang cukur asal Kecamatan Banyuresmi itu, kepada kantor berita Antara.
Sejak pemerintah mendeklarasikan kondisi darurat wabah Covid-19, banyak orang diimbau agar tidak keluar rumah demi menekan penyebaran virus.
Maka dari itu, Fikri melakukan inovasi pelayanan dengan slogan "Anda di Rumah, Kami yang ke Rumah Anda" sejak sepekan lalu untuk membantu pelanggan yang butuh rambutnya dipangkas tanpa harus keluar rumah.
Laki-laki berusia 26 tahun itu menjelaskan, ia memberlakukan standar operasi yang berbeda di masa pandemi ini. Setiap peralatan mencukur rambut disemprot terlebih dahulu oleh cairan alkohol 70% sebelum maupun sesudah digunakan; dan ia selalu mengenakan masker dan sarung tangan sekali pakai.
"Selama mencukur saya pakai masker itu dan sarung tangan yang sekali pakai untuk menjamin keamanan pelanggan," kata Fikri.
Setiap pelanggan diharuskan memesan minimal satu hari sebelumnya untuk mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan.
Adapun tarifnya lebih mahal dari pangkas rambut biasa di salon, yakni Rp50 ribu bagi pelanggan di wilayah perkotaan Garut, dan sedikit lebih mahal khusus daerah selatan Garut karena jaraknya jauh.
"Untuk sekarang melayani wilayah kota sampai Cikajang yang bisa saya datangi pakai sepeda motor," imbuhnya.
'Sepi pelanggan'
Menurut Persaudaraan Pemangkas Rambut Garut (PPRG), sejak awal Maret 2020 sebanyak 2.500 pekerja pangkas rambut di Garut pulang kampung setelah usahanya gulung tikar akibat wabah virus corona.
"Karena banyak gerai Asgar (Asli Garut) yang tersebar di wilayah Indonesia kehilangan konsumen hingga 100 persen," kata ketua PPRG Irawan, seperti dikutip Liputan6.com.
Padahal sebelumnya, kata Irawan, dalam satu hari gerai pangkas rambut bisa mendapatkan minimal Rp 200.000.
Akibatnya sebagai pekerja informal, para penata rambut kesulitan memenuhi berbagai kebutuhan hidup mereka.
Tukang cukur di berbagai negara
Tapi bahkan di negara-negara yang telah melonggarkan aturan karantina virus corona, para penata rambut belum bisa bekerja seperti biasa.
Jerman menjadi negara terbaru yang melakukannya di Eropa. Salon-salon di negara itu sekarang bisa buka untuk pertama kalinya sejak karantina wilayah dimulai pada 23 Maret.
Namun bisnis belum berjalan seperti biasa — tidak ada ruang tunggu, tidak ada majalah, tidak ada potongan kering, dan kewajiban mengenakan masker bagi pelanggan dan penata rambut.
Aturan yang dikeluarkan kementerian untuk ekonomi dan urusan sosial Jerman mengharuskan jarak minimal 1,5 meter antara pelanggan dan idealnya tidak ada pengeringan rambut atau blow-dry.
Sarung tangan harus dikenakan sampai rambut pelanggan dicuci (untuk mematikan bakteri) tapi boleh dilepas saat memotong rambut.
Bagaimana dengan ngobrol-ngobrol di salon?
Itu juga tidak boleh. Peraturan melarang pembicaraan tatap muka - segala komunikasi mengenai potongan atau warna rambut harus dilakukan lewat cermin dan dijaga sesedikit mungkin.
Badan pengawas mengatakan aturan-aturan itu diperlukan karena pada dasarnya rias rambut adalah kegiatan yang intim.
Saat menata rambut, pekerja mengalami kontak yang lebih dekat dengan pelanggan daripada di usaha ritel, papar organisasi itu.
Salon juga wajib mencatat nama pelanggan mereka sehingga pelacakan kontak infeksi bisa dilakukan bila perlu.
