Virus corona: Apakah mengenakan masker bisa mencegah kita tertular virus, mengapa perlu hand sanitizer, dan bagaimana sebaiknya bersalaman?

masker

Sumber gambar, Antara Foto/Iggoy el Fitra

Keterangan gambar, Petugas apotek memasang tanda stok masker habis, di kawasan pusat penjualan obat-obatan dan alat kesehatan Tarandam, Padang, Sumatera Barat, Selasa (03/03).
    • Penulis, Liza Yosephine
    • Peranan, BBC News Indonesia

Menyusul konfirmasi dua pasien di Indonesia yang terinfeksi virus corona baru, atau Covid-19, masker dan cairan pencuci tangan atau hand sanitizer makin diburu masyarakat sehingga menyebabkan kelangkaan.

Tidak hanya di Indonesia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa alat pelindung seperti masker dan kacamata yang digunakan oleh petugas kesehatan yang memerangi virus corona sudah hampir habis.

Kepala WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa "persediaan turun tajam".

Keterangan video, Virus corona: Takut jabat tangan, 'Wuhan shake' jadi pilihan

Dia menambahkan bahwa gangguan pasokan telah disebabkan oleh meningkatnya permintaan, penimbunan dan penyalahgunaan.

Syahrizal Syarif, pengurus pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), mengatakan masyarakat dalam negeri saat tidak usah panik karena tingkat penyebaran virus corona masih belum berada di tingkat yang berbahaya dengan penularan pesat, seperti misalnya yang terjadi di Korea Selatan atau Italia.

Yang perlu diingat, ujarnya, adalah bahwa penularan terjadi jika ada kontak dengan orang yang terkonfirmasi terinfeksi.

"Kenapa orang menjadi sakit? Nomor satu kita mesti ingat, orang sakit itu nggak bisa tiba-tiba dia sakit sendiri. Harus ada orang lain yang sudah sakit," kata Syahrizal kepada BBC News Indonesia.

Hingga Rabu malam (04/03), dua orang yang terkonfirmasi beserta enam suspect pengidap virus corona diisolasi di Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta.

Hingga kini kasus infeksi maupun penelusuran kontak masih terpantau, jelas Syahrizal.

Bagaimanapun, kecemasan publik mendorong pemborongan masker bedah.

Seorang perempuan memakai masker bedah.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Masker wajah juga banyak dipakai untuk melindungi diri dari polusi udara.

Apakah harus selalu menggunakan masker?

Polisi pada awal pekan menyita lebih dari setengah juta masker wajah dari sebuah gudang di wilayah Jakarta menyusul terkonfirmasinya pasien Covid-19 pertama di dalam negeri yang memicu kepanikan pembelian.

Harga masker pun melonjak di berbagai toko-toko.

Namun, pakar kesehatan masyarakat, Syahrizal Syarif, menilai berdasarkan situasi di Indonesia sejauh ini, orang yang sehat sebenarnya tidak perlu menggunakan masker.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan masker itu memang efektif untuk mencegah penularan jika digunakan pada situasi yang tepat.

"Penularan itu mesti ada orang yang sudah terinfeksi, lalu di sekitarnya ada orang yang rentan terhadap virus, karena semua orang pada dasarnya tidak mempunyai kekebalan. Ini terkait dengan yang namanya modus transmisi, bagaimana penularan itu bisa terjadi, virus itu bagaimana menular dari satu orang yang sakit ke orang yang lain," papar Syahrizal.

Menurut dia, penularan dapat terjadi melalui transmisi percikan yang muncul ketika orang yang sakit bersin atau batuk.

"Seandainya orang yang sakit itu tidak memakai masker maka dia bisa menularkan ke orang-orang sekitarnya. Jadi masker itu sangat efektif jika dipakai oleh orang yang sakit, sehingga walaupun batuk atau bersin, dia tidak akan menularkan ke orang yang lain," jelas Syahrizal.

Masker, corona

Sumber gambar, ANTARA FOTO/FB ANGGORO

Keterangan gambar, Pegawai apotek mengenakan masker saat melayani konsumen yang bertujuan membeli masker dan cairan pembersih tangan, namun banyak apotek kehabisan stok karena permintaan meningkat.

