Bagi kaum laki-laki, lebih baik kencing berdiri atau duduk?

Sumber gambar, Getty Images
Di kebanyakan kebudayaan, anak laki-laki diajarkan untuk kencing berdiri, sementara anak perempuan dalam posisi duduk.
Tetapi pandangan yang meluas ini sekarang dipertanyakan pejabat kesehatan di sejumlah negara.
Dalam beberapa kasus, sejumlah alasan yang diberikan untuk mempertimbangkan cara buang air kecil laki-laki berdasarkan kesehatan dan kebersihan, tetapi yang lainnya juga memperhatikan masalah persamaan hak.
Hanya kencing sebentar?

Sumber gambar, Getty Images
Bagi kebanyakan laki-laki, kencing berdiri memang lebih mudah. Di samping juga cepat dan praktis. Laki-laki keluar dan masuk wc umum dengan cepat, sehingga tidak ada antrean.
Alasannya:
- 1. Laki-laki dapat dengan cepat buang air kecil tanpa harus menanggalkan beberapa lapis pakaian
- 2. Karena wc berdiri memakan ruang lebih kecil dibandingkan bilik, maka lebih banyak yang dapat ditempatkan
Tetapi sejumlah situs mengisyaratkan posisi tubuh saat kencing juga dapat mempengaruhi volume arus air seni.
Proses buang air kecil

Sumber gambar, Getty Images
Air seni dikeluarkan dari ginjal, yang menyaring sisa-sisa metabolisme.
Urine kemudian disimpan di kandung kemih, yang memungkinkan kita melakukan kegiatan sehari-hari - dan tidur di malam hari - tanpa perlu terlalu khawatir karena harus selalu ke wc.
Kandung kemih memiliki kapasitas maksimum antara 300 ml dan 600 ml. Kita cenderung buang air kecil sudah terisi dua pertiganya.
Untuk dapat sepenuhnya mengosongkan kandung kemih, kita memerlukan sistem kontrol syaraf yang sehat, yang menyadarkan kita kapan perlu buang air kecil dan menahan urine jika kita belum bisa kencing.
Begitu terasa nyaman, otot dasar pelvis dan otot kandung kemih yang mengelilingi uretra, akan mengendor.
Kandung kemih kemudian berkontraksi dan mengosongkan urine ke uretra dan ke luar tubuh.
Berdiri atau duduk?

Sumber gambar, Getty Images
Seseorang yang sehat seharusnya tidak memaksa dirinya untuk buang air kecil.
Tetapi kadang-kadang laki-laki mengalami masalah yang dapat menimbulkan persoalan kencing untuk sementara waktu.
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan terbitan ilmiah Plos One, laki-laki dengan pembengkakan prostat - yang menghambat jalur urine - dapat diuntungkan posisi kencing duduk.
Kajian tersebut membandingkan laki-laki sehat dan laki-laki dengan gejala masalah sistem kencing bagian bawah (LUTS), atau gejala prostat.
Bagi laki-laki dengan LUTS, posisi duduk akan mengurangi tekanan di daerah uretra dan membuat proses buang air kecil lebih nyaman dan cepat.
Tetapi bagi laki-laki sehat, tidak terdapat perbedaan antara posisi berdiri dan duduk.
Keputusan yang tepat

Sumber gambar, Getty Images
Di Inggris, Badan Kesehatan Nasional (NHS) mengusulkan laki-laki yang punya masalah dengan buang air kecil untuk mencari tempat yang nyaman dan sepi.
Tetapi tidak terdapat bukti atau kajian yang membuktikan bahwa kencing duduk akan mencegah kanker prostat atau memperbaiki kehidupan seks.
... dan semua orang menggunakan wc yang sama

Sumber gambar, Getty Images
Yang kami ketahui adalah terdapat sejumlah cerita yang sepertinya berasal dari tahun 2012 di Swedia, ketika seorang politikus setempat sudah tidak sabar melihat keadaan wc umum sehingga dia memutuskan untuk mencari cara agar laki-laki lebih memikirkan orang lain.
Dia mengatakan bahwa tujuannya adalah mempromosikan kebersihan dan memastikan orang tidak lagi perlu meloncati kubangan air mencurigakan saat akan ke wc.
Perdebatannya berlanjut dan di beberapa negara Eropa, terutama Jerman, tedapat wc umum di mana kencing berdiri dilarang.

Sumber gambar, Getty Images
Sejumlah wc memiliki tanda larangan kencing berdiri, tetapi muncul juga istilah"Sitzpinkler" yang mengisyaratkan buang air kecil dalam posisi duduk tidaklah maskulin.
Rumah pribadi juga terimbas, di mana kadang-kadang terdapat tanda bagi tamu laki-laki untuk duduk saat kencing.
Pada tahun tahun 2015, terjadi kasus di pengadilan Jerman di mana seorang pemilik rumah meminta rugi atas kerusakan pada lantai marmer kamar mandinya, yang dikatakannya karena urine.
Tetapi pada akhirnya hakim memutuskan cara kencing laki-laki tersebut sejalan dengan norma budaya.
Dia mengatakan "kencing berdiri masih merupakan praktik umum".