Di Eropa, penata rambut menjadi salah satu bisnis pertama yang diizinkan buka ketika pembatasan lockdown dilonggarkan.
Di Spanyol, salon-salon juga kembali buka pada tanggal 4 Mei namun harus dijalankan pada maksimal 30% dari kapasitas normal dan pelanggan harus membuat janji terlebih dahulu.
Ketika salon-salon kembali dibuka di Denmark pada 17 Maret, salah satu sistem pemesanan daring terbesar di nagara itu mengalami crash, yang menurut satu surat kabar dikarenakan tingginya volume warga yang sangat membutuhkan potong rambut.
Namun seberapa sulit aturan ini dipenuhi dan bagaimana mereka mengubah potongan rambut?
Alison Badrick adalah penata rambut pribadi di Buckinghamshire, Inggris, dan masih menunggu pedoman dari pemerintah Inggris agar ia bisa kembali bekerja. Ia khawatir harus menunggu lama.
Ia mengatakan sebagian besar aturan kedengaran masuk akal tapi sulit diikuti, terutama memotong rambut pelanggan yang mengenakan masker.
Tali masker akan menyusahkan pemotongan rambut di dekat telinga, ia menjelaskan: "Kecuali jika mereka mengenakan topeng yang melekat di wajah, saya tidak tahu bagaimana cara melakukannya."
Di Jerman, kepala Asosiasi Penata Rambut mengatakan kepada program berita televisi Tagesschau bahwa pelanggan dibolehkan melepas masker wajah dari telinga mereka sebentar dan menahan masker di mulut mereka.
Entah potong rambut adalah pengalaman yang menenangkan atau membuat stres sebelum masa pandemi, sepertinya pasca-lockdown, pengalaman itu akan sangat berbeda.
Aturan penjarakan sosial akan berarti salon tidak bisa melayani klien sebanyak biasanya — salah satu grup salon di London, Blue Tit, memperkirakan toko-tokonya akan bekerja dengan 50% kapasitas biasanya.
Perusahaan itu berencana memberikan waktu tambahan 15 menit setelah setiap klien untuk memungkinkan pembersihan menyeluruh, dan berharap bisa menambah jam buka dan membagi pegawainya ke dalam dua sif.
Salon-salonnya fokus pada perawatan rambut yang berkelanjutan, dan berharap tetap dapat memberikan "beberapa kemewahan" yang meliputi layanan pijat kepala, keramas, dan minuman.
Apa pun langkah-langkah baru yang diperkenalkan oleh pemerintah pada saatnya tiba, tampaknya jelas bahwa ongkos potong rambut akan naik.
"Kami akan memasang ongkos lebih tinggi dengan waktu janji yang lebih lama, serta biaya alat pelindung pribadi, tapi keselamatan pelanggan dan staf adalah prioritas kami di sini," Blue Tit menjelaskan.
Aturan baru potong rambut di Jerman:
- Salon hanya melayani pelanggan yang telah membuat janji demi menghindari pelanggan menunggu di dalam salon
- Pelanggan dan penata rambut harus menjaga jarak 1,5m kecuali saat memotong rambut
- Pelanggan dan penata rambut harus mengenakan masker
- "Komunikasi langsung" tidak diizinkan — diskusi tentang gaya rambut, warna, dll harus dilakukan lewat cermin dan dijaga sesedikit mungkin
- Tidak mengeringkan rambut, jika memungkinkan
- Harus ada sirkulasi udara segar, yang menurut peraturan harus 100m3/jam per penata rambut
- Gunting dan alat-alat lain harus disemprot disinfektan dengan cermat antara penggunaan, begitu pula kursi penata rambut
- Kain pangkas rambut harus dicuci setelah setiap penggunaan dan, jika memungkinkan, ada kain sekali pakai yang dikenakan paling atas
- Pelanggan harus mencuci tangan saat memasuki salon
Sumber: Berufsgenossenschaft für Gesundheitsdienst und Wohlfahrtspflege