Penggunaan masker yang diprioritaskan sejauh ini adalah ketika ke tempat kerumunan di wilayah-wilayah terjangkit atau perjalanan melalui pesawat saat menuju maupun kembali dari wilayah dengan julmah yang terinfeksi yang tinggi.

Masker juga perlu dipakai oleh petugas kesehatan yang menangani orang yang sakit, bahkan masker yang dianjurkan adalah N95 yang bisa menyaring 95% partikel-partikel kecil.

Namun, seorang dokter spesialis paru-paru berpendapat bahwa ada beberapa pertimbangan bagi yang tidak sakit untuk menggunakan masker.

Dr Erlina Burhan, Ketua Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Jakarta, mengatakan kerumunan yang jarak orang sangat dekat, bahkan hingga berdempet-dempetan.

"Yang sehat tidak perlu pakai masker kecuali berada di keramaian yang mana kita tidak tahu di antara kerumunan itu ada yang sakit atau tidak," kata Erlina.

Ia menganjurkan pada dasarnya jika seseorang sedang sakit, maka akan lebih baik agar di rumah saja sehingga tidak beresiko menularkan penyakit ke orang lain.

Apakah masker bedah dapat mencegah masyarakat terpapar virus?

Masker-masker bedah yang dikenal khalayak saat ini pertama kali diperkenalkan ke berbagai rumah sakit pada akhir abad ke-18, namun belum dirilis ke publik sampai akhirnya wabah flu melanda Spanyol pada 1919 yang menewaskan lebih dari 50 juta orang.

Akan tetapi, para ahli memperingatkan bahwa jenis masker itu, yang biasa digunakan oleh staf medis saat melakukan tindakan operasi, tidak mampu melindungi diri dari potensi tertular infeksi virus corona melalui udara.

Masker 'bedah' itu disebut hanya cukup mampu melindungi diri dari tetesan besar dan semprotan, namun tidak terbukti untuk menyaring udara secara efektif.

"Masker TIDAK efektif dalam melindungi masyarakat umum terpapar virus corona. Namun, jika penyedia layanan kesehatan tidak mampu menyediakan masker untuk pasien yang sakit, maka itu akan membahayakan komunitas kita!" cuit ahli bedah umum Jerome Adams di Twitter.

Dua perempuan menggunakan masker wajah yang berwarna merah muda dan abu-abu di jalanan Tokyo, Jepang.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Warga Jepang menggunakan masker untuk melindungi diri dari potensi terpapar virus corona.

Dr Jake Dunning, yang mengepalai unit penyakit menular di Lembaga Kesehatan Masyarakat, Inggris, mengatakan: "Meski ada persepsi bahwa pemakaian masker wajah mungkin berguna, namun buktinya sangat kecil bahwa ada faedah luas di luar tataran klinis."

Ia mengatakan masker wajah harus dipakai dengan benar, sering diganti, dan dibuang dengan aman. Akan lebih baik jika orang-orang memperhatikan dan menjaga kebersihan tangan mereka, kata Dr. Dunning.

Sebuah penelitian tahun 2016 dari New South Wales, Australia, menyebutkan orang-orang menyentuh wajah mereka sekitar 23 kali dalam satu jam.

Dr David Carrington, dari St George's, Universitas London, tampak sepakat.

Dia mengatakan kepada BBC News "masker-masker bedah yang biasa digunakan masyarakat bukan perlindungan yang efektif terhadap virus atau bakteri di udara", yang merupakan cara "sebagian besar virus" ditularkan, karena masker terlalu longgar, tidak memiliki saringan udara, dan tidak melindungi mata kita.

masker

Apakah pemakaian masker khusus akan lebih efektif?

Respirator atau alat pelindung pernapasan, yang cenderung memiliki filter udara khusus, dirancang khusus untuk melindungi terhadap partikel-partikel udara yang berpotensi berbahaya.

Akan tetapi, selain harga respirator lebih mahal daripada masker biasa, keefektifan alat itu pun dipertanyakan mengingat harus dipasang dengan sempurna dan dipakai terus-menerus.

Jonathan Ball, profesor virologi molekuler di Universitas Nottingham, Inggris mengatakan: "Hasil penelitian yang dilakukan secara saksama menyebutkan, masker wajah sama baiknya dengan respirator atau alat pelindung pernapasan yang dibuat khusus dalam mencegah penularan influenza."

