Anak ayam mengganti gawai: Kebijakan 'chickenisasi' atasi kecanduan gadget pada anak, yang 'baru diriset'

bandung

Sumber gambar, Antara/RAISAN AL FARISI

Keterangan gambar, Pemerintah Kota Bandung meluncurkan program tahap pertama pemberian 2.000 anak ayam yang dibagikan ke sekolah-sekolah tingkat SD dan SMP di wilayah Kecamatan Gedebage dan Kecamatan Cibiru agar siswa agar tidak kecanduan gawai.

Pemerintah Kota Bandung mencoba mengatasi kecanduan gawai pada anak, dengan memberikan anak ayam, dengan meluncurkan program yang disebut 'Chickenisasi', pada Kamis (21/11).

Ada 10 ekor anak ayam yang telah disiapkan untuk dibagikan secara simbolis kepada murid-murid sekolah dasar dan menengah pertama.

Dalam program Chickenisasi ini hanya pelajar laki-laki yang menerima anak ayam, sedangkan pelajar perempuan diberi bibit pohon buah.

Saat memberi sambutannya, Wali Kota Bandung, Oded M Danial mengklarifikasi soal pemberian anak ayam yang dikaitkan dengan mengatasi kecanduan pada gawai.

"Program Chickenisasi ini bukan semata-mata mengalihkan anak pada gadget, tapi ini merupakan sebuah konsep yang hadir di Kota Bandung sebagai respons positif pada program revolusi mental dengan menghadirkan pendidikan aktif, kolaboratif, integratif," ujar Oded.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini menegaskan inti dari program tersebut adalah edukasi dan pembentukan karakter.

Namun ia beharap ada manfaat langsung program termasuk mengatasi masalah kecanduan pada anak.

"Jangan sampai anak-anak kecanduan gawai. Kalau dikasih ini [anak ayam] ada kesibukan yang positif. Dengan adanya peliharaan, anak punya kesibukan, jadi [gawai] terlupakan," papar Oded kepada wartawan Julia Alazka di Bandung yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

ayam

Sumber gambar, Julia Alazka

Keterangan gambar, Wali Kota Bandung, Oded M Danial, mengaku tidak melakukan kajian atau riset sebelum menyusun kebijakan pemberian anak ayam.

"Ide Mang Oded...Kita coba dulu"

Tetapi Oded mengaku belum melakukan kajian atau riset untuk mendukung pendapatnya itu.

"Belum [riset] lah. Ini baru ide Mang Oded. Kita coba dulu. Setelah kita coba, baru diriset, evaluasi. Mudah-mudahan saja [ada pengaruhnya]. Tapi secara logika sih harusnya ada pengaruhnya," kata dia.

Oded mengklaim, program Chickenisasi ini akan berdampak positif pada karakter anak, seperti disiplin, tanggung jawab, membentuk jiwa entrepreneurship, dan kasih sayang.

Dia berharap dengan diberi anak ayam, murid-murid sekolah punya empati karena menyayangi hewan, punya disiplin karena harus memberi makan hewan, dan cinta lingkungan karena memberi sisa makanan kepada hewan.

Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung telah menyiapkan sebanyak 2.000 ekor anak ayam kampung yang akan dibagikan secara bertahap ke 10 SD Negeri dan dua SMP Negeri di Kota Bandung.

Siswa yang mendapat anak ayam adalah mereka yang bersedia dan mendapat dukungan dari orang tua.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengatakan rumah siswa akan disurvei oleh tim dari Dinas Pendidikan dan Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung untuk memastikan kelayakan pemeliharaan ayam.

"Sebelumnya kita menanyakan dulu kepada anak dan orang tua apakah bersedia. Jadi kalau yang memang tidak bersedia, kita tidak berikan. Kita lakukan survei ke tempat tinggalnya, karena membutuhkan lahan walaupun tidak besar. Kita lihat apakah mendukung atau tidak karena harus ada kandang dan sebagainya itu juga yang jadi pertimbangan," kata Gin Gin Ginanjar.

Lima siswa yang mendapat anak ayam akan digabungkan dalam satu kelompok. Mereka akan mengurus lima ekor ayam secara bersama-sama yang dikandangkan di salah satu rumah siswa yang memenuhi syarat.