"Namun, ketika Anda melihat studi lain yang melihat keefektifannya dalam populasi umum, datanya kurang menarik - menjadi tantangan untuk memakai pelindung wajah dalam jangka waktu yang lama," tambah Prof Ball.

Dr Connor Bamford, dari Wellcome-Wolfson Institute for Experimental Medicine, di Queen's University Belfast, mengatakan akan jauh lebih efektif jika kita "menerapkan langkah-langkah kebersihan yang sederhana."

"Menutup mulut Anda saat bersin, mencuci tangan, dan tidak meletakkan tangan ke mulut sebelum mencucinya, dapat membantu membatasi risiko tertular virus pernapasan," katanya.

Dia khawatir memakai masker khusus justru akan berdampak negatif.

"Penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan dengan perilaku yang direkomendasikan ini berkurang dari waktu ke waktu ketika memakai masker wajah sudah dilakukan dalam waktu yang lama," tambahnya.

Orang-orang di China memakai masker bedah.

Sumber gambar, Getty Images

Lantas apa gunanya masker?

Berdasarkan petunjuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masker dipakai ketika seseorang menangani orang lain yang diduga mengidap Covid-19.

Masker juga dipakai ketika seseorang batuk atau bersin.

Penggunaan masker sejatinya efektif hanya ketika digabungkan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun dan air atau cairan berbasis alkohol.

Berikut cara penggunaan masker yang disarankan WHO:

1. Sebelum mengenakan masker, bersihkan tangan dengan cairan alkohol atau mencucinya dengan sabun dan air.

2. Tutupi mulut dan hidung dengan masker. Pastikan tidak ada celah antara wajah dan masker.

3. Hindari menyentuh permukaan masker saat menggunakannya. Jika terpaksa menyentuh masker, cuci tangan memakai sabun dan air atau bersihkan dengan cairan alkohol.

4. Begitu masker lembab, segera ganti dengan yang baru dan jangan gunakan kembali masker setelah dipakai.

5. Untuk melepas masker, lepaskan dari belakang (jangan sentuh bagian depan masker). Segera buang masker di tempat sampah tertutup. Kemudian bersihkan tangan dengan sabun dan air atau bersihkan memakai cairan alkohol.

6. Setelah melepas masker atau setiap kali secara tidak sengaja menyentuh masker bekas, cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air atau gunakan cairan alkohol untuk membersihkannya.

Short presentational grey line

Apakah hand sanitizer lebih efektif daripada mencuci tangan dengan air dan sabun?

Selain masker, hand sanitizer atau cairan pencuci tangan, juga dicari masyarakat setelah virus corona baru mewabah.

Masker, corona

Sumber gambar, Aditya Irawan/NurPhoto via Getty Images

Para ahli memang mengatakan bahwa selain penularan secara langsung melalui percikan, penularan penyakit juga bisa terjadi tidak secara langsung.

Itu terjadi ketika seseorang yang rentan terinfeksi memegang suatu benda yang sudah terkontaminasi oleh percikan bersin atau batuk dari orang yang sakit, misalnya di meja, pintu maupun pegangan eskalator.

"Mencuci tangan dengan sabun bisa menghilangkan semua bakteri yang ada di telapak tangan. Tidak usah pakai antiseptik, sabun biasa saja sudah bersih dan ini sudah melalui penelitian-penelitian," kata Syahrizal Syarif dari IAKMI.

"Ketika keadaan kita tidak ada sabun, atau kita mau mengunjungi orang yang sakit di rumah sakit atau kita pergi ke pasar dan megang ini itu, hand sanitizer adalah antiseptik, yaitu bahan kimia yang bisa membunuh bakteri," tambahnya.

Dokter spesialis paru-paru Erlina Burhan mengatakan bahwa menyentuh muka dengan tangan yang kotor dapat membawa virus maupun bakteri masuk ke saluran pernapasan.

"Cuci tangan itu penting karena kadang-kadang kita tidak sadar kita mungkin menyentuh benda-benda yang sudah tercemar oleh virus maupun kuman," kata Erlina.

Ia menambahkan bahwa cairan cuci tangan dapat menjadi salah satu opsi yang praktis ketika bepergian.

Masker, corona

Sumber gambar, Aditya Irawan/NurPhoto via Getty Images

Menurut anjuran WHO, jika tangan terlihat kotor, maka dianjurkan untuk mencuci tangan dengan air dan sabun.