Anak ayam yang diberikan berusia empat hari. Alasannya, si anak ayam telah diimunisasi pada usia 3 hari.

"Jadi kita ingin berikan anak ayam dalam posisi sudah aman. Vaksin di usia 3 hari itu kan vaksin awal yang penting," kata Gin Gin.

bandung

Sumber gambar, Julia Alazka

Keterangan gambar, Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung telah menyiapkan sebanyak 2.000 ekor anak ayam kampung yang akan dibagikan secara bertahap ke 10 SD Negeri dan dua SMP Negeri di Kota Bandung.

Didukung guru dan orang tua murid

Suhartini, guru SMP Negeri 46, salah satu sekolah penerima program Chickenisasi, menyambut gembira program ini. Ia menyebutnya sebagai program yang luar biasa.

"Luar biasa. Saya berikan apresiasi untuk program ini dengn adanya memelihara ayam dan tumbuhan ini menumbuhkan rasa cinta pada tumbuhan dan hewan, menumbuhkan rasa tanggung jawab. Sangat mendukung program ini," kata Suhartini.

Suhartini berharap, program ini bisa menghilangkan separuh waktu anak-anak bermain gawai.

"Kalau menghilangkan (main gawai), kayaknya tidak, tapi setidaknya mengurangi waktu main HP," kata dia.

Orang tua siswa, Wawan, mengaku senang karena dia berharap anak ayam bisa mengalihkan perhatian anaknya pada gawai.

"Saya lihat juga main HP terus dengan adanya program ini, mudah-mudahan bisa mengalihkan perhatian anak main HP dengan kegiatan ysng positif, melihara ayam," kata Wawan.

Anak Wawan, Agung, juga mengaku senang bakal mendapat ayam. Dia malah sudah belajar cara memelihara ayam dari pamannya dan bertekad mengurus sampai ayamnya besar.

Tapi, ketika ditanya memilih mana antara mengurus ayam dan main HP, dia menjawab: "Lebih seru main HP."

Permainan video gim berdekatan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kalangan pegiat menilai kecanduan gawai pada anak terjadi akibat "pembiaran" oleh orang tua.

'Atasi masalah dengan masalah baru'

Tapi tidak semua kalangan menyambut program ini dengan gembira.

Ketua Umum Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (Kerlip), Yanti Sriyulianti, menilai pemberian anak ayam untuk mengatasi kecanduan gawai adalah mengatasi masalah dengan masalah baru.

"Buat saya ini menyelesaikan masalah dengan masalah baru. Beternak ayam memerlukan tempat yang memadai. Bersih dari hama dan cukup jauh dari pemukiman untuk mencegah penularan penyakit. Bagi anak-anak di perkotaan akan kesulitan menemukan tempat yang memadai tersebut," katanya.

Menurutnya, program Chickenisasi tidak menyentuh akar masalah dari kecanduan gawai. Menurutnya, kecanduan gawai pada anak terjadi akibat "pembiaran" oleh orang tua.

"Perilaku salah orang tua dalam mengasuh anak ini terbukti telah menimbulkan gangguan jiwa pada anak-anak seperti di Jawa Barat," ujarnya.

Yanti berpandangan, pemerintah daerah sebaiknya mengeluarkan kebijakan pembatasan penggunaan gawai di sekolah selaras dengan kebijakan yang dikeluarkan Kementerian PPPA.

"Perbanyak juga pembelajaran di luar sekolah," ujar Yanti.

Kalangan komunitas peduli kesejahteraan satwa mengecam program ini.

"Saya mengibaratkan program ini seperti candunya gadget dibayar dengan nyawa ayam," kecam Rinda Sirait, aktivis Profauna Indonesia.

"Siapa yang menangani anak ayam itu selama anak di sekolah. Pasti kan diserahkan lagi ke orang di rumah, orang tua atau pembantu. Jadi kalau bicara soal belajar tanggung jawab, ada periode anak itu harus menyerahkan tanggung jawabnya pada orang lain."

Jika merujuk pada undang-undang kesejahteraan hewan, Rinda mengatakan, ada aspek-aspek kesejahteraan hewan yang harus diperhatikan.

"Pertanyaannya, apakah itu sudah disiapkan?" sebut Rinda.