Jika tidak terlihat kotor, tangan tetap harus dijaga kebersihannya, termasuk dengan menggunakan cairan pencuci tangan berbasis alkohol.

Demi menjaga kesehatan diri dan orang sekitar, WHO juga menganjurkan setiap orang untuk mencuci tangan setelah bersin maupun batuk, setelah dan sebelum makan, seusai dari toilet, saat merawat orang yang sakit, dan setelah memegang hewan maupun kotoran hewan.

Short presentational grey line

Apakah benar harus menghindari salaman menjabat tangan?

Anjuran untuk menjaga jarak hingga menghindari menjabat tangan pun juga mulai menjadi perhatian masyarakat.

Beberapa video yang diunggah di media sosial menunjukkan berbagai alternatif salaman untuk meminimalisir resiko penularan dari melambaikan tangan hingga tos siku maupun tos kaki.

corona

Sumber gambar, AFP/Getty Images

Keterangan gambar, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, dan Presiden Grup Bank Dunia, David Malpass, melakukan tos siku pada akhir jumpa pers mengenai Covid-19 di Washington DC, Rabu (04/03).

Rita Damayanti, pakar kesehatan masyarakat dari UI, mengatakan sementara penularan tidak terjadi melalui sentuhan saja. Yang perlu diperhatikan, menurutnya, adalah jika tangan berkontak dengan seseorang yang sakit, lalu menyentuh area-area tertentu yang ada lendirnya, seperti mata, hidung maupun mulut.

"Droplet (percikan) itu dia tidak akan masuk kalau misalnya kita salaman, itu nggak bisa menular lewat salaman - kulit ke kulit. Tapi kalau misalnya salaman dengan orang yang terinfeksi virus, lalu mengucek mata, atau makan, itu bisa tertular," kata Rita.

Syahrizal dari IAKMI menambahkan bahwa di Indonesia, menghindari jabatan tangan masih belum diperlukan.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa pertimbangan itu akan berubah jika terjadi lonjakan kasus.

"Tapi nanti, jika situasi Depok tiba-tiba terjadi eskalasi dan tidak jelas sumbernya, sudah ditelusuri asalnya dari mana nggak jelas, nah baru lah, boleh kita sedikit berhati-hati karena situasinya sudah berbeda," ujar Syahrizal.

WHO menganjurkan untuk menjaga jarak setidaknya satu meter dari orang yang batuk atau bersin.

Hal ini karena ketika seseorang batuk atau bersin, tetesan cairan kecil atau droplet, yang keluar dari hidung atau mulut mereka mungkin mengandung virus.

Jika, berdiri di bertempat di jarak dekat, ada resiko menghirup tetesan air itu, termasuk virus Covid-19.

Masker, corona

Sumber gambar, Aditya Irawan/NurPhoto via Getty Images

WHO minta Indonesia menyiapkan diri untuk segala skenario

Menyusul terkonfirmasinya kasus-kasus Covid-19 baru di India, Indonesia dan Thailand, WHO meminta negara-negara di wilayah Asia Tenggara untuk memperkuat kesiapsiagaan untuk semua skenario yang mungkin terjadi dan memastikan langkah-langkah penahanan penyebaran sejak dini.

"Prioritas utama negara harus siap untuk meluncurkan respons cepat terhadap kasus pertama, klaster pertama, dan bukti pertama transmisi komunitas. Tindakan penahanan dini dapat membantu negara menghentikan penularan," kata Dr Poonam Khetrapal Singh, Direktur Regional, WHO wilayah Asia Tenggara.

Virus ini dapat menyebabkan gejala ringan, seperti flu, dan juga penyakit yang lebih parah.

Gejala penyakit termasuk demam, batuk, dan sesak napas.

Berdasarkan data saat ini, secara global 81% kasus tampak mengalami sakit ringan, sekitar 14% tampak berkembang menjadi penyakit parah, dan sekitar 5% kritis.

Singh mengatakan bahwa orang-orang dapat melindungi diri dan mencegah penyebaran virus dengan menerapkan praktek kebersihan tangan, menutupi mulut ketika batuk dan bersin, menjaga jarak dari orang lain jika sakit dan dari mereka yang sakit.